Selasa, 14 Januari 2014

MANAJEMEN dan LEADERSHIP RASULULLAH


Senin, 11 Rabiulawal 1435 / 13 Januari 2014

MANAJEMEN dan LEADERSHIP RASULULLAH
Refleksi atas Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam 1435 Hijriah
Oleh: Ustadz Fathuddin Ja’far
Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok pribadi yang paripurna sehingga menjadi teladan utama terbaik bagi umat manusia, khususnya umat Islam dalam menjalankan kehidupan di dunia untuk meraih kebahagiaan kehodupan akhirat. Keteladanan tersebut bukan hanya dalam sisi tertentu atau beberapa sisi kehidupan, melainkan dalam semua sisi dan lingkup kehidupan; sisi intelektualitas, spiritualitas (keimanan), akhlak, fisik, kesehatan, mentalitas, manajemen, strategi, perencanaan, kemasyarakatan, kenegaraan, negosiasi, kesabaran, leadership (kepemimpinan) dan seterusnya.
Semua sisi tersebut dapat direalisasikan secara sempurna oleh Rasulullah dalam lingkup individu, rumah tangga, masyarakat dan bahkan dalam sebuah negara dan pemerintahan moderen pertama di dunia. Yang lebih mengagumkan lagi ialah pesona kepribadian Muhammad  shallallahu ‘alaihi wasallam yang sempurna itu bukan hanya dirasakan semasa Beliau masih hidup, akan tetapi memancar cahaya dan pengaruhnya setelah Beliau wafat dan sampai akhir zaman dan menjadi keharusan bagi umat Islam untuk meneladaninya. Tidak akan ada lagi manusia teladan terbaik di dunia ini setelah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sampai dunia ini Allah hancurkan (kiamat). Allah menjelaskan: “Sungguh ada dalam diri Rasulullah keteladanan yang terbaik bagi kalian, yakni bagi orang yang mengharapkan pertemuan dengan Allah dan hari akhir dan berzikir dengan banyak“ (Al-Ahzab : 21).
Seperti yang sudah disinggung sebelumya, manajemen dan leadership Rasulullah adalah bagian hidup yang sangat menarik dan sangat istimewa. Melihat kondisi umat islam yang sedang terpuruk dalam semua sisi kehidupan saat ini, maka sisi mamanjemen dan leadership ini salah satu yang paling dibutuhkan umat Islam. Karena dengan memahami dan menerapkan manajemendan leadership Rasulullah dalam semua lini kehidupan, insya Allah kehidupan kita akan mengalami peningkatan dan perubahan ke arah yang benar seperti yang dialami generasi Sahabat, Tabi’in, Tabi’ittabi’in dan seterusnya.
Untuk membuktikan beatapa dahsyat dan efektifnya manajemen dan leadership Rasulullah dapat kita saksikan pada perubahan besar-besaran yang terjadi dalam bangsa dan negeri-negeri Arab setelah mereka dipimpin Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Bangsa Arab sebelum dipimpin Rasulullah adalah bangsa pengekor, terdiri dari beberapa kabilah (susku) yang saling berperang di antara mereka, tunduk kepada kekuatan kerajaan Persia dan kerajaan Romawi, kekacauan terjadi dalam semua lini kehidupan; sejak dari kehidupan pribadi, rumah tangga, masyarakat, akhlak, intelektualitas, spiritualitas dan ekonomi sehingga melahirkan sebuah budaya primitif yang digambarkan Al-Qur’an sebagai sebuah budaya kehidupan jahiliyah.
Setelah dipimpin Rasulullah, bangsa Arab berubah menjadi bangsa pemimpin, yang sebelumnya bermusuhan dan saling berperang menjadi bersaudara, menjadi bangsa yang sangat ditakuti pasukan Persia dan Romawi dan menjadi bangsa yang sangat beradab, berakhlak mulia, hidup teratur, bersih lahir dan batin sehinga melahirkan budaya yang sangat manusiawi, intelek, cerdas, pemberani dan memiliki tanggung jawab sosial yang sangat tinggi. Itulah peradaban Islam yang tiada duanya sepanjang sejarah manusia di atas bumi ini. Peradaban tersebut bertahan sampai sekitar 13 abad lamanya membentang dari Jakarta sampai Maroko, dan bahkan menyeberang sampai ke Spanyol dan Eropa Timur lainnya. Sampai saat ini, aroma dan pengaruh peradaban mulia tersebut masih dapat dirasakan umat manusia sejak dari Timur sampai Barat.
Satu hal yang perlu kita yakini bahwa Rasul Allah yang mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang negarawan, panglima militer, hakim agung, legislator dan sekaligus kepala rumah tangga dan teman dekat bagi para Sahabat yang sangat mulia. Artinya, kegemilangan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bukan masalah manusia biasa, melaikan sudah menjadi kehendak Allah atau domain Rabbani, baik yang bersifat prinsip, jalan atau strategi dan juga tujuan. Sebuah skenario Allah terlihat dengan jelas dalam semua sisi kehidupan Beliau agar dapat dijadikan teladan yang benar dan tepat oleh umatnya di kemudian hari sampai kiamat terjadi.
Beberapa sisi leadership Rasuluillah berikut dapat kita jadikan teladan yang baik :
1.     Sisi Manajemen dan Leadership Rumah Tangga
Kendati  Nabi Muhammad sebagai Rasul Allah dan pemimpin agung dan tertinggi umat Islam, namun penerapan manajamen dan leadership di rumah tangga Beliau sangatlah unik sehinnga tidak terlihat ngebos (menjadi bos besar) yang setiap saat dan detik wajib dilayani istri dan pelayan yang banyak sebagaimana halnya para pemimpin dunia lainya. Manajemen dan leadership yang beliau terapkan sangatlah sederhana, namun sangat menyentuh sisi kemanusiaan para istri Beliau secara alami (fitrah) sehigga seakan Beliau adalah suami biasa dan tidak terlihat sedikitpun ketinggian, apalagi keangkuhan dalam dirinya.
Beberpa kasus berikut dapat menjelaskan hal tersebut sebagai sebuah fakta kehidupan rumah tangga Rasulullah yang aplikatif, bukan hanya sekedar nilai dan teori-teori kebaikan.
A.  Rasulullah meletakkan bibirnya di tempat yang sama dengan bibir Aisyah dari gelas bekas   Aisyah minum dan meminum sisa air minuman Aisyah. (Riwayat Muslim)
B. Rasullah bersandar di pangkuan Aisyah sedangkan ia sedang haidh. (Riwayat Muslim)
C. Rasulullah meminta Aisyah menyisirkan rambutnya dan memotong kukunya. (Riwayat Muslim)
D. Rasulullah sering menghirup udara malam (piknik) bersama Aisyah di malam hari. (Riwayat Al-Bukhari)
E. Rasulullah tertawa mendengar candaan istrinya. (Riwayat Al-Bukhari)
F. Rasulullah sering membantu istrinya menyiapkan keperluan rumah tangga. (Riwayat Al-Bukhari)
G. Rasulullah sering memberikan hadiah, khususnya daging kurban kepada sahabat-sahabat istrinya (Khadijah) setelah beliau wafat. (Riawayat Al-Bukhari)
H. Rasulullah Sering memuji istrinya dalam hal kelebihan mereka. (Riwayat Al-Bukhari).
I. Rasulullah menyatakan cinta pada istrinya. (Riwayat Muslim).
J. Rasulullah melihat sisi kebaikan dan kelebihan istrinya. (Riwayat Muslim)
K. Rasululullah tidak pernah menceritakan kepada orang lain privasi istrinya. (Riwayat Muslim).
L. Rasulullah sangat memahami perasaan istrinya baik dalam keadaan senang maupun marah. (Riwayat Muslim)
M. Rasulullah senang menerima hadiah dari istrinya (Riwayat Muslim)
N. Rasulullah sabar dan tahan menanggung perilaku istrinya yang kurang berkenan. (Riwayat Muslim)
O. Rasulullah tidak pernah kasar atau memukul istrinya (Riwayat An-Nasa’i)
P. Rasulullah menghibur istrinya dan menghapus air mata istrinya jika Beliau temukan istrinya sedang menangis. (Riawayat An-Nasa’i)
Q. Rasulullah pernah menyuapkan makanan pada istrinya. (Riawayat Al-Bukhari)
R. Rasulullah menghadirkan sendiri keperluan-keperluan istrinya. (Riwayat Al-hakim)
S. Rasulullah percaya pada istrinya. (Riwayat Muslim)
T. Rasulullah sangat pandai berbicara dalam menjaga perasaan istrinya. (Riwayat An-Nasa’i)
U. Rasulullah sangat adil di antara istri-istrinya. (Riwayat At-Tirmizi)
V. Rasulullah sangat menjaga dan memperhatikan istri-istrinya. (Riwayat Bukhari)
W. Rasulullah tetap bergaul seperti biasa (selain hubungan seks langsung) saat istrinya haidh. (Riwayat Bukhari)
X. Rasulullah suka mengajak istrinya musafir dengan melakukan undian di antara mereka. (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Y. Rasulullah pernah melakukan lomba lari dengan Aisyah. (Abu Daud)
Z. Rasulullah suka memanggil istrinya dengan nama panggilan/gelar. (Riwayat Ahmad)
AA. Rasulullah suka menuturkan berbagai cerita pada istrinya. (Riwayat Bukhari)
BB. Rasulullah ikut serta dalam kegembiraan istrinya. (Riwayat Bukhari)
CC. Rasulullah tidak pernah menggunakan kata-kata kasar dalam rumah tangga. (Riwayat Ad-Daromi)
DD. Rasulullah menghormati kesukaan istrinya (Adabul Mufrad)
EE. Rasulullah sangat baik pada istri-istrinya. (Riwayat At-Tirmizi)
FF. Rasulullah kalau hendak menggauli istrinya saat pulang dari musafir memberikan kesempatan pada mereka untuk berhias diri. (Riwayat An-Nasa’i)
2.     Sisi Manajemen dan Leadership Kemasyarakatan/Sosial
Demikian pula halnya, kendati Rasulullah sebagai hamba pilihan dan paling mulia sejagad di sisi Allah, dalam pergaulan sehari-hari bersama para sahabat dan masyarakatnya tidak terlihat sedikitpun kesan perbedaan dengan mereka atau ketinggian diri di tengah-tengah mereka. Sebagai manusia, Rasulullah bergaul dengan sahabat dan masyarakat yang hetrogen (berbagai suku dan bangsa) sebagaimana manusia lainnya. Beberapa kasus berikut dapat pula kita jadikan bukti otentik bagaimana Rasulullah bermasyarakat dengan manajemen dan leadership yang sangat fantastik.
A. Saat Rasulullah bersama Sahabat menuju perjalanan ke Badar dalam suatu perjalan perang, jumlah mereka sekitar 1000 orang sedangkan kendraan kuda/onta mereka hanya sekitar 300 ekor, maka Rasulullah membagi setiap satu tunggangan untuk tiga orang sahabat. Lalu berkata : Saya, Ali dan Abu Lubabah satu kendraan. Ketika Rasulullah habis jatah menaiki kendraan tersebut, kedua Sahabat tadi memohon agar Beliau tetap di atas kendraan itu. Lalu Rasuluillah berkata : Tidak wahai Sahabatku. Kalian berdua tidaklah lebih kuat dari aku dan aktu tidak pula orang yang tidak membutuhkan pahala. (Riwayat Imam Ahmad)
B. Dalam suatu perjalan yang lain bersama para Sahabat saat hendak menyiapkan makanan. Ketika itu mereka sepakat memotong seekor kambing. Lalu Rasulullah membagi tugas di antara para Sahabat. Para Sahabatpun berlomba-lomba menawarkan diri untuk berkhidmat pada saudara-saudara mereka. Yang satu berkata : Saya bagian tukang potongnya. Yang lain lagi berkata. Saya yang akan mengulitinya. Yang lain lagi berkata : Saya yang akan memasaknya. Lalu Rasulullah berkata : Saya yang akan mengumpulkan kayu bakarnya. Ketika dikatakan pada Beliau, cukup kami saja yang mengerjakannya wahai Rasulullah, Beliaupun berkata : Saya tahu itu, akan tetapi Allah tidak suka melihat hamba-Nya berbeda dengan teman-temannya.
C. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah yang pertama kali Beliau lakukan adalah membangun Masjid. Lalu Rasulullah memerintahkan para Sahabat untuk membangunnya. Dalam proses pembangunan tersebut terlihat Rasulullah ikut serta dengan kedua tangan Beliau yang mulia. Terlihat Rasulullah sangat bersemangat dan pada waktu yang sama Beliau  memotivasi kaum Muhajirin dan Anshar dengan senandung Beliau yang mengandung nilai yang sangat tinggi dan maulia, “Yaa Allah, sesungguhnya tidak ada kehidupan yang hakiki kecuali hanya kehidupan akhirat. Sebab itu, tolonglah kamum Anshar dan Muhajirin”. (Ibnu Hisyam)
D. Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahui bahwa pasukan kaum Musyrikin Mekkah berkoalisi dengan berbagai Kabilah yang ada di sekitar Madinah dan juga kaum Yaghudi yang tinggal di Madinah untuk menyerang Rasulullah dan kaum Muslimin di Madinah, maka Rasulullah bermusyawarah dengan para Sahabat untuk mencari strategi yang terbaik menggagalkan rencana jahat pasukan multinasional kaum kafir tersebut. Lalu Salman Al-Farisi mengusulkan agar membangun parit. Rasulullahpun menerima usulan tersebut dan sebagai mana biasa, Rasulullah memenej sendiri pekerjaan penggalian parit tersebut dan terlibat secara langsung. Sebagaimana kebiasaan Rasuluillah memotivasi para Sahabat sambil bersenandung :” Yaa Allah, tidak ada kehidupan yang hakiki kecuali kehidupan akhirat. Sebab itu ampunilah kamum Anshar dan Muhajirin”. Mendengar ungkapan tersebut, para Sahabatpun menjawabnya : Kami adalah kaum telah berbai’at kepada Muhammad untuk berjihad sepanjang hidip.
Dari empat kasus yang dijelaskan di atas, jelas sekali bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berinteraksi sosial dengan para Sahabat dan umatnya dalam berbagai kondisi dan sitausi mengirimkan beberpa pesan yang sangat mulia dan mahal dari sisi manajemen dan leadership yang Beliau terapkan. Beberapa karekteristik manajemen dan leadership tersebut dapat kita tangkap sebagai berikut:
1.    Sifat keikutsertaan dan kebersamaan dalam melakukan suatu program yang Beliau rancang dan tetapkan.
2.    Tawadhu’ atau rendah hati dalam pergaulan dan interaksi dengan para Sahabat dan pengikutnya.
3.    Mendahulukan kepentingan orang lain ketimbang kepentingan diri Beliau.
4.    Sangat piawai dalam bergaul sehingga para Sahabat dan pengikutnya tidak merasa dikelas-duakan, bahkan sama dengan Beliau dalam beramal dan berbuat.
5.    Sangat mencintai para Sahahat dan umatnya seperti Beliau mencintai diri dan keluarganya. Beliau siap capek, sakit dan bahkan bersabung nyawa akibat ancaman kaum kafir demi kasih sayang pada umatnya.
6.    Selalu menjaga penampilan yang bersih dan rapih bahkan wangi agar para Sahabat dan pengikutnya nyaman bergaul dan berdekat-dekat dengan Beliau. Dengan demikian, tidak ada perasaan dan fikiran negatif muncul dari para Sahabat. Yang muncul dari mereka tentang Rasulullah adalah perasaan senang, nyaman dan fikiran positif.
7.    Menempatkan para Sahabat semuanya sama di hadapan Allah. Yang paling mulia di antara mereka di sisi Allah adalah yang paling baik dan yang paling sempurna taqwanya.                                                                                                      
3. Sisi Manajemen dan Leadership Dakwah
Dalam menyampaikan dakwah Islam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiada duanya. Betapa tidak, dalam waktu singkat, yakni 23 tahun saja dakwah Islam sudah menggema hampir ke seluruh dunia. Nilai-nilai Islam yang Beliau sampaikan persis sama antara teori dan prakteknya sehingga tidak ada cacat pribadi apalagi cacat ajaran atau nilai yang didakwahkan Beliau kepada manusia.
Keberhasilan Rasulullah dalam berdakwah di antaranya disebabkan manajemen dan leadership yang Beliau terapkan berdasarkan bimbingan Allah Subhanahu Wata’ala. Di antaranya tergambar dalam beberapa kasus berikut :
A. Sebagai leader / pemimpin utama dakwah, beliau menguasai penuh dakwah yang didakwahkan baik teori maupun prakteknya. Sebab itu, Beliau sangat yakin akan kemenangannya seperti yang Beliau katakan pada Khabbab Ibnul Irt saat meminta didoakan agart datang kemenangan dan pertolongan saat di Mekkah. “Demi Allah agama ini pasti menang sehingga orang dapat berjalan dari Shan’a ke Hadhramaut (keduanya kota di Yaman) berjalan dengan aman, namun kalin kaum yang tergesa-gesa”.
B. Sebagai leader / pemimpin utama dakwah, Beliau memiliki kemampuan yang sangat prima dalam menyampaikan dakwah dan meyakinkan manusia yang didakwahinya kepada ajaran dan nilai-nilai yang terkandung dalam dakwah tersebut.
C. Sebagai leader / pemimpin utama dakwah, Beliau mampu mentarbiyah atau membina dan mengorganisasikan serta memenej sumber daya masnusia Muslimnya dalam sebuah organisasi atau jamaah yang efektif dan produktif sesuai dengan potensi pasing-masing anggota jamaah.
D. Sebagai leader/pemimpin, Rasulullah berhasil membangun tsiqah kamilah (percaya penuh) dalam diri para pengikutnya terhadap kepemimpinan Beliau. Faktor yang paling kuat yang melahirkan tsiqah kamilah dalam diri para Sahabat ialah karena pribadi Rasulullah adalah teladan yang sempurna dalam semua sisi kehidupan dan tidak ada paradok (pertentangan) antara teori dan prakteknya dan bahkan Beliau seringkali yang mencontohkan apa yang menjadi pemikiran dan anjurannya.
E. Sebagai leader/pemimpin, Rasulullah mampu mengenal setiap potensi postif yang ada dalam diri para Sahabat, baik potensi imaniyah, khuluqiyyah, fikriyyah dan sebagainya sehinga dikembangkan dan diarahkan sebaik mungkin. Pada waktu yang sama, Beliau juga memahami peninggalan-peninggalan sifat jahiliyah yang ada dalam diri para Sahabat sehingga Beliau menterapinya secara bertahap dan maksimal. Dengan demikian, potensi-potensi positif para Sahabat dan para pengikut Beliau mengalami perkembangan dan pertumbuhan terus dan pada waktu yang sama, bekas-bekas sifat jahiliyah yang masih tersisa dalam diri mereka dapat hilang secara bertahap sehingga mereka benar-benar menjadi pribadi-pribadi yang bersih. Metode yang diterapkan Rasulullah dalam menterapi para Sahabat terkenal dengan nama “tazkiyatunnafs”.
F. Sebagai leader/pemimpin, Rasulullah mampu mengatasi probelam / masalah yang muncul seketika. Kalau Rasulullah belum yakin pada penyelsainnya, biasanya Beliau diam sampai turun wahyu yang menjelaskan solusi dan inti permasalahanya, seperti “haditsul ifk” (peristiwa tuduhan palsu) terhadap istri Beliau ‘Aisyah berbuat serong dengan Shafwan. Dengan kemampuan tersebut, Rasulullah dapat menjalankan tugas Beliau dengan baik dan maksimal sebagai seorang pemimpin tanpa disbukkan oleh issu atau hal-hal yang tidak perlu.
G. Sebagai seorang leader/pemimpin, Rasulullah memiliki kemampuan yang luar biasa dalam menyelsaikan permasalahan-permasalah yang muncul di kalangan para Sahabat dan pengikutnya. Banyangkan, memenej kaum Muhajirin sebagai pendatang di Madinah yang memiliki karakter pedagang, keras dan tegas dengan kamu Anshar sebagai kaum pribumi di Madinah yang kebanyakan mereka hdiup sebagai petani yang lembut, santun dan kadang terkesan lamban, bukanlah perkara mudah. Rasulullah memahami kunci rahasianya, yakni dengan menciptakan persaudaraan Iman (ukhuwwah Imaniyyah) di antara mereka. Kalau iman sudah menjadi dasar ikatan, maka ikatan-ikatan lain seperti nasionalisme, suku, bahasa, warna kulit, status sosial dan sebagainya tidak lagi menjadi dominan dan pegangan seseorang. Karena ikatan iman adalah ikatan hakiki untuk meraih keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.
H. Sebagai leader/pemimpin, Raulullah memiliki pandangan yang jauh ke depan (long vision). Long vision ini tentulah berdasarkan risalah Islam itu sendiri yang cakupan waktunya sampai akhir zaman, yakni sampai akhir umur dunia ini. Untuk membuktikan betapa jauhnya pandangan Rasulullah ke depan, beliau melakukan langlah-langlah berikut Pertama, Mentarbiyah dan mengkader para Sahabat dan pengikutnya dengan tarbiyah yag kuat dan sempurna dalam semua sisi diri; sisi imani, fikri (intelektualitas), jasadi, siyasi, jihadi dan iqtishadi persis berdasarkan wahyu yang Allah turunkan pada Beliau, tanpa sedikitpun mendahulukan pandangan-pandangan atau perasaan pribadi, kendati Beliau sangat cerdas dalam segala sisi. “ Dan dia tidak berfikir/berkata kecuali berdasar wahyu yang diwahyukan padanya” (Surah An-Najm : 3 & 4).
Tarbiyah Nabawiyyah inilah yang melahirkan the best generation (khairu Ummah) yang mejadi ulama, da’i dan mujahid-mujahid besar yang di tangan merekalah tersebar Islam ke seluruh penjuru dunia. Tarbiyah yang Rasulullah jalankan ini bukan hanya melahirkan generasi terbaik di zamannya, melain mampu pula mewariskannya dengan baik dan secara kontinu dari satu generasi ke generasi berikutnya selama lebih kurang 13 abad lamanya.
Kedua, Mendirikan sebuah negara yang kuat di Madinah yang dibangun di atas dasar kekuatan Iman, Islam, ukhuwwah imaniyyah, hijrah dan jihad, sumber daya manusia yang sangat berkualitas dan sistem kenegaraan yang sangat moderen mencakup aturan sesama kaum Muslimin, anatar kaum Muslimin dengan penganut agama lain dan hubungan internasional (antara Negera Madinah dan Negara-negara lain yang kuat saat itu) dengan mengirim surat diplomatik Islam kepada para pemimpin yang memiliki pengaruh kuat saat itu. Negara yang dibangun Rasulullah tersebut bukan hanya kuat dalam sisi konseptual, melainkan kuat pula dalam menghadapi seranagan dan upaya-upaya penghancuran yang dilakukan kekuatan-kekuatan dunia saat itu sehingga berfungsi sebagai pelindung masyarakat dan rakyat yang tinggal di dalamnya dan pada waktu yang sama kuat pula dijadikan sebagai munthalaq(base camp) penyebaran risalah Islam ke seluruh dunia. Sampai hari ini kita masih bisa menyaksikan kehebatan dan keisitimewaan kota Madinah yang dibangun Rasulullah tersebut.
Ketiga, Berhasil menanamkan pada para Sahabat dan pra pengikutnya, bahwa di balik risalah Islam yang sangat hak dan adil yang diperjuangkan siang dan malam itu tidak lain adalah jalan menuju kebahagiaan akhirat, yakni ridho dan syurga Allah yang kekal abadi, bukan kepentingan dunia yang tidak seberapa lagi fana. Hasilnya, mereka adalah orang-orang yang berorientasi akhirat dan terlepas dari penyakit “wahn” (cinta dunia dan takut mati”. Sebab itu tidak heran, seberat apapun tantangan dan ujian, sesulit apapun jalan kemenangan Islam dan sebahaya apaun jalan dakwah yang mereka alami, bagi mereka terasa ringan dan menyenangkan. Bahkan saat-saat yang paling sulit sekalipun, yakni saat dikepung musuh, generasi Sahabat Rasulullah, malah menjadikannya momen yang menyenangkan, menambah keimanan, ketakwaan dan tawakkal pada Allh. “yaitu orang-orang berkata kepada mereka, sesungguhnya manusia sedang berkumpul untuk menyerang kalian, maka takutlah kalian. (Peristiwa itu) malah menambah keimanan mereka dan mereka berkata : Cukuplah Allah bagi kami dan Di adalah sebaik-baik tempat menyerahkan diri”. (Surah Ali Imran : 173).
4. Sisi Manajemen Leadership Negara dan Pemerintahan
Tidak diragukan manajemen dan leadrseip/kepemimpinan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam atas negara dan pemerintahannya sangat sempurna dan tidak ada bandingannya dalam sejarah negara dan pemerintahan manapun di dunia.
Ada beberpa karakteristik Negara dan pemerintahan Rasulullah yang membedakanya dengan negara dan pemerintahan yang ada seperti Persia, Romawi dan sebagainya. Di antarnya :
A. Negara dan pemerintahan Rasulullah dibangun atas perintah Allah dengan landasan mentauhidkan Allah sebagai Tuhan Pemcipta alam semesta (Tauhid Rububiyyah), Tuhan yang berhak disembah (Tauhid Uluhiyyah/Ubudiyyah) dan Tuhan yang memeliki nama dan sifat yang amat agung, mulia dan sempurna (Tauhidul Asma’ dan As-Sifat). (As-Syura : 13 – 15)
B. Dalam menjalankan dan mememenej Negara dan pemerintahan, Raslullah berpegang teguh pada wahyu Allah dalam semua aspeknya seperti, aspek hukum, perundang-udangan, keuangan Negara, bisnis, ekonomi, pelayanan sosial, pendidkan, jihad (pertahanan dan keamanan) dan seterusnya. (Al-Maidah : 49 – 50). Dengan demikian, sandaran atau tempat tawakkal Rasulullah hanya Allah terwijud dalam kehidupan nyata.
C.Sebagai pemimpin tertinggi pemerintahan Islam, Rasulullah juga merangkap sebagai panglima perang. (Al-Anfal : 60 – 65)
D. Sebagai kepala Negara, Rasulullah juga sebagai Hakim Agung yang sangat adil dan tak pernah melakukan tebang pilih dalam penegakan hukum, kendati terhadap keluarga terdekat sekalipun. (An-Nisa’ :58 dan 65)
E. Sebagai kepala Negara, Rasulullah juga sebagai legislator dalam batas-batas yang Allah tentukan. (Al-Hasyar : 7) Bahkan Allah menjamin semua yang diucapkan dan diputuskan Rasulullah sudah sudah menjadi hukum dan peraturan dan dianggap sesuai dengan wahyu-Nya. (An-Najm : 2 -5) Jika tidak sesuai, Allah langsung menegur Beliau agar dibatalkan atau disesuaikan dengan wahyu-Nya. (At-Tahrim: 1)
F. Sebagai kepala Negara dan pemerintahan, Rasulullah juga sebagai Da’i (penyeru risalah Islam) utama dalam menyampaikan, mengajarkan, menerapkan dan mendakwahkan ajaran islam kepada umatnya dan kepada semua masnusia tanpa terkecuali, baik Arab maupun Ajam (non Arab). (Al-Ahzab : 45 – 48 dan Saba’ : 28)
G. Dalam praktek manajemen dan leadership Rasulullah dalam Negara dan pemerintahan, Beliau mampu memposisikan diri sebagai ayah, sebagai guru ilmu, sebagai guru ruhy (spiritual) dan sebagai panglima perang. Lengkaplah sudah sisi manajemen dan leadership yang Rasulullah ajarkan dan amalkan sehingga Beliau menjadi sosok keteladanan yang sempurna bagai orang yang mengharapkan syurga Allah dan bertemu dengan-Nya di akhirat kelak. (Al-Ahzab : 21)
Sesungguhnya rahasia keberhasilan manajemen dan leadership Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam dalam semua sisi kehidupan seperti yang dijelaskan di atas merupakan taufiq dan bimbingan Allah Subahanahu Wata’ala. Rasulullah adalah hamba pilihan Allah yang sangat spesial sehingga memiliki sifat-sifat dan kepribadian yang sangat mulian dan sempurna dalam memenej dan memimpin negera dan kehidupan uamatnya. Jika kita ingin sukses dalam menjalankan kehidupan sekarang ini, baik sebagai anggota masyaralat, kepala rumah tangga, pemimpin kelompok/jamaah dakwah dan bahkan pemimpin Negara, kita harus siap mencontoh style manajemen danleadership Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam.
Syekh Yusuf Muhyiddin Fayiz Al-Asthul menjelaskan, tidak kurang dari 22 sifat manajerial dan leadership yang dimiliki Rasulullah. Semua sifat tersebut dapat dilihat dengan jelas melalui berbagai kasus dan kondisi yang dialami Rasulullah selama 23 tahun umur dakwah dan jihad yang Beliau jalankan. Ke 22 sifat tersebut ialah :
1.    Memiliki keinginan dan tekad baja.
2.    Sabar, lapang dada dan kemampuan menghadapi resiko.
3.    Rasa tanggung jawab yang sangat tinggi dan kemampuan memikulnya.
4.    Memiliki visi dan startegi jangka panjang.
5.    Mampu mengendalikan emosi sehingga setiap langkah dan strategi diputuskan dengan tenang, tidak dengan tergesa-gesa.
6.    Mengikatkan para pengikutnya kepada akidah, pemikiran dan prinsip-prinsip Islam, dan bukan kepada pribadi/manusia.
7.    Menjadikan Syura sebagai prinsip utama manajemen dan kepemimpinan.
8.    Fleksibelitas dalam penerapam kepemimpinan dalam hal-hal teknis dan tidak terkait prinsip.
9.    Menguasai dan memahami betul kemampuan setiap pengikut dan prajurutnya.
10. Mampu menyusun job description para prajurut dan Sahabatnya sesuai kapasitas dan kemampuan yang mereka miliki.
11. Terlibat secara langsung melakukan apa yang diperintahkan pada parajurit dan Sahabatnya.
12. Kemampuan menyimpan rahasia dan membuat alibi yang tepat, tanpa melakukan kebohongan.
13. Kemampuan mengenal psikologi musuh dan apa jalan yang tebaik untuk mempengaruhi mereka.
14. Kemampuan melakukan perang saraf.
15. Kemampuan meredam berbagai serangan dan pukulan berat yang datang dari musuh.
16. Tegar dalam prinsip dan mampu memenej masa-masa kritis dan issu negatif yang dimunculkan musuh.
17. Memahami berita dan kondisi politik negara-negara di sekitar serta perkembangannya.
18. Mengajarkan leadership kepada para Sahabat sejak dini.
19. Kemampuan mencetak para leader/qadah dalam berbagai lapangan.
20. Pemaaf dan toleran dalam hal-hal yang bukan prinsip.
21. Tawadhu’ (rendah hati) dan mau mendengarkan dengan baik masukan Sahabat dan prajuritnya sampai yang memebri masukan selesai berbicara.
22. Kemampuan mengontrol dan mengevaluasi.
Demilkianlah 4 sisi manajemen dan leadership/kepemimpinan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam. Tulisan pendek ini tentulah tidak mampu mencerminkan keindahan dan keistimewaan manajemen dan leadership Rasulullah dengan lengkap dan sempurna. Mari kita perlajari siroh Rasulullah secara mendalam agar kita dapat memahami bahwa dalam masa yang tidak terlalu lama, yakni 23 tahun dakwah, Rasulullah berhasil menerapkan semua nilai dan konsep Islam menjadi sebuah realitas kehidupan dalam semua aspeknya. Inilah yang memudahkan generasi-generasi berikutnya untuk meyakini, menerapkan dan mendakwahkan Islam ke seluruh penjuru alam.
Apa yang dijalankan dan dilakukan Rasulullah bukanlah perkara biasa, melaikan suatu mukjizat yang bermuara dari Kehendak dan Kekuasaan Allah Ta’ala, Tuhan semesta alam. Sedangkan Beliau tidak lain adalah manusia seperti manusia lainnya. Jika kita ingin mengulangi Mukjizat Robbani tersebut sehingga dapat mengeluarkan uamat Islam yang sedang terperosok ke dalam berbagai jurang kehidupan saat ini, maka tidak lain yang kita lakukan kecuali mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam dan menjadikan Beliau sebagai teladan utama dalam semua sisi kehidupan. Kita tidak perlu mencari teladan lain selain Beliau karena hanya akan menyebabkan kegagalan demi kegagalan sebagaimana yang dialami umat Islam sekitar satu abad belakangan ini. Nilai dan manhaj yang dibawa Rasulullah sudah Allah rancang akan selalu sesuai dengan zaman, sampai dunia ini Allah hancurkan. Allah menjelaskan :
“Sungguh dalam diri Rasulullah itu terdapat keteladan yang yang baik bagi kalian; yakni bagi orang-orang yang berharap (berjumpa) Allah dan akhirat (syurga), dan mengingat Allah dengan banyak. Dan ketika kaum Mukmin melihat pasukan multinasional itu, maka mereka berkata : Ini adalah apa yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan (peristiwa itu) tidak menambah bagi mereka kecuali keimanan dan penyerahan diri secara total (kepada Allah)”. (Surah Al-Ahzab : 21 & 22)
Yaa Rabb… Kami mencintai-Mu dan Rasul-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam, maka anugerahkanlah kepada kami kemampuan untuk menjadikan Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam teladan utama dalam menjalankan kehidupan ini agar kami selamat di dunia dan dapat berkumpul bersamanya kelak dalam syurga-Mu.

Rabu, 13 November 2013

Khutbah


 TEKS KHUTBAH  JUMAT 4 MUHARAM 1435 H/8 NOV 2013 (Mushalla Amanah)

11 .     Bismillahirahmanirrahim
22.    Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh
33.    ……Azan
K      Khutbah ke-1
44.  Alhamdulillahirabil’alamin wal ‘akibatul lilmuttaqin. Ashaduan laa ilahaillallaah wahdahulaa syarikalahu. Wa  
       ashaduan namuhammadan ‘abduhuu warsuluhu laanabiya ba’dah.
55.  Allahumma shalli ‘alaa muhammad  wa’alaa ‘aalihi wa shahbihi wa man tabi’ahu ila yaumiidin. Ama ba’du.
66.  Ushikum wa iyaaya bitaqwallah fakad fazal muttaqun.
b    Ya ayyuhalazina amanu ittaqullaaha hakkatukatihi wala tamuutunna illa wa antum muslimuun.
77.  Qalallaahu fil quranil karim, a’uzubillaahi minassyaithonirjiim 
A    Alii laaam miim …. ( baca ayat 1-5 surah Al Baqarah).
Ma’syiral muslimin sidang jumat rahimakumullah
            Alhamdulillah, kita memuji dan bersyukur kepada   Allah subhana wata’ala yang  telah melimpahkan  rahmat  dan izin-nya kepada kita sehingga kita kembali dapat berhimpun di majlis Jumat yang mulia ini guna melaksanakan serakaian ibadah  jumat di tempat yang mulia ini.
Shalawat dan salam kita mohonkan kepada Allah untuk jujungan kita nabi Muhammad SAW  untuk keluarganya dan sahabatnya dan orang mengikutinya dengan sungguh-sungguh hingga hari kiamat.
Khatib berwasiat untuk dirinya dan kaum muslimin yang hadir  “marilah kita tingkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah mudah-mudahan   Allah menjadikan kita  orang beruntung di dunia dan di akhirat kelak.

Saudara-saudara kaum Muslimin rahimakumullah.   Khutbah hari ini  diberi judul  “tiga golongan manusia dalam merespon Al-quran/agama  Allah”
    Dalam 20 ayat  di awal surah al-Baqarah  yang merupakan surah kedua dalam al-Quran setelah surah al-Fatiha, Allah menginformasikan  kepada manusia tiga golongan manusia dan ciri-cirinya  dalam menyikapi dan merespon ajaran Allah.  Pertama Allah menyebut  golongan mutaqin pada ayat 2-5 =4 ayat, kedua Allah informasikan golongan kafir pada ayat 6-7= 2 ayat, dan menyebut golongan yang mengaku beriman tetapi tidak diakui keimannya,  yaitu dari ayat 8 sampaii 20 = 13 ayat. (Baiknya lihat Kitab dan Tafsirnya)

a.   Pertama golongan Muttaqin (Menjadikan alquran sebagai petunjuk hidup) dengan ciri/indikatornya adalah;
1.   Beriman kepada yang gaib (Iman, yaitu mengucapkan dengan lisan, membenarkan dengan hati, dan merealisasikan dengan anggota badan, sedangkan gaib berarti pasti adanya tetapi belum ditampakkan kepada manusia. Secara hakiki adalah Allah dan secara nisbi ciptaan-Nya spt surga, neraka, shirat, dll-nya.)
2.   Mendirikan shalat. (wajib dan sunat secara benar dengan ilmunya)
3.   Menginfakkan sebagian rezeki  yang diberikan Allah kepadanya (Zakat dan infak)
4.   Beriman kepada kitab yang diturun kepada nabii Muhammad. (Al-Quran)
5.   Beriman kepada kitab yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad (Zabur, Taurat, Injil yang asli serta shuhuf yang dirurn epada beberapa nabi)
6.   Yakin kepada kehidupan akhirat (hari berbangkit dengan segala peristiwa yang dialami manusia).

    Ganjaran bagi mereka adalah: Allah menyatakan      Merekalah  orang yang dapat petunjuk  dan merekalah  orang beruntung (surga).

b.   Golongan kafir
Dengan ciri :
1.   Sama saja bagi mereka diberi peringatan atau tidak diberi peringatan mereka  tetap tidak beriman.
2.   Allah mengunci /menyegel  atas hati, pendengaran, penglihatan mereka.

    Gajaran  bagi mereka adalah:
    Bagi mereka azab yang besar (azab di dunia dan neraka)

c.   Golongan mengaku beriman tetapi menurut Allah mereka sebenarnya tidak beriman:  
     Dengan ciri/ indikator:
1.      Mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir padahal mereka bukan orang beriman (ayat 8)
2.      Mereka menipu Allah dan padahal mereka menipu diri sendiri (ayat 9) dst.
3.      Dalam hati mereka ada penyakit  dan Allah menambah penyakit itu
4.      Jika dikatakan kepada mereka janganlah berbuat kerusakkan di muka bumi, mereka menjawab sesungguhnya kami adalah orang melakukan perbaikan.
5.      Ingatlah, mereka berbuat kerusakan tetapi mereka tidak menyadarinya.
6.      Bila dikatakan kepadanya, beriman sebagaimana orang lain telah beriman, mereka menjawab apakah kami akan beriman seperti orang yang bodoh itu?
7.      Ingatlah, sesungguhnya mereka itu yang bodoh/kurang akal  tetapi mereka tidak tahu.
8.      Bila berjumpa dengan orang beriman mereka berkata kami telah beriman.
9.      Bila mereka kembali kepada setan-setan (pemimpin) mereka, mereka berkata  sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.
10.     Allah mengolok-olokan mereka  dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.
11.     Mereka adalah orang membeli kesesatan dengan petunjuk.
12.    Usaha mereka tidak beruntung dan mereka tidak mendapat petunjuk.
13.       Mereka diumpakan sebagai orang yang menyalakan api,  lalu Allah memadamkan cahayanya dan mereka dalam kegelapan tidak bisa melihat.
14.        Mereka tuli, bisu dan buta sehingga tidak bisa kembali.
15.       Mereka diumpakan orang yang ditimapa hujan lebat yang disertai kegelapan, petir, kilat. Dan mereka menutup telinga dari bunyi petir  karena takut mati.
           Bila ada kilat mereka berjalan dan bila gelap mereka berhenti.

       Ganjaran bagi mereka adalah : azab yang pedih  (azab didunia dan neraka)

Dari tiga golongan yang sudah diinformasikan  Allah tersebut,  maka sebagai orang beriman hendaknya  kita menentukan sikap dan mengambil pelajaran:
1.      Informasi ini sebagai petunjuk dalam menyikapi berbagai aspek kehidupan, misal dalam hal informasi, teknologi, ekonomi, sosial, dan budaya, dan pendididikan. Bagaimana pendapat Anda kalau informasi ekonomi, budaya dan pendidikan dikuasai oleh golongan ke-2 dan ke-3? Apakah ajaran Allah bisa terealisasi? Oleh karena itu, orang beriman perlu membangun sesuai dengan aturan agama kita.
2.      Hendaklah kita menjadi golongan pertama, yaitu orang yang yakin  menjadikan al-Quran sebagai petunjuk hidup di dunia ini  karena dengan itu kita menjadi orang yang bertakwa dan  akan menjadi orang beruntung di dunia dan di akhirat.
3.      Kita berkewajiban terhadap diri kita, keluarga kita, anak didik kita, masyarakat kita menyampai dakwah Islam supaya semua menjadi orang beruntung di dunia dan di akhirat dan selamat dari azab Allah.
4.      Bila  berinteraksi  dan memilih untuk berteman atau berkerjasama  tentulah kita tidak menyamaratakan orang. Kita perlu mempelajari mereka dari indikator yang sudah disampaikan Allah itu sehingga kita bisa mengenali dari mana  mereka dan golongan apa mereka. Supaya kita dapat adil dalam berbuat dan tidak zalim sesuai dengan ajaran agama Islam.
5.      Kita harus lebih waspada dengan golongan tidak beriman.  Dalam menyikapi golongan kafir  dalam beribadah Allah telah menegaskan  lakum dinukun waliyadin.  Namun Allah juga memberi kita informasi dalam al-Quran  bahwa,  walam tardha angkal yahuda wanashara  ila tatttali’a milatahum.
       Pada golongan ketiga, jika ada mereka membawa berita kita harus cek dan ricek supaya kita tidak terlanjur berbuat zalim pada sesama  karena golongan ketiga itu suka lain dimulut lain di hati.
6.    Yang disampaikan Allah ini adalah benar dan janganlah kita ragu-ragu. Alhhqu mirabika falatakunaminalmumtarin.
Harapan  hendaklah sebagai orang yang beriman kita saling menguatkan dan bersatu  serta berlomba-lomba dalam kebaikan. Utamakan memilih orang yang beriman dan jangan sampai  karena  manisnya bujukan musuh kita menzalimi saudara seiman kita.  Allah mngatakan sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.

Kita memohon kepada Allah semoga menuntun hati dan akal kita untuk menjadi  orang bertaqwa  dan kita berlindung kepada-Nya  dari kekafiran dan kemunafikan.
Allahumma  inna  asluka huda wataqwa  wa jalna minal muslimin wajangalna muttaqin. Alaahumma amiin.
Faktabiru ya ulil abshar langal lakum  turhamuun.
-----------------------------Duduk baca surah al-ikhlas

Khutbah ke-2
Alhamdulillaahillazi arsala rasuulahu bilhuda wadinil haq, liyazhirahu ‘aladini kulihii wakafabillaahi syahida. Ashaduan la ilahailallaah wahdahulaa syariikalahu. Wa ashaduan namuhammadan ‘abduhu warsuluhu laanabiya ba’dah. Allahumma shalli ‘ala muhammad  wa’ala alihi wa shahbihi wa man tabingahu ila yaumiidin. Ama ba’du.
Ushikum wa iyaaya bitaqwallah fakad fazal muttaquun.
Ya ayyuhalazii  naaamanu ittaqullaaha hakkatukatihi wala tamuutunna illa wa antum muslimuun.
Qalallahu fil quranil karim, a’uzubillahi minassyaithonirjaim.  (baca QS 2:21).
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.
Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.
Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat (nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.
Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.

Inallaha wa malaaikatihu yushallu nan ‘alan nabii, ya aiyuhalazii na aamanu shalluu ‘alaihii wasalimutalimaa. Allaahumma shali wasalim ‘ala saidinaa muhamdin wa aliihi washahbihi  ajmangiin, amiin ya rabbal ngalamin. Allahumma fir lilmukminina wal mukminat, walmuslimimina wal muslimat al ahya imin umwal amwat.  Rabna fir lana waliikhwaninalazi na sabaqu bil iman wala tajngal fi qulu bina gilalizazi na amanu. Rabana inaka raufurrahiim.  Rabana latuakhizna….
Rabana atina….
‘ibadallah, innallaaha yakmuruu bilngadli walihsaani waiitaaa izilqurba  wayanha anil fahza iwal  munkar la’allakum tazakarun. Walazikrullahi akbar. Astagfirullahi  wa lakum.  Aqimis shalah…


Senin, 04 November 2013

PESAN KEARIFAN BUDAYA DALAM KABA MINANGKABAU:


SUATU  TINJAUAN UNTUK PENELITIAN
Oleh
 Dr. Abdurahman, M.Pd.
Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang

ABSTRAK

          Tulisan ini bertujuan memaparkan fenomena cerita kaba Minangkabau yang berisi pesan kearifan budaya dan kaitannya dengan penelitian yang akan penulis lakukan. Di dalamnya diuraikan keberadaan kaba sebagai karya sastra yang berisi kearifan budaya; alasan pentingnya penelitian dilaksanakan; dan pihak-pihak akan memanfaatkan hasil penelitian. Selain itu, dijelaskan teori tentang kebudayaan, kearifan budaya, dan kaitan kearifan budaya dengan cerita kaba. Pembahasan yang ringkas ini diharapkan dapat menjadi pemicu diskusi untuk mendapatkan masukan tentang penelitian kearifan budaya dalam cerita kaba Minangkabau. 


         Key word: Kearifan Budaya, Cerita Kaba, Penelitian.

A.       Pendahuluan  
Ada banyak alasan mengapa cerita kaba layak untuk dibicarakan dan kemudian diteliti kandungan isinya. Di antara alasan itu adalah karena keberadaan cerita kaba  sebagai karya sastra klasik Minangkabau dapat dikatakan fenomenal  dengan  pesan-pesan  kehidupan  yang ada di dalamnya yang masih relevan sebagai penimbang perilaku berbudaya masa sekarang. Di samping itu, keberadaannya juga menggambarkan fenomena budaya kehidupan  masyarakat lama dengan multi peran yang bermuatan pesan-pesan kultural  sehingga merefleksikan kearifan budaya. Peran yang berisi pesan kearifan itu juga merupakan  instrumen pendidikan budaya yang dapat mempengaruhi pembentukan wujud aktualisasi realitas budaya. Selain itu, keberadaan cerita kaba yang fenomenal itu sangat berharga karena pengapresiasiannya mempengaruhi pencerahan budaya ke arah  yang konstruktif dan inovatif yang  implikasi manfaatnya dapat memupuk pembentukan karakter berbudaya.
Meskipun kaba merupakan cerita rakyat yang bersifat klasik, namun eksistensinya mampu menembus ruang waktu dalam bentang  yang cukup panjang, hingga kini diperkirakan sudah lebih satu abad sejak kaba pertama kali diterbitkan. Lamanya cerita kaba eksis  dalam  kehidupan masyarakatnya menunjukkan bahwa cerita kaba merupakan cerita yang diapresiasi dan dihargai oleh masyarakatnya. Apresiasi, penghargaan, dan pemertahanan akan cerita kaba itu oleh masyarakatnya menunjukkan kaitan yang kuat antara muatan budaya kelompok etnis yang menjadi tema-tema dalam cerita kaba dengan perannya dalam pertimbangan mengatasi problema  budaya. Dengan demikian, meskipun cerita kaba merupakan suatu yang klasik tetapi kaba mempunyai kekuatan berupa  muatan budaya  dan pesan-pesan yang diaktualkannya pada masyarakatnya.   
Alasan yang  lebih spesifik mengapa cerita kaba menarik adalah karena dari sekian banyak pesan budaya dalam kaba,  salah satunya  adalah pesan kearifan budaya. Kearifan budaya dalam kaba termuat hampir pada semua bagian kaba  karena  naskah kaba isinya berupa simbol-simbol bahasa berisi ciplakan realitas kehidupan yang disampaikan dengan ucapan, tindakan dan perilaku tokoh cerita kaba yang menggambarkan aspek kearifan budaya. Penokohan cerita kaba sengaja dihadirkan pengarang dalam kerangka mengaktualisasikan pandangan  tentang pewarisan budaya. Dengan demikian, kaba dengan lakuan tokohnya merefleksikan budaya yang melatarbelakangi  kehadiran kaba sehingga tokoh cerita seolah-olah adalah tokoh dalam kehidupan sebagaimana realitas peristiwa yang sebenarnya.
Di sisi lain, cerita kaba adakalanya bertokoh dengan nama samaran yang disulap pengarang untuk menceritakan peristiwa dan kejadian yang tidak merealitas dalam masyarakat. Dalam hal ini, pencerita kaba seakan menunjukkan kepada pemabaca bagaimana kearifan perilaku tokoh cerita yang seharusnya menurut pengarang atau budaya masyarakatnya. Pesan dari kaba menunjukkan bagaimana seharusnya kearifan budaya relevan dengan pokok-pokok budaya ideal dalam kehidupan masyarakat.  
 Sama seperti cerita rakyat lainnya, cerita kaba sebagai sastra lama bersifat  tidak menonjolkan individu yang pertama kali membuatnya atau menceritakannya (anonim). Tidak menonjolnya nama individu yang mengklaim dirinya sebagai pengarang cerita kaba menjadikan kaba  lebih diakui sebagai milik masyarakat budaya dan sekaligus dihargai  masyarakatnya. Dengan demikian, kaba telah menjadi milik masyarakat dan dalam perkembangan masyarakatnya  kaba mewakili  pandangan masyarakat dalam pandangan terhadap pesan kearifan  budaya.  Hal itu makin memberi gambaran bahwa budaya kehidupan nyata masyarakatnya dan  aspek budaya yang digambarkan dalam kaba bersejajaran dengan gambaran perilaku dan tindakan budaya dalam masayarakat pendukung cerita.
Alasan-alasan yang dikemukakan itu senada dengan yang dinyatakan  Samovar dan Porter (2001:38) bahwa setiap cerita rakyat  bercerita tentang orang-orangnya yang digunakan untuk mentransfer nilai budaya dari generasi ke generasi berikutnya. Dan setiap budaya memiliki banyak cerita yang masing-masing menekankan pesan kearifan budaya yang fundamental. Yogi (1987:18) juga berpendapat bahwa  sastra Minangkabau memuat pesan kearifan budaya yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya karena di dalamnya terkandung hikmah kompleksitas kehidupan manusia, seperti pesan kearifan adat, moral, ekonomi, sosial, pertahanan,  dan kedamaian. Dengan demikian, kaba dapat berperan sebagai penyelaras moral yang berarti  pesan kearifan  budaya dan adat yang ada dalam kaba diwariskan dan dijadikan pedoman dalam menyikapi persoalan kehidupan. Dalam hubungan itu, kaba telah difungsikan sebagai suatu media pendidikan yang bernilai dalam pelestarian adat budaya.
Sebagai ilustrasi dalam kaba “Rancak Di Labuah”  (oleh Dt. Panduka Alam, 2004) ditemukan gambaran kearifan tindakan seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya menjadi orang  yang baik. Tokoh Siti Jauhari berhasil mendidik anaknya tokoh Buyuang Geleng dan Siti Budiman menjadi anak-anak yang suka berkarya, intelek,  dan berbakti kepada orang tua. Pesan kearifan pendidikan (budaya) yang disampaikan Siti Jauhari meliputi berbagai aspek kehidupan meliputi,  bagaimana mengisi hidup  dengan bekerja, cara berumah tangga, syarat-syarat menjadi penghulu (pemimpin adat), dan berbagai ajaran etika. Dengan demikian, kaba sebagai sastra rakyat jelas merupakan karya sastra  lama  yang memuat  pesan kearifan  budaya (pendidikan)  yang berguna bagi masyarakatnya. Sehubungan dengan kearifan budaya Sastrowardoyo (1989: 18) menyatakan bahwa karya sastra merupakan penjaga pesan kearifan kehidupan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat karena di dalamnya terkandung hikmah kompleksitas kehidupan manusia mulai dari kelahiran hingga kematiannya.
B.     Penelitian Kearifan Budaya
Pesan kearifan budaya yang ada dalam naskah cerita kaba Minangkabau perlu diungkapkan dengan penelitian. Bila naskah kaba dieksplorasi hasilnya dapat digunakan untuk peningkatan kualitas hidup berbudaya masa kini.  Hal itu senada yang diungkapkan oleh Ratna (2008: 329) yang menyatakan bahwa khazanah sastra lama kaya dengan pesan kearifan yang pada dasarnya sangat diperlukan dalam rangka membina semangat kebangsaan dan kesatuan bangsa. Sehingga dengan demikian, pembangunan budaya bangsa akan terwujud  dengan dukungan landasan-landasan filosofis yang digali dari budaya asli bangsa Indonesia.
Di samping itu, kajian akan kaba ini memberikan kontribusi pada beberapa mata kuliah sastra yang ada di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, di antaranya mata kuliah: Telaah Naskah Minangkabau (BAM020), Kajian Filsafat Kebudayaan Minangkabau (BAM056), Sastra Minangkabau (IND223), Semiotika (IND049), Sastra Nusantara (IND013), Pemahaman Lintas Budaya (IND041), dan Ilmu Sosial dan Budaya Dasar  (UNP033) (UNP, 2010:57).
Dengan demikian, usaha untuk mengeksplorasi kaba dan meneliti pesan kearifan budayanya merupakan  suatu yang penting  dan mempunyai manfaat yang dapat membantu masyarakat masa depan mengapresiasi aspek budaya dalam kaba yang sudah hidup lama dalam masyarakat. Pengungkapan kembali pesan kearifan budaya kaba dapat berguna  untuk peningkatan kualitas pemahaman aspek-aspek  budaya dalam kehidupan  terutama dalam pendidikan bahasa dan sastra.
Penelitian pesan kearifan budaya dalam kaba Minangkabau dapat dipandang mempunyai keistimewaan dan keunikan karena terkait dengan filosofi dan pandangan hidup budaya Minangkabau yang khas. Kekhasan itu seperti yang diungkapkan Naim (1996) bahwa filosofi budaya Minangkabau mengandung pesan kearifan universal  dan global yang langgeng seperti terdapat dalam petatah petitih adat ”tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan. Maksudnya, esensi pesan kearifan budaya Minangkabau yang sebenarnya tetap akan lestari  karena adat Minangkabau relevan dengan sejumlah ciri yang melekat dengan pesan kearifan budaya universal, yaitu: demokratis,  terbuka, resiprokal, egaliter, sentrifugal, kompetitif, koperatif, dan mengakomodasi konflik yang semua itu pada umumnya tetap menjadi impian masyarakat madani sampai hari ini.
Pentingnya penelitian pesan kearifan budaya dalam kaba sejalan dengan penegasan Sugono (2004),  yang mengatakan bahwa pesan kearifan karya sastra lama yang memuat informasi kehidupan masa lalu perlu dihadirkan kembali dalam kehidupan masa kini. Maksud dihadirkan kembali dalam kehidupan adalah mengaktualkan berbagai pesan budayanya dalam berbagai aspek kehidupan termasuk dalam pendidikan budaya terutama dalam pendidikan bahasa dan sastra. Hal itu menjadi penting karena karya sastra lama banyak menyimpan wawasan pengetahuan masa lampau yang tidak kecil peranannya dalam menata hidup masa kini dan masa depan. Penegasan itu senada dengan pendapat Hasanuddin (2009) bahwa sastra pada zaman lampau termasuk kaba berperan sebagai suatu pelajaran pada zaman sekarang terutama isi atau kandungan nilai budi pekertinya yang disikapi secara positif.
Sejalan dengan hal itu, berkaitan dengan pengkajian pesan kearifan budaya akan makin diperlukan bagi pendidikan  budaya dan karakter bangsa yang telah diterapkan pemerintah dalam kurikulum pendidikan (Depdiknas, 2010). Dan kontribusi logis penelitian kearifan budaya dapat dihubungkan dengan kebutuhan kaum intelektual dan pendidikannya  yang membutuhkan analisis budaya. Azmi (2004) menyatakan bahwa pemahaman yang mendalam mengenai pesan-pesan budaya Minangkabau diperlukan dalam hal mendiskusikan tentang pendidikan budaya (termasuk bahasa dan sastra).   Hal itu penting karena generasi muda dilatih terus lewat pendidikan formal untuk berpikir kritis dan selalu memperbandingkan dan mempertanyakan sesuatu, terutama peran adat budaya.  Dengan demikian, jelaslah bahwa kalangan terpelajar memerlukan kajian ilmiah dalam bidang  budaya dan sastra lama sebagai ancangan budaya dan sebagai  pegangan budaya.
Berkaitan dengan muatan pesan kearifan budaya dalam cerita kaba maka untuk mendeskripsikannya  secara ilmiah kiranya perlu dilakukan  penelitian tentang hal sebagai berikut ini.   1) Latar dan motif tokoh cerita kaba yang melakukan tindakan pesan kearifan budaya, 2) Reaksi tokoh cerita kaba yang menjadi sasaran pesan kearifan budaya, 3) Jenis dan bentuk pesan kearifan budaya secara semiotis. 4) Makna bentuk-bentuk  pesan kearifan budaya  secara semiotis. 5) Relevansi pesan kearifan budaya dalam kaba dengan ajaran adat dan agama.
            Berdasarkan fokus dan sub-sub fokus penelitian di atas maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut ini. Bagaimanakah pesan kearifan budaya diungkapkan dalam kaba Minangkabau?    Berdasarkan rumusan  penelitian itu maka diharapkan hasil penelitian  dapat digunakan sebagai sumber informasi bagi masyarakat Indonesia terutama mahasiswa  dan kelompok etnis Minangkabau dalam memahami  pesan kearifan budaya yang terdapat dalam  kaba. Setelah memahami pesan kearifan  budaya itu diharapkan tumbuh penghargaan pada sastra lama terutama sastra kaba yang merupakan cerminan  terhadap perilaku hidup dalam masyarakat lokal Minangkabau. Setelah tumbuh penghargaan diharapkan berkembang kesadaran untuk menggali dan menggunakan pesan kearifan  budaya  yang ada dalam cerita rakyat dan mewariskannya untuk keperluan hidup masa datang. Selanjutnya, akan muncul reinterpretasi  terhadap pesan kearifan budaya menjadi padangan baru yang membawa kedinamisan kehidupan budaya. Dengan demikian, deskripsi dan interpretasi pesan kearifan pendidikan dan  budaya dapat berkontribusi positif dalam berbagai kegiatan hidup, baik secara formal maupun informal.
C.    Hakikat Kearifan Budaya
Sebuah ancangan penelitian tentu tidak terlepas dari teori-teori dan kajian pustaka yang mendukungnya. Untuk itu, diperlukan dasar kajian yang berkaitan dengan hakikat kebudayaan dan pesan kearifan budaya.
1.      Kebudayaan
      Dalam bahasa Indonesia konsep kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari  buddhi yang berarti ”budi”  atau ”akal” (Koentjaraningrat , 2000:9). Dengan demikian, kebudayaan dapat merujuk pada hal-hal yang berkaitan dengan persoalan budi dan akal. Budi merupakan alat batin yang merupakan paduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk. Dalam bahasa Inggris kebudayaan disebut  culture  berasal dari bahasa Latin colere yang berarti ”mengolah” atau ”mengerjakan”, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari pengertian itu dan perkembangan berikutnya, kata budaya dapat dipahami sebagai segala daya dan upaya serta tindakan manusia untuk mengolah dan mengubah alam (Koentjaraningrat, 2002). Dalam pengertian tersebut cakupan perumusan budaya  termasuk mengolah budi dan akal yang merupakan unsur batin manusia.
Dalam kajian ilmiah terutama dalam bidang antropologi konsep kebudayaan sudah didefenisikan oleh banyak pakar. Kroeber dan Kluckhohn, telah mencatat 164 definisi kebudayaan yang mereka temukan dalam literatur antropologi (Samovar dan Richard, 2001).  Dari sekian banyak definisi yang tumpang-tindih itu, diidentifikasi enam kelompok pengertian utama kebudayaan, yaitu secara deskriptif, historis, normatif, psikologis, strukturalis, dan genetik (Smith, 2001:3).    Konsep kebudayaan yang  fenomenal dan sering menjadi rujukan adalah yang dikemukakan oleh Tylor seorang antropolog yang lahir pada tahun 1871, yang menyatakan bahwa kebudayaan adalah kesatuan yang menyeluruh yang terdiri dari pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, dan semua kemampuan serta kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat (Harris dan Robert T  Moran 2006).  Peursen (1988:11) menyatakan bahwa kebudayaan meliputi segala perbuatan manusia seperti cara ia menghayati dan membuat upacara untuk kematian, kelahiran, seksualitas, makanan, sopan santun, pakaian, kesenian, ilmu pengetahuan, dan agama. Karena kebudayan merupakan perbuatan manusia maka kebudayaan tidak pernah mencapai batas dan berlangsung dalam waktu yang lama. Samovar dan Porter (2001:33) yang mengungkapkan bahwa kebudayaan dapat berarti simpanan akumulatif dari pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, pilihan waktu, peranan, relasi ruang, konsep yang luas, dan objek material atau kepemilikan yang dimiliki dan dipertahankan oleh sekelompok orang atau suatu generasi. Lebih jauh kebudayaan dapat berarti sistem pengetahuan yang dipertukarkan oleh sejumlah orang dalam sebuah kelompok yang besar yang mengikat manusia satu dengan lainnya.
Dari pengertian kebudayaan tersebut dinyatakan bahwa seluruh bidang yang dipelajari manusia sebagai anggota masyarakat adalah kebudayaan.  Hal itu juga menunjukkan bahwa cakupan bidang kajian kebudayaan amat luas sebab tidak banyak  kemampuan yang diperoleh dan dikuasai manusia tanpa melalui keanggotaannya dalam kemasyarakatan.
Koentjaraningrat (2000) menyatakan bahwa dalam kehidupan manusia, kebudayaan diwujudkan dalam tiga bentuk yaitu, ideas, activities, dan artifacts. Pertama, wujud kebudayaan ideas merupakan suatu kompleksitas dari ide-ide, gagasan, pesan kearifan, norma-norma,  peraturan-peraturan dan sebagainya. Wujud budaya ideal bersifat abstrak, tidak dapat diraba. Lokasinya ada dalam pikiran dan kalau dalam tulisan maka lokasi kebudayaan ideal ada  yang berada  dalam karangan atau buku-buku hasil karya penulis warga masyarakat bersangkutan. Berkaitan dengan budaya dalam penelitian ini tentu pesan kearifan budaya itu berada dalam cerita rakyat, yaitu kaba Minangkabau sebagai karya sastra. Dalam kebudayaan ide-ide dan gagasan-gagasan manusia banyak yang hidup dalam suatu masyarakat serta memberikan tatanan kepada masyarakat itu. Ide-ide dan gagasan secara terpadu menjadi suatu sistem yang disebut sistem budaya dan dapat disebut dengan adat atau adat-istiadat dalam bentuk jamak.
Kedua, wujud  kebudayaan activities  disebut  juga dengan sistem sosial, yaitu mengenai tindakan berpola dari manusia. Sistem sosial merupakan suatu kompleksitas aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat. Kelakuan berpola ini teraktualisasi dalam bentuk aktivitas dan interaksi manusia satu sama lain dari waktu ke waktu dalam bentuk konkret  dan bisa diobservasi. Ketiga, wujud kebudayaan artifacts atau kebudayaan fisik sebagai benda-benda hasil karya manusia. Wujud ini berupa seluruh total dari hasil fisik dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat. Sifat kebudayaan ini paling konkret berupa  benda-benda atau hal-hal yang dapat dilihat, diraba, dan sebagainya. 
Dalam penelitian ini konsep kebudayaan yang dirujuk adalah wujud kebudayaan ideal yang merupakan suatu kompleksitas dari ide-ide, gagasan, pesan kearifan, norma-norma,  peraturan-peraturan, dan sebagainya yang berada dalam kehidupan manusia  yang dapat ditemui dalam sastra kaba.
2.      Pesan Kearifan Budaya
            Pengertian pesan kearifan  budaya dapat dijelaskan  berdasarkan   kata-kata  yang menjadi dasarnya yaitu, ‘pesan’, ‘kearifan’, dan ‘budaya’. Pertama, definisi pesan ditelusuri melalui Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) yang maknanya adalah 1) perintah,  nasihat,  permintaan, amanat, yang disampaikan melalui orang lain. 2) perkataan nasihat  dan wasiat  yang disampaikan seseorang, 3) petaruh yang ada sanksinya kalau dilanggar. Jadi, dalam pesan itu ada bentuk-bentuk verbal berupa nasihat, amanat, perintah, dan wasiat.  Nasihat yang dimaksudkan adalah ajaran atau pelajaran baik berupa petunjuk, peringatan, dan teguran yang baik, sedangkan amanat  adalah pesan yang disampaikan pengarang kepada pembaca. Perintah berarti perkataan yang bertujuan menyuruh melakukan sesuatu, sedangkan wasiat  berarti  pesan terakhir yang disampaikan seseorang  yang akan pergi.   
            Kearifan merupakan kata yang dibentuk dari kata dasar ‘arif’ yang bermakna ‘bijaksana, cerdik dan pandai, berilmu’ yang menunjukkan sifat. Sedangkan kata kearifan merupakan kata benda yang bermakna ‘kebijaksanaan atau kecendekiaan’ (KBBI: 2002: 65). Dengan demikian yang dimaksud dengan kearifan dapat berupa perkataan atau tindakan, perbuatan yang menunjukkan sifat arif, yaitu bijaksana, cerdik dan pandai, serta berilmu. Rahyono (2009:7) menyatakan bahwa kearifan merupakan kecerdasan yang dimiliki sekelompok (etnis) manusia yang diperoleh melalui pengalaman hidupnya serta terwujud dalam ciri-ciri budaya yang dimilikinya. Bila dikaitkan dengan penelitian ini kearifan berarti kecerdasan dan kebijaksanaan yang dihasilkan masyarakat budaya yang direkam atau didokumentasikan  dalam cerita rakyat kaba berdasar pengalam hidup yang dilaluinya.
            Selanjutnya definisi ‘budaya’, pada bagian sebelumnya sudah dijelaskan bahwa budaya adalah  keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik sendiri manusia dengan belajar.          Berkaitan dengan definisi  kata ’pesan’, ’kearifan’ dan definisi ’budaya’, maka yang dimaksud  dengan pesan kearifan budaya adalah nasihat, petunjuk, peringatan, dan teguran yang baik yang dilakukan  seseorang  dalam bentuk  norma-norma, aturan-aturan, dan  tindakan yang menunjukkan kecerdasan dan kebijaksanaan. Bentuknya dapat berupa nasihat adat,  aturan  hidup dalam masyarakat,  amanat  tentang pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem pencaharian, dan teknologi.  Dengan demikian,  pengungkapan pesan kearifan budaya dapat terkait dengan pengungkapan tujuh aspek kebudayaan yang  dinyatakan Koendjaraningrat (2000).
            Berdasarkan uraian di atas, dalam kajian ini yang menjadi objek penelitian adalah kaba-kaba yang tertulis dan analisis pesan kearifan budaya yang dimaksudkan adalah deskripsi dan interpretasi pesan kearifan kehidupan dalam teks kaba yang dapat berupa dialog, monolog, wacana, paragraf, kalimat, dan kata yang tertulis dan yang tersirat dalam teks kaba tertulis.