Selasa, 25 Maret 2014

ARTIKEL

Dimuat dalam majalah Ilmiah SALINGKA VOLUME 10 NOMOR 2 Edisi DESEMBER 2013 h 184-197

 PROBLEMA PERJODOHAN TOKOH WANITA 
DALAM NOVELET TAKBIR CINTA ZAHRANA 
KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY
Oleh: Abdurahman
FBS Universitas Negeri Padang
.
                                                 Abstrac
This article contains an analysis of the matchmaking problems faced Zahrana   figures in the novella "Takbir Cinta Zahrana" El Shirazy Habiburrahman  in 2007. By deskripstif method and  contents analisis we found that  Zahrana figures fail matchmaking due to underestimate or look down on other people's professions, without consideration, and too focused on academic careers. In addition, figures Zahrana reject the proposed candidate is not idiologis, prospective divorce and remarriage, a married candidate, the candidate can not read the Quran, and the candidate dies in an accident. Zahrana  matchmaking problems are problems that merealitas in life now. Therefore matchmaking problem in this novella  can be a comparison in building the reader insight matchmaking issues.
Key word: nonella, analisys, matchmaking

A.    Pendahuluan
Wanita sebagai salah satu kekuatan sosial mempunyai hak, tanggung jawab, dan berkewajiban yang sama dengan kekuatan sosial lainnya dalam rangka mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Sasaran pembangunan dalam kemerdekaan  tidak lain adalah untuk menciptakan keluarga dan masyarakat sejahtera yang diridai oleh Tuhan Yang Maha Esa (Subardini dkk, 200:3).  Dalam kerangka menciptakan keluarga atau bangsa yang berkualitas itu, wanita mempunyai hak yang sama dengan kaum lelaki sehingga tidak ada halangan bagi seorang wanita saat ini untuk mencapai karir akademiknya setinggi-tingginya seperti kaum laki-laki.
Dalam meniti karir akademik, wanita adakalanya menemui dilema ketidak-seimbangan antara kemajuan karir akademik dengan kemajuan karir membina rumah tangga. Bisa jadi seorang wanita hanya terfokus membina karir akademik dan sebaliknya, ada wanita kurang beruntung dalam karir akademiknya, boleh jadi mereka cuma tamat sekolah menengah atas saja atau lebih rendah lagi. Yang sangat beruntung tentu wanita yang maju dalam karir akademiknya, dapat meraih prestasi akademik tertinggi dan juga berhasil dalam membina karir rumah tangga, serta  bahagia dalam berumah tangga.
Wanita dalam kondisi yang kurang beruntung dalam membina rumah tangga dan sukses dalam karir akademik tidak terlepas dari persoalan, konflik, dan kekerasan (verbal) dalam kehidupan. Penyebab konflik dan persoalan yang menghinggapi wanita tidak hanya berasal dari rumah tangga tetapi dapat berasal dari akibat hubungan dengan lingkungan yang kompleks. Statusnya dalam rumah tangga dan kedudukan sosialnya dalam masyarakat dapat menimbulkan friksi-friksi psikologis yang menjurus pada konflik dan kegelisahan. Kontrakdiksi penghargaan masyarakat terhadap karirnya dengan kenyataan status rumah tangganya dapat menimbulkan hal yang menjurus pada pertentangan yang tidak menyamankan. Norma yang berlaku umum dengan norma individual seorang wanita dapat menghasilkan konflik batin yang ruwet untuk dinyatakan secara transparan. Sepertinya di mana pun akan selalu ada persoalan dan konflik yang terjadi dalam kehidupan wanita karir karena adanya ketidaksesuaian antara keinginan dengan harapan menurut diri atau menurut orang di sekitarnya.
      Sejalan dengan pikiran di atas Djojosuroto (2006:22) lebih jelas megatakan bahwa persoalan hidup manusia (wanita) yang tidak kalah rumitnya dengan persoalan diri sendiri adalah persoalan hubungan antara manusia lain dengan bermasyarakat dalam lingkungan sosial. Mencermati hal itu, kehadiran novelet “Takbir Cinta Zahrana” karya Habiburrahman El Shirazy seakan memotret bagaimana persoalan tersebut sepertinya karya sastra itu lahir dari persoalan perjohan wanita. Novelet itu  mencerminakan kehidupan yang tidak terlepas dari persoalan hidup tokoh  wanita. Kehadiran novelet itu mengajak pembaca untuk menyadari sepenuhnya bahwa kenyataan itu ada. Dengan kepiawaiannya pengarang menggambarkan dan menceritakan persoalan wanita yang lebih emosionalistik dibandingkan kenyataan yang sebenarnya sehingga apa yang ditawarkan karya sastra ini berupa masalah wanita dapat memancing tetesan air mata pembaca dibanding hanya melihat peristiwa itu terjadi dalam realitas sosial. 
      Tawaran karya sastra terhadap persoalan dan konflik wanita berupa gambaran problema perjodohan merupakan masalah individual dan sosial yang dapat dianalisis  karena hal itu diceritakan mulai dari fenomena perjodohan, penyebab fenomena, konflik, dan penyelesaian cerita yang solutif yang mengarahkan tokoh (Zahrana) menjadi wanita terhormat dan bahagia.
      Objek analisis artikel ini adalah novelet “Takbir Cinta Zahrana” karya Habiburrahman El Shirazy yang terkodifikasi dalam tajuk “Dalam Mihrab Cinta” yang diterbitkan tahun 2007, memuat persoalan tokoh wanita, Zahrana. Dalam tajuk “Dalam Mihrab Cinta, novelet Takbir Cinta Zahrana merupakan novelet yang ditempatkan paling awal bersamaan dengan novelet  “Dalam Mihrab Cinta” dan novelet “Mahkota Cinta”. Dalam analisis ini Takbir Cinta Zahrana dipilih karena lebih menonjolkan persoalan wanita, yaitu persoalan karir akademik dan karir rumah tangga. Persoalan perjodohan yang ideal menurut logika dengan realitas yang ditemui. Persoalan hidup dengan idealis yang harus dipertahankan serta suka-dukanya, serta keyakinan hidup yang menyelamatkan. Persoalan itu juga yang mengundang kegelisahan, kecemasan, tragedi, kesabaran,dan kebahagiaan. 
     Tokoh Zahrana sebagai seorang tokoh wanita gadis yang sukses membangun karir akademik tetapi mengalami suka duka dan malah sering kurang beruntung dalam membangun perjodohan untuk berumah tangga. Dalam sekapur sirih novelet pembangun jiwa itu pengarangnya, Shyrazy, mengatakan bahwa “Novelet Takbir Cinta Zahrana” merupakan cerita yang diangkat dari kisah nyata. Saya mencoba menulis tentang indahnya ketegaran dan ketulusan di jalan Allah. Saya  juga mencoba me-muhasabah-i (merenungkan) tindakan orang seperti Zahrana yang lebih mementingkan karir akademik daripada karir membangun rumah tangga dan membina generasi. Akademik dan karir bagi si apa pun, memang penting, tetapi membangun rumah tangga dan membina generasi juga tidak kalah pentingnya. Alangkah baiknya jika kedua-keduanya berjalan seiring dan seirama. Itulah yang yang saya harapkan dari “Takbir Cinta Zahrana” dengan menyajikan “kasus” Zahrana.
Dalam kepentingan membangun dua karir yang menjadi pilar kehidupan yang tidak seimbang itulah Zahrana mengalami persoalan duka lara, getir, dan sekaligus mengharukan. Persoalan perjodohan yang tidak sepi dari konflik batin dan konflik sosial dengan orang-orang di sekitarnya. Membaca cerita Zahrana serasa tidak bedanya dengan membaca realitas yang sebenarnya. Gambaran bagaimana pertentangan kehidupan akademik di kampus dengan keinginan kehidupan pribadi yang tidak pernah tersentuh oleh pengetahuan orang umum dan juga sistem pembinaan staf kampus. Persoalan seperti itu  adalah persoalan yang menarik untuk dibicarakan dan urgen untuk menghadapi masa depan wanita karir. Oleh karena itu, pembahasan terhadap novelet ini merupakan suatu yang penting dilakukan.
     Sebagai pemandu penelitian ini maka diajukan pertanyaan penelitian sebagai berikut. (a) Persoalan  apa saja yang dihadapi tokoh Zahrana sebagai tokoh wanita dalam novelet Takbir Cinta Zahrana? Berdasarkan pertanyaan penelitian di atas maka yang menjadi tujuan penelitian adalah mendeskripsikan dan mengungkapkan serta membahas persoalan tokoh wanita Zarana dalam novelet Takbir Cinta Zahrana.
      Hasil kajian terhadap persoalan dan pandangan tokoh terhadap tokoh wanita  dalam karya sastra atau novelet diharapkan dapat dijadikan bahan  masukan bagi wanita gadis khususnya dan umumnya semua lapisan masyarakat  dalam menyikapi berbagai persoalan hidup. Di samping itu, temuan ini juga diharapkan dapat membantu guru-guru sastra dalam menghayati kesusastraan  dan menjadikannya bahan bahasan dalam pengajaran sastra di sekolah.  Analisis ini juga dapat menjembatani pemahaman pembaca dengan karya sastra.
  Sebagai kerangka teoretis penulis membahas hakikat  novel, kajian wanita dalam sastra, pendekatan sosiologi sastra. Pertama, novel berasal dari bahasa Inggris yang kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia. Kata novel berasal dari bahsa Itali yaitu “novella” (dalam bahasa Jerman “novelle”). Secara harfiah novella berarti sebuah barang baru yang kecil, dan kemudian diartikan sebagai cerita pendek dalam bentuk prosa (Abrams dalam Nurgiyantoro,199:9). Sekarang istilah novella dan novelle mengandung arti yang sama dengan istilah novellet dalam bahasa Indonesia. Novellet berarti sebuah karya prosa fiksi yang cukup panjang artinya tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek.
     Menurut Nugiyantoro (199:31-32) novel merupakan sebuah struktur organisme yang kompleks, unik, dan mengungkapkan sesuatu secara tidak langsung. Novel sebagai salah satu produk sastra memegang peranan penting dalam memberikan kemungkinan-kemungkinan untuk menyikapi kehidupan manusia, misalnya dapat diambil beberapa pelajaran untuk memahami hakikat kehidupan. Novel tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia dalam masyarakat. Perkembangan masyarakat mempengaruhi perkembangan novel sebagai sebuah karya sastra. Novel juga merupakan wadah penyampaian ide-ide pengarang. Melalui novel pengarang menuangkan permasalahan kehidupan dengan bantuan imajinasi. Namun imajinasi tidak akan berkembang bila tidak mempunyai pengetahuan yang memadai tentang realitas objektif. Selanjutnya, Semi (1988:32) mengemukakan bahwa novel adalah suatu cerita yang mengungkapkan kehidupan manusia pada suatu saat yang tegang dan pemusatan kehidupan lebih tegas. Novel juga mengungkapkan aspek-aspek kemanusiaan dalam kehidupan.
        Pada hakikatnya karya sastra membicarakan tentang masalah manusia dan kemanusiaan, masalah hidup dan kehidupan. Menurut Semi (1984:55) ada  tiga unsur yang dapat dicermati yaitu; (1) kesusastraan mencerminkan sistem sosial yang ada dalam masyarakat, (2) kesusastraan mencerminkan sistem ide dan sistem nilai dan, (3) kesusasteraan mencerminkan bagaimana mutu peralatan kebudayaan. Jadi, novel adalah hasil rekaan atau imajinasi pengarang yang menggambarkan kehidupan manusia yang dituangkan dalam bentuk cerita dan bahasa sebagai mediumnya. Melalui novel pengarang mengangkat permasalahan yang ada dalam kehidupan,. Sehingga dapat memberikan manfaat untuk pembaca (Darma, 200).
Oleh karena itu, dalam mengisahkan realitas dibutuhkan keberanian, kepekaan, dan  keberpihakan pengarang terhadap pokok persoalan yang ditawarkan dalam cerita. Keberpihakan utuh yang didasari dan diperuntukkan oleh nurani dan kejujuran demi mempertahankan prinsip-prinsip kemanusiaan dan kebenaran realitas.  Dengan demikian, proses kreatif pengarang bukan hanya tertuju  pada kekuatan perekaan dan pengamatan semata, melainkan didukung pula dengan adanya persinggungan dengan konteks histories, psikologis, dan cultural yang mempengaruhi karya sastra tersebut. Oleh karena itu, aksi kemanusiaan dalam novel tidak dapat terlepas dari mempersoalkan eksistesi manusia dalam segala segmen kehidupan cerita yang disampaikan pengarangnya.
Kedua,  kajian wanita dalam karya sastra telah dilakukan melalui pendekatan yang disebut dengan feminisme. Paham feminisme dalam budaya Barat telah berkibar sejak 1960-an. Tujuan inti adalah meningkatkan kedudukan dan derajat wanita agar sama atau sederajat dengan kedudukan laki-laki. Perjuangan serta usaha feminisme untuk mencapai tujuan ini mencakup berbagai cara termasuk melalui sastra. Kritik kaum wanita  telah menjadi salah satu bidang utama pertumbuhan kritik sastra sehingga melahirkan karya seperti Thinking About Women oleh Mary Elman. Yang menjadi konsep utama pendekatan feminisme adalah masalah dimensi moral dan politik. Citra kritik feminisme terutama berkaitan dengan bagaimana karakter-karakter wanita diwakili dalam sastra, terutama dalam karya sastra yang ditulis oleh kaum pria. Josephin Donovan tokoh penting  dalam kritik feminisme berpendapat bahwa pririoritas utama adalah mengubah pandangan tokoh dan karakter wanita dalam sastra yang ditulis oleh kaum pria dilihat sebagai yang lain atau sebagai objek perhatian jika mereka melayani atau menyimpang dari tujuan protagonis laki-laki. Sastra seperti asing dari sudut pandang wanita karena ia menolak keberadaan dirinya.
     Ratna  (200) menyatakan bahwa feminisme sebagai gerakan kaum wanita menolak segala sesuatu yang dimarginalisasikan, disubordinasikan, dan direndahkan oleh kebudayaan dominan, baik dalam bidang politik, ekonomi, dan kehidupan sosial pada umumnya. Feminisme menggabung doktrin persamaan hak bagi wanita berupa gerakan teorganisasi untuk mencapai hak asasi wanita dan sebuah idiologi  transformasi sosial bertujuan untuk menciptakan dunia bagi wanita melampaui persamaan sosial yang sederhana. Secara umum feminisme merupakan idiologi pembebasan wanita dari anggapan bahwa wanita mengalami penderitaan dan ketidakadilan  karena jenis kelaminnya wanita.
           Dalam kajian sastra fokus pembicaraan yang menyangkut masalah eksistensi wanita dapat dilihat peranan tubuh wanita sebagai pembawa keturunan, pengalaman wanita, wacana, seksualitas, kondisi sosial dan ekonomi. Pada umumnya semua karya sastra yang menampilkan tokoh wanita dapat dikaji dengan  pendekatan feministic. Yang menjadi objek kajian pada tokoh wanita adalah peranan tokoh wanita, hubungan tokoh wanita dengan tokoh lain, perwatakan tokoh wanita, sikap pengarang, penampilan tokoh wanita.
        Ketiga, dalam pengaruh perubahan nilai-nilai yang timbul dan mengingat kehidupan masyarakat sangat kompleks, tidak dapat dipungkuri bahwa terdapat perbedaan pendapat tentang fungsi wanita yang tugas pokoknya sebagai ibu rumah tangga dengan pembagian tugas dalam melaksanakan pekerjaan, pengurusan rumah tangga dan pemeliharaan keluarga. Dalam hal ini  ditunjukkan berbagai hal yang dapat menimbulkan kontradiksi mengenai tugas pokok rumah tangga dengan pekerjaan di luar. Bertambahnya wanita karir, kesempatan meraih pengetahuan dan gelar kesarjanaan dan bertambah lebarnya kesempatan untuk membangun, dan dorongan ekonomi menjadikan hal tersebut semakin kentara. wanita masa kini tidak menginginkan persamaan hak saja tetapi mereka dalam segala hal berpacu dengan kaum laki-laki. wanita masa kini tidak hanya mempunyai monofungsi tetapi merupakan wanita yang multifungsi seperti kaum laki-laki (Notopuro, 1984).
        Penting artinya wanita sebagai pendamping laki-laki dalam keluarga dapat diwujudkan apabila wanita sebagai ibu dan laki-laki sebagai bapak berada dalam keseimbangan keselarasan dengan landasan pengertian, kesadaran, dan pengorbanan. Kedudukan wanita menjadi dua belahan, yaitu untuk anak dan suami. Oleh karena itu, untuk masuk pada fase ini seorang gadis harus selektif memilih pasangannya. Namun jika pencariannya  terlalu idealis maka masalah kurang cocok dan berbagai pertentangan akan mengemuka (Subardini, 200). Peran wanita juga terkait dengan kedudukannya. Khalil (198) mengemukakan kedudukan wanita itu ada tiga macam, yaitu wanita selaku putri, wanita selaku istri, dan wanita selaku ibu. Berdasarkan kedudukannya maka wanita mempunyai peran sama satu dengan lainnya dalam masing-masing kedudukan.
      Keempat, sosiologi pada umumnya membicarakan hubungan sosial antara manusia dengan keluarga, manusia dengan politik, dan lembaga-lembaga lainnya. Karya sastra seagai cerminan kehidupan masyarakat tidak terlepas dari hal itu. Oleh karena itu, dalam sosiologi sastra pembicaraan dimulai dari aspek sosial dalam karya sastra kemudian kemudian menghubungkan karya sastra dengan genre dan masyarakat (Junus, 1986).
      Sastra berusaha menampilkan keadaan masyarakat dengan secermat-cermatnya. Welek & Warren (1989) mengemukakan bahwa sastra dapat dikaji dari sudut sosial sejauh mana ia ditentukan oleh masyarakat dan tegantung pada latar sosial, perubahan sosial, dan perkembangan sosial. Cara yang ditempuh dalam menganalisis dapat dengan dua cara yaitu: pertama, mulai dari lingkungan (konteks) masyarakat lalu menghubungkan faktor-faktor luar itu dengan yang terdapat dalam karya sastra. Kedua, mulai dari karya sastra lalu menghubungkan dengan faktor-faktor kemasyarakatan.
        Penelitian ini termasuk jenis kualitatif dengan teknik analisis isi dan termasuk penelitian kepustakaan.  Sesuai dengan tujuan penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Temuan masalah tokoh wanita dalam paparan ini didukung dengan kutipan teks cerita untuk meyakinkan kebenaran pernyataan  yang dimaksudkan. Sumber data adalah novelet Takbir Cinta Zahrana  dalam tajuk Dalam Mihrab Cinta halaman 13-83, karya Habiburrahman El Shirazy, cetakan ke-1 Juni  2007 yang diterbitkan oleh Penerbit Republika. Langkah-langkah analisis data melalui langkah-langkah sebagai berikut: 1) membaca novelet, 2) menganalisis bagian yang terkait dengan persoalan wanita atau tokoh Zahrana, 3) menginterpretasi, 4) menarik kesimpulan.
B.     Hasil Penelitian
1.   Masalah Tokoh Wanita (Zahrana) dalam Novelet Takbir Cinta Zahrana
      Pada bagian ini dibahas masalah tokoh Zahrana sebagai tokoh wanita. Untuk itu, akan dibicarakan kedudukan tokoh Zahrana, masalah yang dihadapi dan penyebabnya, dan pandangan tokoh lain terhadap Zahrana dalam novel Takbir Cinta Zahrana berdasarkan alur cerita.
a.      Kedudukan dan Persoalan Tokoh Zahrana
      Tokoh Zahrana adalah seorang gadis, anak tunggal  dari Pak Munajat dan istrinya. Dalam rumah tangga kedudukan Zahrana adalah sebagai wanita putri. Oleh karena itu, perannya sebagai putri ditunjukkan dalam berbagai peristiwa. Sikap itu juga ditunjukkannya ketika dilamar Pak Karman, ia nampak sebagai  seorang yang teguh, cekatan, rendah hati, dan santun. Berikut kutipannya:
“Ia meneguhkan jiwa, menata hati, ia memprediksi gaya bahasa yang akan di sampaikan Pak Karman dan menyiapkan gaya bahasa yang tepat untuk menjawab. Ia juga tidak lupa menyiapkan hidangan yang pantas untuk menghormati tamu. Ruang tamu telah ia rapikan. Bunga-bunga ia tata, dan sarung bantal ia ganti dengan yang baru. … Dan ia kembali meneguhkan prinsipnya dalam menghadapi siapa pun; harus tenang, bicara yang tepat, rendah hati, dan santun.” (TCZ:19).

      Keteguhan jiwanya terganggu jika mengingat umurnya yang sudah tiga puluh empat. Seharusnya, dalam usia demikian Zahrana dalam keluarga sudah berkedudukan sebagai wanita istri namun hal itu belum jua terwujud. Dalam keadaan seperti itu Zahrana sudah tidak bisa lagi menerima kedudukannya sebagai putri dan harapannya menjadi istri belum jelas titik terangnya. Hal itu, menyebabkan persoalan rumit bagi Zahrana dan membuat dia menderita terutama secara batin.
 “Umurnya sudah tidak muda lagi. Tiga puluh empat tahun. …Sudah tidak terhitung ia menghadiri pernikahan mahasiswinya. Dan ia selalu hanya bisa menangis iri menyaksikan mereka berhasil menyempurnakan separo agamanya* (TCZ:16).
     
      Dalam realitas kehidupan bermasyarakat kedudukan sebagai putri dengan umur yang lewat tiga puluh tahun memang menjadi beban mental yang berat. Bagi seorang wanita usia sedemikian memang terasa sudah terlambat untuk berumah tangga mengingat usia yang baik untuk melahirkan, keadaan subur wanita, serta perubahan fisik. Karena itu status itu tidak menyenangkan bagi  wanita itu sendiri dan juga bagi keluarga, dan dapat  menjadi bahan pembicaraan bagi mulut-mulut usil yang tidak bertanggung jawab. Di sisi lain, ada perasaan yang kurang daripada orang lain sesama wanita, merasa tidak laku, atau lebih beratnya  merasa rendah diri. Memang Zahrana berhasil dalam membina karir akademik tetapi kelalaian membina karir rumah tangga juga menjadi masalah yang sangat serius. Jika pun terjadi wanita terlambat kawin masih menunjukkan keluwesannya dalam bermasyarakat tentu perasaan sedihnya dia simpan jauh dalam hati dan akan dilampiaskan dengan menangis jika ia sedang seorang diri dengan pertanyaan kapan ini akan berakhir.
      Di sisi lain kedudukan perkawinan menurut keyakinan Zahrana adalah menyempurnakan separuh agama. Bila perkawinan telah dilakukan maka nilai ibadah yang ia lakukan menjadi utuh tidak lagi bernilai setengah. Siapa orang yang tidak harap dan mencita-citakan hal itu? Apalagi Zahrana, ia tahu betul dengan keyakinan itu. Bagi Zahrana yang beriman, itulah yang dimunajatkannya kepada Tuhan Yang Mahakuasa seperti kutipan berikut.
    “Hanya ia yang tahu bahwa  sejatinya ia sangat menderita. Ada satu hal yang ia tangisi setiap malam. Setiap kali bermunajat kepada Sang Pencipta siang dan malam. Ia menangisi takdirnya yang belum juga berubah. Takdir sebagai perawan tua yang juga belum menemukan jodohnya. Dalam keseharian ia tampak biasa dan ceria. Ia bisa menyembunyikan derita dan sedihnya dengan sikap tenangnya” (TCZ:14).
Dalam novel Takbir Cinta Zahrana (TCZ) kisah tokoh Zahrana dimulai ketika ia telah berkedudukan secara sosial berprofesi sebagai dosen dengan prestasi yang membanggakan di perguruan tinggi swasta terkenal di Semarang. Di saat itulah  Zahrana mendapat merasakan persoalan jodoh itu menjadi masalah dalam hidupnya. Ada tiga hal menyadarkannya akan masalah ini, yaitu saat umurnya tidak muda lagi, yaitu telah tiga puluh empat tahun; ketika ia melihat teman-teman seusianya telah memiliki anak dua, tiga, empat; dan ketika mahasiswi yang ia bimbing skripsinya sudah banyak yang menikah.  
       Berdasarkan analisis di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kedudukan Zahrana sebagai tokoh wanita adalah sebagai wanita putri namun kedudukan itu sudah tidak diingininya lagi mengingat umurnya yang lebih tiga puluh  tahun. Dengan kondisi sukses karir akademik Zahrana juga mengalami keguncangan jiwa dalam menghadapi status memperjuangkan karir rumah tangganya.

b.      Masalah Perjodohan Zahrana Masa Lampau di S-1
         Untuk membeberkan masalah perjodohan sebelumnya pengarang menyampaikan dengan alur sorot balik. Pengarang menceritakan penyesalan Zahrana terhadap masa lalunya ketika di S1 dulu, yang tidak mau menerima lamaran orang yang menyukainya. Dalam novel TCZ dilukiskan kegagalan Zahrana dan penyebabnya. Di antaranya adalah:  1) Ia gagal menikah dengan Gugun yang mati-matian mencitainya sejak awal kuliah karena ia meremehkan Gugun yang waktu itu menurut dia tidak cerdas dan tipe lelaki kerdil. Sekarang Gugun sudah sukses dalam beberapa usaha dan sudah punya anak (TCZ:14). 2) Ia gagal menikah dengan kakak Yuyun temannya yang berprofesi jualan pakaian di Pasar Bringharjo Jogja. Ia menilai lelaki dengan profesi itu tidak cocok dengan dirinya. Sekarang kakak Yuyun telah sukses, tokonya besar dan mendirikan sekolah pula (TCZ:15).  3) Sudah banyak orang  yang melamarnya tetapi ia tolak dengan tanpa pertimbangan. Dan sekarang ia menyadari bahwa ia harus rendah hati, bahwa karir akademik bukanlah segalanya, bahwa hidup berproses, dan bahwa ia tidak nyaman hidup sendiri dan harus mencari lelaki yang baik sebagai suami dan bapak anak-anaknya. Berikut kutipan yang mendukung hal itu.
“Terkadang ia menyalahkan dirinya sendiri, kenapa tidak menikah sejak masih S1 dahulu? Kenapa tidak berani menikah dengan Gugun yang mati-matian mencintainya…Ia dulu memandang remeh Gugun …. Sekarang Gugun sudah sukses (TCZ:14).
“…Yuyun dulu menawarkan kakaknya yang telah membuka kios pakaian ….Ia masih memandang rendah pekerjaan jualan pakaian dalam. Sekarang  kakak Yuyun telah punya toko pakaian dan sepatu yang lumayan besar di Jogja.”(TCZ:15)
“Dulu banyak yang datang kepadanya ia tolak tampa pertimbangan.”(TCZ:15)

      Dari analisis di atas dapat disimpulkan bahwa kegagalan perjodohan Zahrana masa lalu adalah karena menganggap remeh orang lain, menganggap rendah  profesi orang lain, tanpa pertimbangan dan hanya terfokus pada karir akademik. Kegagalan perjodohan seperti ini banyak ditemui dalam kasus yang sebenarnya dalam realitas objektif.

c.       Masalah Perjodohan Zahrana Setelah Bekerja
     Untuk melukiskan perjodohan selanjut pengarang menggunakan alur lurus dengan demikian persoalan Zahrana dengan mudah dapat diungkapkan. Ada beberapa perjodohan yang dialami oleh tokoh Zahrana yang mempunyai kisah yang penuh mengharukan.
1)      Pinangan Pak Karman
     Pak Karman  adalah dekan di fakultas di mana Zahrana mengajar dengan titel haji, master luar negeri, dan pengusaha pom bensin. Ia dipertemukan dengan Pak Karman melalui bantuan Bu Merlin, pembantu dekan I, orang kepercayaan Pak Karman yang juga memberi informasi kerja kepada Zahrana waktu melamar menjadi dosen. Mengingat kedudukan dan status Pak Karman, Zahrana dapat menerimanya namun ada yang ia tidak suka dengan sifat Pak Karman, yaitu suka mengencani mahasiswi diam-diam di kampus.
“Hari ini ia kembali di uji. Seorang akan datang untuk meminangnya. Ia masih bimbang harus memutuskan apa nanti.  … Kali ini yang datang bukan orang sembarangan. Pak H. Sukarman, M.Sc. Dekan Fakultas Teknik tempat dia mengajar” (TCZ:17).
            “ Namun jika ia teringat apa yang dilakukan Pak Karman pada beberapa mahasiswi yang dikencani diam-diam, ia tak mungkin memaafkan (TCZ:18).

      Karena merasa hormat dengan Bu Merlin, Zahrana tetap menerima kedatangan rombongan lamaran Pak Karman. Pak Darmanto jubir Pak Karman menyampaikan maksud kedatangan rombongan, yaitu lamaran terhadap Zahrana. Yang menjawab ayah Zahrana tetapi ia tidak memberi peluang dan menyerahkan jawaban pada anaknya. Zahrana menjawab bahwa perkerjaan tergesa-tega adalah dari setan karena itu ia minta janji tiga hari dan ia sendiri akan memberikan jawaban kepada Pak Karman. Akhirnya Zahrana memutuskan  menolak pinangan Pak Karman dengan sepucuk surat. Inilah isi surat Zahrana.
     To the point saja, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Bapak, saya ingin menyampaikan bahwa saya belum bisa menerima pinangan Bapak. Semoga Bapak mendapatkan yang lebih baik dari saya. Mohon maklum dan maaf jika tidak berkenan.

Pak Karman kecewa dan marah, kemarahannya ia lampiaskan dengan meneror Zahrana melalui SMS.  Berikut bunyi SMS-nya.
“Apa khabar perawan Tua? Kelapa itu semakin tua semakin banyak santannya. Banggalah jadi perawan tua.”

      Ujung dari pinangan Pak Karman, Zahrana  meninggalkan kampus dengan mengundurkan diri dan mencari pekerjaan baru demi menghindari konflik dengan Pak Karman. Hal itu juga sesuai dengan saran Bu Merlin yang walaupun kecewa dengan Zahrana tetapi bersikap baik padanya. Peristiwa berhentinya Zahrana menjadi dosen juga mendapat perhatian dari kolega dan mahasiswanya terutama Pak Didik, Nina dan Hasan yang mengurusi surat-surat dan barang-barangnya. Mengetahui pengunduran diri Zahrana, Pak Karman makin marah. Cerita berikutnya tokoh Zahrana melamar jadi guru Pesantren Al Fatah. Di sana ia berharap bisa menemukan jodohnya.

2) Tawaran/Pinangan Pak Didik
            Pak Didik adalah rekan kerja Zahrana  di kampus teknik. Ia mengetahui Pak Didik menyukainya melalui email waktu itu sedang memeriksa tugas siswanya di komputer. Pak Didik menawarkan kepada Zahrana menjadi istri kedua. Berikut ini kutipan email Pak Didik.
“… Maaf to the point saja Bu. Saya menawarkan kepada ibu, sekali lagi maaf jika dianggap lancang, untuk menjadi istri kedua saya. Saya  yakin istri saya bisa menerimanya nanti” (TCZ:38).
     
      Menerima email Pak Didik tubuh Zahrana bergetar, matanya berkaca-kaca. Ia tahu apa yang ia rasakan. Yang jelas bukan bahagia. Ia merasa betapa tidak mudah menjadi gadis yang terlambat menikah. Dan betapa susah menjadi wanita (TCZ:39). Zahrana tidak mengubris tawaran Pak Didik. Ia menilai ia tidak tega akan perasaan istri Pak Didik, perasaan orang tuanya, dan sejujurnya ia tidak siap mejadi istri kedua (TCZ:40).
3)      Calon dari Teman Ayah Zahrana
      Sudah enam bulan Zahrana mengajar di STM Al Fatah ia belum juga mendapatkan jodohnya. Setelah tawaran Pak Didik sudah ada dua orang yang maju.  Yang  pertama, dibawa oleh teman ayahnya. Seorang satpam di sebuah bank BUMN. Zahrana tidak lagi melihat status. “Hanya saja ia tidak sreg karena satpam itu tidak bisa membaca Al-Quran sama sekali. Ia membayangkan bagaimana anaknya kelak jika ayahnya buta Al-Quran. Alangkah beratnya mengajar suami mengaji dan salat. Akhir ia memilih untuk menunggu yang lain (TCZ: 42).
4) Calon dari Teman Zahrana
            Orang yang kedua, yang maju melamarnya dibawa oleh temannya sendiri, Wati. Seorang pemilik bengkel sepeda motor. Duda beranak tiga. Ia sudah kawin cerai tiga kali dalam waktu tiga tahun. Tiga anaknya adalah hasil kawin cerainya dengan tiga wanita yang berbeda. Ia tidak mau jadi korban yang keempat. Akhirnya ia tolak juga pemilik bengkel itu (TCZ:42).

5) Calon dari Bu Nyai Pengasuh Pesantren
Calon yang melamar sudah silih berganti tetapi belum ada yang cocok dengan keinginannya. Kali ini ia sowan ketempat Bu Nyai dan Pak Kiai. Bu Nyai menawarkan santrinya bernama Rahmad.
 “Pendidikannya tidak tinggi. Ia hanya tamat Madrasah Aliyah. Tidak kuliah. Baik akhlak dan ibadahnya. Tanggung jawabnya bisa diandalkan. Ia dari keluarga pas-pasan. Anak kedua dari tujuh bersaudara. Pekerjaannya sekarang jualan kerupuk keliling. Dia duda tanpa anak dengan umur 29 tahun. Istrinya meninggal satu tahun yang lalu karena demam berdarah (TCZ:46). Menilai calonnya kali ini Zahrana agak bimbang. Ia sudah mengatakan pada Bu Nyai kalau ia mencari yang beragama saja tanpa melihat status sosial. Tapi mendengar penuturan Bu Nyai tentang kondisi Rahmad ia jadi gamang. Setelah melalui salat istikharah dan pertimbangan dari orang tuanya serta teman-temannya ia akhirnya menerima tawaran Bu Nyai.  Setelah Zahrana setuju berita itu disampaikan pada Rahmad oleh Bu Nyai dan Pak Kiai.  Kali ini Rahmad yang merasa minder dengan Zahrana. Tapi Pak Kiai berhasil meyakinkan Rahmad bahwa Zahrana itu baik hati, beragama, beriman, dan salehah. Akhirnya, Rahmad juga menyatakan cocok (TCZ: 56).
  Akad nikah dijadwalkan dua minggu lagi. Zahrana sibuk membeli gaun pengantin dan membuat undangan. Ia mengundang seluruh teman-temannya kecuali Pak Karman orang yang memusuhinya. Mengetahui hal itu, Pak Karman marah dan geram. “Jangan sebut aku ini Karman jika tidak bisa memberi pelajaran pahit pada wanita tengik itu. Geramnya sambil mukul meja di ruang kerjanya”(TCZ:58).
     
     Sehari sebelum hari H, persiapan pesta Zahrana dengan Rahmad nyaris sempurna. Malam itu Zahrana tidur nyenyak. Tapi lain halnya dengan Rahmad ia ke luar rumah, katanya ia dapat telepon untuk bertemu teman lama dan juga mau membeli topi baru. Namun, sedihnya sampai tengah malam Rahmad belum pulang. Kekhawatiran keluarganya tidak meleset, Rahmad dilaporkan polisi meninggal ditabrak kereta api. Menilai kenyataan ini Zahrana jatuh pingsan berkali-kali dan ia trauma. Lina temannya membawa ke rumah sakit. “Lebih baik aku mati Lin. Aku nyaris tidak kuat!”(TCZ:64).
      Derita Zahrana ternyata tidak cukup sampai di situ. Tanpa sepengetahuannya, Pak Munajat, ayahnya, yang memang telah renta tidak kuat menahan tekanan batin, dia terkena serangan jantung dan meninggal menyusul calon menantunya (TCZ:68). Ketika itu teman-teman pada datang mengucapkan belasungkawa. Zahrana kaget ketika Pak Karman juga datang. Di hadapan Zahrana, Pak Karman berkata pelan sekali, “Saya ikut berduka. Semoga almarhum berdua diterima di sisi-Nya. Saya berharap semoga gaun pengantinmu benar-benar kau kembalikan ke Solo” (TCZ:68).  Zahrana tersentak dan ia curiga kalau kematian calon suaminya ada hubungannya dengan ancaman Pak Karman.
d.      Solusi Problema, Diterimanya Lamaran Ibu Hasan
      Setelah menghadapi masalah berduka kini  Zahrana lebih bertekad mendekatkan  diri kepada Allah. Ia teringat ucapan Bu Nyai “Kita semua milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Kita semua tunduk pada takdir-Nya. Yang paling berkuasa di atas segalanya adalah Allah Swt.”(TCZ:73). Sejak itu Zahrana nyaris tidak pernah meninggalkan salat malam. Ia labuhkan segala keluh kesahnya kepada Yang Maha Menciptakan. Ia pasrahkan dirinya secara total kepada Allah. Dalam keheningan malam ia berdoa,
“Ya Rabbi, ikhtiar sudah hamba lakukan, sekarang kepada-Mu hamba kembalikan semua urusan. Ya Rabbi, aku berlindung kepada-Mu dari semua jenis kejahatan yang terjadi di atas muka bumi ini. Ya Rabbi, aku mohon kepada-Mu segala kebaikan yang Engkau ketahui. Dan berlindung kepada-Mu dari segala hal buruk yang Engkau ketahui” (TCZ:73).
      Bulan Ramadhan datang. Zahrana semakin menikmati ibadahnya. Bulan itu ia mendengar kematian Pak Karman ditusuk mahasiswanya yang pacarnya dicabuli Pak Karman di ruang kerjanya. Ia lalu bertakbir dalam hati karena musuhnya sudah dibinasakan Tuhan. Dan kini ia bersemangat kembali menempuh hidupnya.  Suatu sore setelah salat Ashar ia ke warung membeli bahan  membuat kolak untuk buka puasa. Tiba-tiba ada mobil sedan berhenti di depan rumahnya. Rupanya yang datang ibunya Hasan eks mahasiswanya, dokter Zulaikha yang pernah merawatnya di rumah sakit waktu pingsan dulu.         Setelah bicara, bu Zul menyampaikan pada Zahrana bahwa dua hari yang lalu anaknya Hasan minta nikah dan ia minta pertimbangan pada Zahrana. Zahrana mengerutkan dahi lalu ia berkata, .“Kalau menurut saya pribadi tidak ada salahnya Hasan menikah baru ke Malaysia. .. . Toh Malaysia-Indonesia itu dekat. Sekarang tiket pesawat juga murah”(TCZ:77).
“Apa menurut ibu, Hasan sudah layak menikah?... Menurut saya Hasan sudah layak menikah…ia bisa diandalkan tanggung jawab dan kepemimpinannya”. Semoga saja saya kenal dengan calon Hasan itu. Apa ia kuliah di fakultas teknik? Bukan Bu, Saya langsung saja ya Bu. Maaf sebelumnya, Hasan meminta kepada saya untuk melamar Bu Zahrana. (TCZ:78).
                             
      Zahrana kaget, dia tidak percaya. Ia kuatir jika Bu Zul membuat perhitungan dengannya. Tapi Bu Zul meyakinnya. Akhirnya ia tidak bisa berkata apa pun, semua sudah jelas disampaikan Bu Zul. Dalam menerima tawaran Bu Zul ia mengajukan satu syarat, yaitu nikah malam itu juga setelah selesai salat tarwih di masjid dekat rumahnya. Begini katanya, “Tidak. Ibu kan sudah tahu cerita saya selama ini. Apa ibu ingin saya mati kaku gara-gara saya tidak jadi nikah lagi. Saya tidak ragu dengan keseriusan ini. … Bagi saya lebih ya nanti malam, atau tidak sama sekali.”
      Pada malam kedua di Bulan Suci Ramadhan itu, apa yang diharapkan Zahrana terjadi. Akad nikah setelah salat tarwih disaksikan oleh jamaah yang membludak. Mereka turut terharu dan menangis tersedu-sedu. Malam itu, Zahrana sangat bahagia sama halnya dengan Hasan. Usai nikah Hasan mengajak Zahrana naik mobilnya menuju hotel termewah di kota Semarang. Di hotel dengan penuh kekhusukan Zahrana menunaikan ibadahnya sebagai seorang istri. Kebahagiaan Zahrana di malam itu menghapus semua deritanya yang dialaminya. Malam itu benar-benar malam kesaksian Zahrana atas Tasbih, Tahmid, dan Takbir Cinta yang didendangkan Allah ‘Azza wa Jalla kepadanya (TCZ:83-84).
      Dari uraian di atas dapat diketahui kegagalan perjodohan tokoh Zahrana, yaitu tidak mau menerima orang tidak bermoral, tidak mau menjadi istri kedua, tidak mau menerima orang tidak bisa baca Al-Quran, tidak mau menjadi korban lelaki yang kawin-cerai. Kegagalan kawin dengan Rahmad memang sudah takdir Tuhan. Rahmad meninggal sehari sebelum menikah dengan Zahrana.
      Zahrana akhirnya dapat menikah dengan situasi yang tidak diduga-duga selama ini. Ternyata Hasan, mahasiswa bimbingan itu sangat mengaguminya. Dan ia juga dapat bersilaturahmi dengan ibu Hasan dalam hal yang tidak terduga, yaitu ketika sakit pingsan atas kematian Rahmad. Dan kedatangan pinangan Bu Zul pada Zahrana suatu yang tidak diduganya. Inilah jodoh dikejar tak tertangkap, tak dikejar datang sendiri. Semuanya Tuhan Yang Menciptakanlah yang mengaturnya.

C. Interpretasi Persoalan Perjodohan Zahrana
      Masalah perjodohan yang ditampilkan pengarang dalam TCZ ini merupakan persoalan yang dapat dijumpai dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu, masalah ini tidak hanya lagi masalah individu tetapi sudah merupakan masalah sosial yang perlu dicarikan solusinya.  Dalam kehidupan bermasyarakat terlambat menikah menjadi suatu yang tabu tetapi terlalu dini juga merupakan hal yang sering ditentang.  Masalah perjodohan memang suatu yang susah-susah gampang pada zaman di mana pendidikan sudah tinggi. Ada yang mudah dan ada yang sulit seperti Zahrana. Beruntung orang-orang dahulu mereka tidak terlalu memilih dan pilihannya hanya dipercayakan pada orang tua dan mereka dijodohkan saja. Tapi hal itu bagi kalangan yang sudah mengecap pendidikan  tidak terterima, seperti Hanafi yang dijodohkan orang tuanya dalam “Salah Asuhan”. Orang berpendidikan cenderung mencari dan memilih jodoh sendiri.
      Dalam pertimbangan mencari jodoh itu ada gejala memilih yang sangat selektif di antara individu berpendidikan. Seperti kisah Zahrana pada masa S1 pada usia masih muda banyak yang suka dengan dia tapi ia menolaknya dengan pertimbangan yang  ideal seperti kaya, cerdas, berprofesi menjanjikan. Akhirnya, dengan pertimbangan itu tidak seorang pun yang masuk kriterianya  dan ia gagal kawin muda. Kemudian alasannya tentu ia harus fokus pada karir akademik. Padahal tidak sedikit orang yang menikah masih kuliah dan karir akedemiknya juga berhasil.
      Dalam cerita ini perjodohan dalam usia terlambat digambar lebih bermasalah dibanding menikah di usia muda. Dengan kondisi umur tiga puluh empat tahun yang banyak menawar Zahrana tidak lagi yang seumur. Zahrana banyak ditawar duda seperti Karman dan Satpan, tukang bengkel, dan Rahmad. Dan kebanyak dari mereka adalah orang-orang sudah bermasalah dalam berkeluarga.  Jodoh harus dipilih dan kalau seandainya Zahrana masih saja memilih maka ia tidak dapat jodoh.
      Dalam novel ini nampaknya pengarang memberikan solusi yang dalam masyarakat tidak banyak ditemui, yaitu kawin dengan suami usia lebih muda. Hasan berjodoh dengan Zahrana padahal Hasan adalah mahasiswanya. Pengarang di sini memberikan  pencerahan untuk penyelesaian bahwa yang penting seide dan sekeyakinan. Masalah umur berbeda lima tahun itu bukanlah suatu penghalang. Dalam cerita ini, pengarang mengarahkan bahwa yang mengejar Zahrana adalah Hasan, yaitu lelaki yang lebih muda.  Semuanya itu terjadi karena ia kembali kepada Allah swt. dan meminta dengan beribadah kepada-Nya.
      Persoalan perjodohan Zahrana memberikan pelajaran kepada pembaca untuk memikirkan masalah perjodohan dengan sebaik-baiknya. Tidak asal jodoh tetapi dengan keriteria yang logis dan kalau dapat berjodohlah dimasa umur idealnya. Berjodoh dalam usia yang terlambat membuat  beban batin yang berat pada diri sendiri, orang tua, teman-teman, dan malah kolega. Di samping itu, resiko yang tak terduga makin berat seperti meninggalnya orang tua, masa usia subur yang terbatas, dan kemauan pria pada gadis usia muda. Semuanya akan menumpuk masalah pribadi.      
       Pandangan tokoh lain terhadap Zahrana seperti  disimpulkan di atas bahwa semua tokoh pada umumnya mengagumi kepribadian Zahrana dengan karir akademiknya. Hanya saja dasar kekaguman yang berbeda. Ada yang humanis seperti Bu Merlin dan Bu Zul, ada yang hedonis dan emosional seperti Pak Karman. Ada yang agamis seperti Bu Nyai dan Pak Kiai, serta ada yang logis seperti ayah dan ibu Zahrana, serta Hasan. Tokoh dengan pandangan minder terhadap istri berprofesi hanya dimiliki tokoh Rahmad. Ada pandangan yang egois seperti tokoh Pak Didik.
        Pandangan tokoh Pak Karman dalam novel ini dipertanyakan. Apakah memang sejauh itu buruknya moral seorang pemimpin fakultas dalam menghadapi seorang perawan tua yang menolak lamarannya. Keadaan ini bisa dipandang sebagai suatu yang bisa diterima dan bisa juga suatu yang tidak masuk akal. Tetapi dengan kenyataan sekarang, dengan banyak kejahatan yang dilakukan oleh orang berdasi, cerita ini jadi realistis. Memang begitulah kenyataan yang banyak diketahui dari mass media. Kejahatan banyak dilakukan oleh para pejabat yang tidak berhati nurani. Dengan demikian, kekerasan pada wanita akan banyak dilakukan oleh orang seperti tokoh Karman.
       Selain Karman semua tokoh lain yang ada dalam cerita pada umumnya ingin membantu Zahrana. Hanya saja sudut pandang berbeda menghasilkan tindakan yang berbeda. Oleh karena itu, kondisi perawan tua sudah seharusnya dihindari baik bagi wanita muda atau para orang tua yang memiliki anak gadis. Orang tua hendaknya berperan dalam masalah jodoh anaknya tidak hanya membiarkan walaupun anaknya itu sudah tinggi pendidikannya, minimal mengingatkan mereka.

D. Penutup
            Berdasarkan analisis dan interpretasi yang sudah dilakukan pada bagian sebelumnya  maka diajukan kesimpulan dan saran sebagai berikut. 1) Persoalan tokoh wanita Zahrana adalah persoalan perjodohan dalam usia yang sudah terlambat dalam kondisi karir akademik yang gemilang. Persoalan ini menimbulkan kekecewaan Zahrana terutama pada beberapa  perjodohan di masa S1 yang gagal  karena salahnya sendiri. Zahrana gagal menikah di usia muda karena menganggap enteng orang lain, mengutakan karir, dan tanpa pertimbangan. Perjodohan pada usia terlambat memberikan pengalaman hidup yang lebih berat pada Zahrana dengan terjadinya konflik dengan atasannya, putus kerja, dan diteror. Di sisi lain ada orang menawarkan jodoh padanya tetapi tidak sesuai dengan harapannya dan membuat orang tuanya kecewa.   Persoalan yang paling miris adalah mati calon suami sehari sebelum pernikahan. Namun, demikian setiap orang ada  jodohnya dan jangan putus asa pada kuasa Yang Maha Pencipta. Zahrana menikah dengan bekas mahasiswanya yang sekeyakinan dengan bahagia. 2) Pembinaan karir akademik sebaiknya sejalan dengan pembinaan karir berumah tangga karena karir rumah tangga tidak kalah pentingnya dengan karir akademik. Karir rumah tangga merupakan suatu yang kodrati seperti menjadi ibu dan istri dalam menciptakan bangsa yang berkualitas. 3)  Perhatian dan usaha yang nyata mesti diberikan kepada orang terlambat menikah dengan mencarikan jodohnya. Terutama kepada kedua orang tua dan keluarga  sebab walaupun terkadang anak-anak sukses dalam karir tetapi ia kesulitan dalam perjodohan.
Disarankan, analisis karya sastra terutama novel merupakan analisis terhadap kenyataan fiktif yang dalam cerita yang telah dipadu dengan imajinasi. Namun demikian, di dalam novel masih ada pesan-pesan yang konkrit yang bisa ditemui dalam realitas kehidupan berdasarkan tuturan pengarangnya. Oleh karena itu, persoalan perjodohan dalam novelet Takbir Cinta Zahrana ini dapat menjadi perbandingan dalam membangun pemikiran pribadi pembaca. Akan lebih baik jika hasil pembahasan ini juga dijadikan sebagai bahan diskusi di sekolah oleh guru-guru sastra sehingga persoalan sastra adalah persolan yang berguna dalam kehidupan nyata sebagai media didaktik.

Bio Data                                                                                                      
Abdurahman.  Lahir di Batipuh Baruh, 23 April 1965. Dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia  FBSS UNP Padang. 









1 komentar:

Unknown mengatakan...

Izin promosi admin
Butuh jasa fotocopy
Silahkan kunjungi kami
https://boomfotocopy.wordpress.com/
Terimakasih admin
Semoga terus berjaya.amin