Sabtu, 05 Desember 2015
Dijauhi Orang yang Setia Karena Maksiat | Ajaran Islam
Selasa, 10 November 2015
Terjemahan Surah An-Nisaa Ayat 36-38
Sembahlah
Allah
dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya
dengan sesuatu pun.
dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya
dengan sesuatu pun.
Dan berbuat
baiklah kepada dua orang ibu-bapak,
karib-kerabat,
anak-anak yatim,
orang-orang miskin,
anak-anak yatim,
orang-orang miskin,
tetangga yang dekat
dan tetangga yang jauh,
dan tetangga yang jauh,
teman sejawat,
ibnu sabil
dan hamba sahayamu.
ibnu sabil
dan hamba sahayamu.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong
dan
membangga-banggakan diri,
(36)
(yaitu) orang-orang yang kikir,
dan menyuruh orang lain berbuat kikir
dan menyuruh orang lain berbuat kikir
dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka.
Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang
kafir siksa yang menghinakan.
(37)
Dan (juga) orang-orang yang
menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia,
dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah
dan kepada hari kemudian.
menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia,
dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah
dan kepada hari kemudian.
Barang siapa yang mengambil
sayitan itu menjadi temannya,
maka syaitan itu adalah teman
yang seburuk-buruknya.
(38)
Sabtu, 31 Oktober 2015
PEMBANGUNAN KARAKTER DENGAN NILAI BUDAYA MERANTAU: SEBUAH REFLEKSI CERITA KLASIK MINANGKABAU
Oleh
Dr.
Abdurahman, M.Pd.
Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang
ABSTRAK
Tulisan ini memaparkan pembangunan
karakter dengan nilai budaya yang direfleksikan dalam peristiwa merantau pada cerita
klasik Minangkabau. Sebagai objek analisis digunakan cerita kaba “Sibuyuang
Karuik” yang tokoh utamanya dikisahkan pergi ke rantau karena kekerasan dalam
rumah tangga. Dari kisah itu diuraikan nilai budaya merantau di antaranya: berserah
diri kepada Allah, berprilaku baik dan jujur, saling-tolong-menolong, mandiri, dan
berbuat baik kepada orang lain. Pembahasan yang ringkas ini diharapkan dapat
menjadi bahan masukan untuk membangun karakter peserta didik dalam apresiasi cerita
klasik Minangkabau dalam pembelajaran sastra untuk menghadapi solusi kehidupan
pada masa kini dan mendatang.
A.
Pendahuluan
Karya sastra merupakan cerminan kehidupan
masyarakat karena di dalamnya diceritakan realitas kehidupan masyarakat yang
tidak jauh berbeda --bahkan persis sama-- dengan kehidupan dalam realitas yang
sebenarnya. Kesamaan itu terlihat melalui latar cerita, nama tokoh-tokohnya,
dan persoalan atau tema yang diangkat dalam
cerita. Gambaran seperti itu ada pada cerita klasik “Kaba Si Buyuang Karuik” (KSBK), sebuah cerita yang berlatar tempat Pariaman, Padang, Medan, Palembang, dan
Betawi. Tokoh utamanya Bagindo Karuddin dan keluarganya sebagai tokoh sampingan
dengan nama-nama orang Pariaman. Selain itu, persoalan utamanya, yaitu ‘peristiwa
merantau’ merupakan budaya yang khas
Minangkabau khususnya Pariaman. Kiranya, tidaklah berlebihan kalau kisah KSBK ini
disebut cerminan peristiwa sesungguhnya yang
terjadi dalam realita masyarakat pendukungnya.
KSBK yang merupakan ciplakan realitas nyata itu,
mengisahkan suka duka perjalanan anak manusia yang berasal dari desa hingga
sampai di rantau dan diakhiri dengan tokoh
utama sukses di rantau. Kesuksesan di rantau itu merupakan fenomena yang
menarik untuk dibahas karena banyak kisah nyata yang juga sama dengan kisah
ini. Di samping itu, orang tentunya kagum dengan kesuksesan khususnya
kesuksesan orang rantau dan cerita ini dapat menjadi kritik sosial. Tambahan
lagi, yang lebih menarik dan bernilai untuk
dihayati adalah pesan tentang nilai-nilai budaya merantau yang setelah dinilai
masih relevan untuk membangun karakter kehidupan pembaca. Kerelevanan nilai-nilai
budaya itu dapat dijadikan pembangun karakter karena latar budaya antara KSBK sama dengan budaya
pembaca. Dengan latar budaya yang sama, tentunya pemahaman nilai budaya menjadi
suatu yang bernilai lebih, yaitu merasakan persoalan budaya sendiri dan rasa
memiliki keakraban nilai budaya.
Pesan moral dan nilai budaya merantau KSBK itu
tentunya perlu dipahami lalu dipresentasikan dan diamalkan jadi karakter dalam
kehidupan. Akan tetapi yang menjadi
permasalahan adalah nilai-nilai budaya yang direfleksikan dalam cerita KSBK tidak semuanya disampaikan secara eksplisit dan
masih banyak yang tersembunyi dalam tindakan tokoh dan pesan pendek pengarang.
Untuk dapat meraih nilai budaya KSBK perlu adanya eksplorasi berupa pemaknaan
dan interpretasi. Oleh karena itu, untuk mendapatkan pesan nilai-nilai budaya
itu diberikan ulasan berupa interpretasi
makna budaya cerita klasik KSBK sehingga pembaca (peserta didik) akan lebih
terbantu. Alasan tersebut merupakan
landasan dasar yang digunakan untuk mewujudkan tulisan ini.
Tulisan ini difokuskan
pada persoalan yang sama dengan tema cerita KSBK, yaitu persoalan
merantau. Persoalan itu dipilih menjadi pembahasan didasarkan kepada beberapa
alasan. Pertama, persoalan merantau merupakan peristiwa yang familiar dengan
kita dan di zaman globalisasi ini makin
banyak masyarakat yang merantau. Oleh karena itu, analisis tentang merantau
tentu menjadi suatu yang diperlukan sebagai penambah wawasan dan pengalaman. Kedua,
dalam persoalan merantau tokoh (cerita) harus memegang nilai-nilai budaya baik
supaya berhasil hidup di negeri orang. Nilai-nilai budaya itu tentu sangat
perlu menjadi amanat tulisan ini sebagai pembangun karakter bangsa. Ketiga, umumnya kita peserta seminar ini
mungkin perantau, baik perantau jauh atau dekat. Dengan kenyataan demikian, pembahasan
nilai budaya KSBK ini diharapkan dapat
menjadi sebuah pertimbangan dalam
menghayati perantauan dan pembangunan karakter.
Metode
pembahasan yang digunakan adalah
analisis deskriptif dan interpretasi cerita. KSBK yang dijadikan objek, yaitu “Kaba
Si Buyuang Karuik” (edisi baru) versi penulis Syamsuddin St. Rajo Endah,
terbitan Kristal Multi Media kota Bukittinggi, Cetakan ke-2 Januari tahun 2008,
yang terdiri dari 85 halaman. Diterbitkan pertama kali oleh penerbit CV Pustaka
Indonesia Bukittinggi 1960. Untuk mengetahui jalan cerita KSBK bersama ini dilampirkan
sinopsis cerita.
B. Pembangunan Karakter dengan Nilai Budaya Merantau
1.
Hakikat
Nilai Budaya Merantau
Pada
bagian ini dijelaskan pengertian merantau dan nilai budaya. Pertama konsep
tentang merantau. Secara historis perkembangan pengertian ‘merantau’ telah mengalami
perubahan sesuai dengan perkembangan aspek sosial kemasyarakatan dan
pemerintahan yang terjadi sejak dulu. Pada waktu daerah Minangkabau masih dalam
sistem kerajaan, ‘merantau’ berarti berpindahnya masyarakat dalam kerangka
medirikan pemukiman baru sebagai
pengembangan wilayah kerajaan. Daerah yang mejadi tujuan adalah daerah
rantau yang merupakan daerah di luar daerah asal (darek). Dalam perpindah merantau yang demikian perantau membawa
pola-pola budaya yang sama dengan daerah asal untuk disoasilisaikan dalam
kehidupan bersama. Artinya, perantau tidak menyesuaikan nilai-nilai budaya
hidupnya dengan dengan budaya di tempat yang baru.
Pada pengertian yang sekarang merantau
tidak berkegiatan seperti waktu itu
lagi. Merantau merupakan proses interaksi anggota masyarakat dengan dunia luar
berupa petualangan pengalaman dan geografis dengan meninggalkan kampung halaman untuk mengadu nasib di negeri orang (Elfindri dkk, 2010:52). Merantau sering diartikan sebagai kegiatan
perpindahan meninggalkan negeri asal
dengan tujuan untuk mencari nafkah (Tsuyoshi Kato:2005:156). Pada pengertian yang kedua ini merantau berarti pergi dari kampung asal
dengan kesadaran untuk mencari nafkah atau mendapatkan pengalaman hidup. Dalam
arti yang demikian perantau dalam menjalankan hubungan sosial lebih menyesuaikan nilai-nilai budaya
dengan nilai budaya dimana rantau mereka
tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya sendiri. Perantau juga menyiratkan orang yang ta(h)u peran di mana mereka harus
mensiasati kehidupan yang baru untuk lebih membawa kemajuan dari keadaan
sebelumnya.
Kedua, pengertian tentang nilai-nilai budaya ialah
konsepsi, ide-ide, gagasan, norma-norma,
dan bentuk-bentuk lainnya (tersirat dan tersurat) yang sifatnya
membedakan dari apa yang diinginkan, yang mempengaruhi pilihan terhadap cara,
tujuan tindakan, dan di pandang penting dalam hidup (Abdurahman:2011). Nilai budaya juga mencakup ide-ide atau gagasan yang menuntun untuk
menentukan tentang apa yang benar, baik, dan indah yang mendasari pola-pola
budaya dan memandu masyarakat dalam menanggapi unsur jasmaniah dan lingkungan
sosial (Koentjaraningrat,2000).
Dalam
penelitian ini nilai budaya merantau adalah ide-ide atau konsepsi yang menonjol
dalam kaba KSBK yang menjadi identitas
budaya merantau tokohnya sehingga
nilai-nilai itu menjadi kesamaan yang unik yang cenderung menjadi nilai budaya. Nilai itu berupa
konsepsi-konsepsi mengenai apa yang dianggap
berharga dan penting dalam hidup sehingga dapat berfungsi sebagai
pedoman yang memberi arahan dan orientasi dalam kehidupan yang ada dalam karya
sastra.
Dengan
mencermati pengertian nilai budaya merantau beberapa hal yang akan
dipertanyakan dan dijelaskan, di antaranya mengapa tokoh cerita merantau,
bagaimana nilai-nilai budaya merantau, apa yang didapatkan dengan merantau, dan
apa kontribusi merantau bagi keluarga yang ditinggalkan, bagaimana membangun
karakter dengan nilai budaya merantau. Untuk menjawab hal itu dibahas KSBK
sebagai karya yang berisi nilai-nilai budaya merantau.
2.
Nilai
Budaya Merantau dalam KSBK
Untuk menjelaskan
nilai-nilai budaya merantau dalam KSBK ditampilkan abtraksi satuan peristiwa cerita
untuk dimaknai dan dijelaskan kandungan nilai budayanya. Berikut abstraksinya:
I.
Cerita
KSBK diawali gambaran keluarga nelayan yang sangat miskin di Pariaman. Suatu
hari tokoh Buyuang Karudin (BK) berumur 10 tahun dan adiknya Siti Syamsiah 6
tahun memasak nasi di tungku lalu seekor
jago kesayangan bapaknya menabrak periuk sehingga beras yang dimasaknya tumpah
ke abu. Ayam itu dipukulnya dan seketika itu mati. Menyadari kejadian itu Bagindo
Karudin takut karena pasti kedua orang tuanya akan marah besar karena keduanya
sudah sering menanganinya.
II.
Kedua
adik kakak itu lari dari rumah untuk menghindari kekerasan ortunya dengan
bertawakal kepada Allah.
III.
Dalam
perjalanan, mereka mendapat pertolongan dari orang-orang yang bertemu dengannya,
satu di antara penolong itu tukang pedati yang memberikan tumpangan kepadanya
sehingga mereka sampai di Padang.
IV.
Di
Padang keduanya menawarkan jasa kepada Sutan Pesisir pedagang nasi dan mereka
bekerja apa yang bisa di sana dan kemudian menjadi orang tua angkatnya.
V.
Buyuang
Karudin mencari kerja yang lebih baik dan dia diterima menjadi tukang kebun
seorang jaksa.
VI.
Tuan
Jaksa pindah ke Palembang dan BK ikut bersamanya. Sebelum pergi ia menemui
Sutan Pesisir dan ia diberi nasehat merantau oleh Sutan pesisir.
VII.
Di
rantau BK rajin bekerja dan menabung sehingga tabungannya mencukupi untuk
berdagang.
VIII.
BK
mohon izin kepada Tuannya untuk berdagang dan Tuannya membantu dengan tambahan
modal.
IX.
BK
mendapat tempat berdagang yang strategis dan dagangannya laris dan dia
memperkejakan pelayan tetapi banyak yang curang.
X.
BK
berteman dengan Zainuddin dan ia menganjurkan BK menikah supaya bisa membentunya
dan saling bekerjasama.
XI.
Istri
BK meninggal dan dia putus asa. Dalam kedaan begitu ia diajak Zainuddin ke
Betawi untuk menghilangkan dukanya. Di sana ia jatuh cinta pada Sarinam anak
angkat bu Sarijah dan mereka menikah.
XII.
BK
makin sukses dalam berdagang dan dapat anak perempuan dari pernikahannya.
XIII.
BK
dan keluarganya pulang kampung menemui orang tuanya dan ortunya menanyakan
adiknya. Ternyata Sarinam adalah adiknya.
XIV.
Sarinam
menyatakan dia adalah Siti Syamsiah adik BK. Ketika ditinggalkan BK di Padang,
kedai nasi Sutan Pesisir terbakar dan mereka pindah ke Medan. Di Medan Sutan
Pesisir meninggal sehingga ia bekerja sebagai pembantu keluarga Belanda.
Tuannya pindah ke Betawi dan ia dibawa ke sana. Ketika istri Tuannya ke luarga
kota, ia nyaris diperkosa tuannya dan ia sempat melarikan diri. Dalam pelarian
itu ia ganti nama dan mengaku orang Jawa dan berbahasa Jawa, lalu kesasar ke
runah nenek Sarijah dan ia menjadi anak angkatnya.
XV.
Semuanya
jadi panik karena aib BK kawin dengan adik kandungnya. Lalu nenek Sarijah
memberikan saran supaya aib ditutup saja dengan mengatakan Siti kematian suami
dan BK mengantarnya pulang. Semua orang percaya.
XVI.
BK
membangun rumah yang bagus untuk ortunya dan membeli sawah dan ladang sehingga
ortunya menjadi orang berada.
XVII.
Adik
BK menikah dengan kepala desa dan BK menikah dengan anak orang kaya di
kampungnya.
XVIII.
BK
kembali ke Palembang melanjutkan usaha perdagangannya yang sudah mengangkat
tingkat ekonominya.
Berdasarkan
abstraksi satuan peristiwa KSBK di atas (I-XVIII) sudah tercermin nilai-nilai
budaya dari kisah merantau BK dari awal
cerita hingga akhir. Untuk lebih konkritnya akan diuraikan satu per satu
dan diberikan tafsiran dengan konteks budaya pendukungnya serta pentingnya
nilai budaya itu dalam pembangunan karakter.
a)
Nilai
Budaya Keterampilan Hidup
Tokoh BK yang berumur sepuluh tahun dan
adiknya berumur enam tahun diceritakan sedang memasak di tungku di rumahnya (I)
sedangkan kedua orang tuanya mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup
sehari-hari. Ini berarti BK dan adiknya sejak kecil sudah diajarkan oleh orang
tuanya keterampilan hidup (life skill)
yang salah satu keterampilan hidup itu adalah pandai memasak. Dalam budaya
Minangkabau klasik ada banyak keterampilan dasar untuk hidup yang dapat
dipelajari dalam rumah tangga atau dalam lingkungan sosial. Di antara
keterampilan hidup itu dikenal dengan formulasi ‘pandai 4M’ (memasak,
mengayam/menjahit, mengaji, membela diri/silat). Keterampilan itu sejak kecil
sudah bisa diwarisi anak dengan belajar meniru atau dengan bimbingan orang tua.
Dengan keterampilan dasar itu anak-anak
cepat mandiri dan mulai melepas ketergantungannya dari orang tua dalam
kehidupan sehari-hari. Malah dengan kemandirian, anak dapat cepat dapat
bekerjasama dan bahkan membantu orang tuanya seperti BK dan adiknya. Keterampilan
dasar itu juga bisa berpotensi menjadi solusi hidup setelah dewasa dimana anak
yang pandai memasak akan membuka rumah makan nantinya, yang pandai menjahit
akan membuka konveksi, yang pandai mengaji menjadi guru, dan seterusnya.
Jadi,
pesan KSBK adalah keterampilan hidup bagi anak adalah suatu yang penting untuk
diwarisi oleh anak. Oleh karena itu
keterampilan dasar sudah seharusnya dikuasai sejak usia dini. Dengan refleksi
cerita KSBK, bagaimanakah dengan anak sekarang? Apakah mereka yang seumur BK
sudah bisa memasak? Pesan nilai budaya pembelajaran keterampilan dalam KSBK
kiranya merupakan pesan pengarang yang perlu ditiru untuk pembangunan nilai
budaya.
b)
Nilai
Budaya Menghindari Konflik, Menyelamat Diri, dan Bertawakal
Meskipun BK dan adiknya anak penurut
dan baik tetapi dalam kehidupan sehari-hari mereka sering mendapat kekerasan
fisik dan nonfisik (III). Hal ini disebabkan karena keluarga mereka hidup dalam
serba kekurangan dan orang tuanya sering kalut memikirkan beban hidup. Kedua
orang tua BK pemarah dan sering main tangan yang tidak bisa diterima oleh akal
sehat BK. Ketika BK bersalah tidak sengaja membunuh ayam bapaknya (I) mereka
lari dari rumah untuk menyelamat diri
(II). Jadi, kepergian BK ke rantau disebabkan oleh dua faktor, yaitu
faktor kesulitan ekonomi dan kekerasan dalam rumah tangga.
Ini berarti pengarang memberikan
pesan nilai budaya, supaya orang yang terancam jiwanya lebih baik menyelamatkan diri dan menghindari
konflik dan pergi ketempat yang aman. Pesan ini jelas sebuah agitasi edukatif yang
menyarankan agar orang tidak tinggal dalam penderitaan dan harus berusaha
keluar dari keadaan yang tidak meguntungkan sama sekali. Bumi Tuhan ini luas
maka carilah kedamaian di atasnya dengan merantau. Tempat yang dipilihkan oleh
pengarang adalah Kota (Padang), yaitu tempat orang berusaha dengan berbagai
macam cara dan pusat perdagangan. Arahan pengarang, meyarankan orang lari ke
kota tentu relevan dengan ajaran adat dan agama. Adat mengajarkan “mencari uang
ke tempat yang ramai, mencari kerja ketempat yang tidak banyak saingan”,
sedangkan dalam agama dinyatakan bahwa
90% uang beredar di pasar (Julius, 2007). Jadi, kalau ingin keluar dari kesulitan
ekonomi lebih baik berkiprah di kota terutama di pasar.
Selain itu, dalam menyelamatkan diri pengarang memberikan pesan perlunya
bertakwa kepada Allah. Pesan ini tentu sesuai dengan janji Allah Swt, dalam
al-Quran, yaitu Allah bersama orang yang bertakwa (QS,2:194), orang yang bertawakal
akan diberi jalan keluar dari masalah dihadapinya (QS,65:2). Jadi, bertakwa adalah
solusi yang tepat untuk keluar dari masalah dan diberi kenudahan berurusan. Nilai
budaya takwa adalah nilai yang tercantum dalam tujuan pendidikan kita yang
harus diamalkan dalam hidup supaya selamat dunia dan akhirat. Nilai budaya di
atas perlu dibangun dalam membina karakter bangsa.
c)
Nilai
Budaya Mencari Induk Angkat
Pada abstraksi IV BK dan adik menawarkan jasa pada Sutan
Pesisir bekerja di kedainya kemudian beliau jadi bapak angkatnya. Ini
menunjukkan pengarang KSBK mengarahkan tokoh
BK dengan menerapkan nilai budaya perlunya induk angkat di rantau. Nilai budaya
ini merupakan pesan adat yang terkenal dalam kehidupan masyarakat kita dan
menjadi pantun sehari-hari, “Kalau anak
pergi ke lepau hiu beli belanak beli- ikan panjang beli dahulu- kalau anak
pergi merantau ibu cari sanak cari – induk semang cari dahulu” (bandingkan,
Amir, 2007).
BK
dalam mencari induk angkat kepada orang yang berkedai nasi dan hanya berdua
saja suami istri. Artinya, BK dapat menyelaraskan keterampilan yang dimilikinya
dengan pekerjaan bapak angkatnya, yaitu keterampilan memasak yang sudah
dimilikinya sejak di kampung. BK juga penuh pertimbangan dalam mencari orang
tua angkat sehingga mereka disenangi karena orang tua itu karena mereka tidak
punya anak dan ditambah lagi beliau itu orang penyayang. Jadi, dalam mencari
induk angkat disarankan juga supaya mengunakan nilai penuh pertimbangan,
besikap baik, santun, dan jujur. Dengan adanya induk angkat itu BK dapat
memenuhi kebutuhan makan karena mereka berdagang nasi dan mereka bekerja dan
mendapat fasilitas tinggal bersama. Pesan dalam pantun adat itu ada benarnya
dalam menganjurkan mencari induk angkat di perantauan. Induk angkat dalam
wawasan ekonomi bisa juga berarti pemodal dan mentor yang ditiru dalam
berusaha. Artinya, jika ingin sukses berteman dengan orang sukses dan belajar
kepadanya.
Bagaimana dengan pembangunan karakter anak-anak kita sekarang? Tentu nilai
budaya mencari induk angkat semakin perlu bagi mereka karena tidak mungkin
orang bisa maju jika tidak ada yang mau memajukan dan mau menfasilitasi mereka.
Untuk bisa mendapat induk angkat kira seseorang perlu memiliki sikap saling menolong dan jujur dalam
berkehidupan. Kiranya, sikap masyarakat yang terlalu individualis perlu
dikembalikan supaya menjadi masyarakat yang saling menolong dan saling menguntungkan.
d)
Nilai
Budaya Berkarya
Setelah berapa lama tinggal dengan Sutan
Pesisir, BK bekerja dengan seorang jaksa
sebagai tukang kebun, di sana ia diberi gaji bulanan dan tinggal di rumah jaksa
itu (V). Karena etika yang baik ia menjadi kesayangan tuannya itu. Ini berarti
dalam berkarya selain membutuhkan keterampilan juga diperlukan pengamalan nilai-nilai
etika. Orang yang jujur akan dipercaya dalam bekerja, yang suka ringan tangan
juga disukai, dan dengan beretika itu semua orang sayang kepada BK. Dalam KSBK dideskripsikan sifat BK di
antaranya, “Adapun sifat kerjanya…tidak
ada kerja yang dipantangkan, cepat kaki ringan tangan, tidak pandai
bermalas-malas, bekerja rajin lagi sangat sungguh, belum disuruh sudah pergi,
belum ditegah sudah berhenti (arif), kesayangan orang, tidak ada kena caci, apa
pun kerja diselesaikan saja, anak muda tahu diuntung, tidak sombong, bicaranya
yang benar-benar saja, sangat lurus dan hemat”(KSBK:2008).
Sifat yang dimiliki BK adalah sikap yang
baik dan sikap ini menjadikan BK
mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan kesayangan orang. Sikap BK itu tentu merupakan nilai-nilai budaya
yang relevan bagi siapa yang ingin maju dalam pembangunan karakter kehidupan
yang baik. Dalam sikap BK itu juga
tergambar beberapa nilai seperti kreatif, empatif, dan rendah hati yang semua
perlu membentuk karakter masyarakat yang
berbudaya baik.
e)
Nilai
Budaya Hijrah ke Kota
Pada
abstraksi VI-VIII tuan BK pindak ke Palembang dan ikut bersamanya. Sebelum
berangkat BK menemui Sutan Pesisir dan beliau menasehati BK. Bentuk nasehat beliau
adalah sifat yang mesti dipakai kalau merantau sebagai berikut. “Tambahan pulo di ang Buyuang, himaiklah
dalam babalanjo, simpan pitih tiok bulan, kok untuang pambarian Allah, dapeklah
bapokok mangaleh, dapeklah kadaian nan elok, sabab mangko nan bak kian, tidak
ado kayo mamakan gaji” (KBK:h. 29).
(Wahai
Buyung,
-hematlah dalam
berbelanja,
-simpan
uang tiap bulan,
-kalau untung
ada pemberian Allah, dapatkanlah pokok berdagang,
-dapatkanlah
kedai yang strategis,
-sebab, tidak
ada orang kaya hanya mamakan gaji).
Pesan ini sengaja penulis penggal supaya lebih
dicermati. Nilai budaya yang harus dimiliki perantau adalah: hemat dalam hidup
dan jangan membelikan uang kepada yang tidak bernilai guna kalau dapat barang
yang dibeli harus bernilai produktif. Ini artinya perlu kecerdasan finansial
dan pandai berhemat untuk masa depan. Ini juga berarti jangan sampai “besar
pasak dari tiang” atau besar pengeluaran daripada pendapatan. Selanjutnya, untuk
bisa maju perlu menabung sedikit demi sedikit setiap bulan. Artinya harus pandai mengelola
keuangan dan memenejnya sehingga dari bulan ke bulan ada yang pertambahan kekayaan.
Jika tabungan cukup jadikan pokok berdagang
dan ushakan mencari kedai atau toko yang strategis tempatnya. Ini tentu
pesan yang budaya yang inspiratif terutama bagi orang yang berusaha di bidang
ekonomi. Mereka perlu memilih tempat yang strategis dan perlu memahami konsumen
dan pembeli.
Pesan yang
terakhir, tidak ada orang kaya makan gaji adalah pesan yang luar biasa dan
cerdas. Valentino Dinsi (2005) menerbit buku yang relevan dengan pesan itu “Jangan Mau Seumur Hidup jadi Orang Gajian”.
Dalam buku itu beliau memotivasi supaya pembaca berbisnis sendiri kalau ingin lebih
kaya. Orang yang hidup dengan gajian memang sudah bisa dihitung pendapatannya
tetapi dengan berdagang pendapatan bisa berlipat ganda. Dan dimungkinkan orang
bisa menjadi kaya raya. BK mengamalkan pesan nilai budaya itu sehingga ia
sukses dalam berdagang. Dalam pembangunan karakter tentulah nilai budaya ini
sangat penting karena kita memerlukan tokoh yang mau membuka lapangan kerja dapat
menfaatkan pontensi yang melimpah di negara ini.
f)
Nilai
Budaya Berkeluarga
Meskipun sibuk berdagang BK tidak
menyia-nyiakan waktu untuk bekeluarga.
BK menikah dengan perempuan yang baik akhlaknya dan juga baik orang tuanya. Hal
itu diketahuinya dan diusakannya melalui temannya Zainuddin. Ini berarti nilai
budaya membangun keluarga itu amat penting. Pentingnya bekeluarga dapat
dipelajari dalam buku berkeluarga. Di antaranya bekeluarga itu penting membina
keturunan yang sehat jasmani dan rohani, membentengi diri dari kejahatan
seksual, mengikuti sunah Rasulullah Saw., dan lainnya.
Pengarang KSBK dalam hal ini seakan memnyampaikan pesan
nilai budaya perlunya berkeluarga. Hendaknya anak muda menikahlah jika sudah
mampu dan jangan menunda karena usia terbaik untuk menikah adalah di waktu
muda. Dengan menikah lebih banyak yang dapat direncakan dan lebih fokus pada
tujuan. Nilai budaya ini amat perlu dipahami agar karakter berkeluargan dan berhubungan
dengan sesama yang sehat dan bermartabat dapat diwujudkan.
g)
Nilai
Budaya Berteman
BK berteman dengan Zainuddin. Zainuddin
adalah anak yang baik suka menolong BK. Dia cenderung menyuruh yang baik dan
melarang yang mungkar sebagai sifat baiknya. Dia lah menganjurkan BK supaya
bekeluarga dan ketika istri BK meninggal dia pula yang membujuk agar BK tidak
putus asa. Kemudian ia menemani BK ke Betawi
untuk menghilangkan duka BK. Dengannya BK menjadi orang selamat dalam
pergaulan dan aman.
Artinya dalam
KSBK pengarang menyatakan bahwa seseorang perlu teman yang baik, yaitu teman
yang mencegah dari kesesatan dan menganjurkan kebaikan. Teman sejati adalah teman
yang mengajak ke surga dan memelihara kita supaya tidak terjerumus ke
neraka. Nilai budaya berteman dan
memilih teman pada saat ini sangat urgen. Salah teman bisa salah pergaulan dan
salah perilaku dan bisa terjerumus ke patologi budaya. Karena itu, pembangunan
karakter dengan nilai budaya berteman amat perlu diperhatikan.
h)
Masih
banyak nilai budaya merantau dalam KSBK yang belum dibahas di antaranya adalah:
-Nilai Budaya Berbakti kepada Keluarga
-Nilai Budaya Meningkatkan Status Sosial
-Nilai Budaya Menutup Aib
-Nilai Budaya Waspada
-Nilai Budaya Kemandirian
-Nilai Budaya Suka Menolong dan Saling
Menolong
-Nilai Budaya Hubungan Sosial
Semua nilai budaya KSBK yang sudah dibahas
merupakan nilai budaya yang penting
dalam pembangunan karakter semoga uraian ini dapat membantu dalam memahaminya.
Penutup bagian ini, penulis kutip firman
Allah Swt., yang artinya “Dan hendaklah
takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka
anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.
Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka
mengucapkan perkataan yang benar.(QS,4:9).
C.
Penutup
Kepedulian kita sebagai pendidik kepada
pembinaan dan pembangunan sumber daya manusia yang berkarakter baik semakin
ditantang dalam kehidupan zaman globalisasi ini. Ada banyak indikasi yang
menunjukkan keharusan hal itu, di antaranya, meskipun pendidikan karakter telah
dicanangkan sejak lama sesuai dengan tujuan pedidikan dan beberapa tahun yang
lalu sudah direlisasikan dalam kurikulum, namun realisasi sikap dan tindakan
kehidupan yang berkarakter dari sebagian peserta didik masih belum menunjukkan
kegembiraan dan malah semakin mengkawatirkan (Riwayat:2010). Nampaknya peserta
didik seakan tidak pernah absen (dalam
pemberitaan media) terlibat dalam peristiwa patologi sosial, krisis moral, dan
penyimpangan budaya. Indikasi itu semakin mengental karena mereka yang terlibat dalam berbagai
peristiwa itu seakan tidak menunjukkan sikap sudah mendapat sentuhan pendidikan
karakter.
Kenyataan
yang miris dari berita-berita itu tentu semakin menuntut kita untuk
mengusahakan dan memperjuangkan pendidikan karakter agar peserta didik menjadi
sumber daya manusia yang berkualitas dan berkarakter baik yang kemudian sangat
diperlukan dalam pembangunan bangsa dan negara.
Tuntutan itu tentu juga terkait dengan keyakinan bahwa hanya dengan
mereka yang berkarakter baik itulah tujuan negara yang berbunyi menciptakan masyarakat yang adil makmur itu
dapat diwujudkan. Sebaliknya, dengan sumber daya manusia yang berkarakter tidak
baik negara ini makin dipenuhi oleh ketidaknyamanan sosial dan budaya serta
krisis nilai yang mencemaskan.
Untuk menjawab
dan meminimalisasi tantangan itu peran pembelajaran sastra sungguh sangat
diperlukan karena sudah sejak lama dipercaya bahwa dengan seni (sastra) manusia
bisa menjadi halus budi dan bahasanya. Oleh karena itu, peserta didik yang diharapkan berkarakter
baik harus difasilitasi dengan apresiasi karya sastra sebagai piranti sumber
pengetahuan dan kegiatan yang dapat mentranformasikan pendidikan karakter.
Salah satu cara yang dapat dilakukan pendidik adalah dengan mengarahkan
perhatian akademis mereka kepada analisis
karya sastra yang sarat dengan nilai budaya pedagogis seperti KSBK.
Melalui
perhatian akademis berupa sikap kreatif dan
perilaku apresiasiatif terhadap karya
sastra siswa dapat diarahkan mencermati karakter tokoh cerita yang mungkin dan
menjadi alat pengingat nilai dalam kehidupan. Dengan apresiasi karya sastra KSBK
yang memuat nilai-nilai itu diharapkan siswa tertantang membangun kontribusi
nilai-nilai budaya yang dapat menjadi pedoman dalam menentukan serangkaian
sikap dan tindakan dalam menjalani kehidupan. Dalam kerangka seperti itulah
analisis KSBK dengan nilai-nilai budaya ini dapat didayagunakan sebagai media
atau sumber belajar bagi siswa. Semoga tulisan ini menginspirasi pembaca.
DAFTAR RUJUKAN
Abdurahman. Nilai-Nilai Budaya dalam Kaba Minangkabau:
Suatu Interpretasi Semiotik. Padang: UNP Press, 2011.
Al-Quran
dan Terjemahannya. Bandung: Penerbit Diponegoro, 2000.
Ahmad, Sabaruddin. Kesusastraan
Minang Klasik. Jakarta: Depdikbud, 1979.
Amir. Adat Minangkabau Pola dan
Tujuan Hidup Orang Minangkabau. Jakarta: Mutiara
Sumber Widya, 2007.
At-Tubani, Riwayat. Erosi Moralitas di Minangkabau. Padang:
Media Explorasi, 2010.
Dinsi, Valentino
dkk. Jangan Mau Seumur Hidup jadi Orang
Gajian. Jakarta: Let’s Go Indonesia, 2005
Elfindri, Desri
Ayunda, Wiko Saputra. Minang Entrepreneurship. Jakarta: Baduose Media,
2010.
Julius, H. Mambangkik
Batang Tarandam. Bandung: Citra Utama, 2007.
Kato, Tsuyoski. Adat
Minangkabau dan Merantau dalam Perpekstif Sejarah. Jakarta: Balai Pustaka.
2005.
Koentjaraningrat. Kebudayaan,
Mentalitas, dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia, 2000
Endah,
Sjamsudin St Radjo. Kaba Sibuyuang Karuik.
Bukittinggi: Kristal Multimedia, 2008.
Bio Data Penulis
Abdurahman lahir di
Batipuh Kab. Tanah Datar, 23 April 1965.
Beliau adalah dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS UNP Padang sejak
1990 sampai sekarang. Alumnus IKIP
Padang (S1) tahun 1989 pada jurusan yang sama dan tamat UNJ Jakarta S3 pada
tahun 2011.
REFLEKSI KEARIFAN NILAI BUDAYA MINANGKABAU DAN GAMBARANNYA DALAM CERITA KLASIK
Abdurahman
Prodi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Jurusan
Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas
Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang
ABSTRAK
Tulisan ini bertujuan memaparkan refleksi dinamika
kearifan nilai budaya Minangkabau dan gambarannya dalam cerita klasik yang
diambil dari cerita rakyat yang sudah
terkenal di antaranya, cerita Kaba Cinduo
Mato, cerita Kaba Magek Manandin,
cerita Kaba Sutan Lanjungan, dan Kaba Rancak Dilabuah. Data dianalisis dan
interpretasi secara semiotik kemudian
dijelaskan refleksi kearifan nilai budayanya. Dari analisis ditemukan kearifan hidup bertakwa, kearifan
hidup berusaha dan berdoa, kearifan menuntut ilmu, dan kearifan hidup
bermanfaat sesuai dengan ajaran adat Minangkabau. Diharapkan tulisan ini dapat
menjadi inspirasi untuk memahami dan menganalisis eksistensi kearifan nilai
budaya Minangkabau dalam naskah cerita di samping dapat pula diterapkan dalam pendidikan
keluarga, serta dapat dimanfaatkan
sebagai bahan dalam pembelajaran apresiasi sastra di sekolah.Key word: Kearifan, Nilai Budaya, Cerita Klasik Minangkabau
A. Pendahuluan
Memelihara
sastra berarti memelihara kebudayaan karena di satu pihak sastra merupakan
bagian dari kebudayaan dan di pihak lain sastra merupakan sarana komunikasi
antara pengarang, pembaca, dan masyarakat yang mempertahankan aspek-aspek
kebudayaan. Negara besar yang tampil sebagai negara berbudaya biasanya memelihara dan mengapresiasi sastra dan
unsur-unsur masayarakatnya menjadikan sastra sebagai sumber pengalaman
berestetika, sumber etika, sumber filsafat dan nasihat, sumber pendidikan dan
pengajaran, dan bahkan ilmu pengetahuan. Ratna (2005:554) menyatakan bahwa
memelihara sastra berarti memelihara kebudayaan dan memelihara nilai-nilai
kehidupan. Sastra merupakan bagian sentral kebudayaan dalam sastra lama atau
modern terkandung kearifan nilai-nilai peradaban suatu bangsa.
Oleh karena
pentingnya sastra maka pewarisan
kearifan nilai-nilai budaya oleh masyarakat sudah dilakukan dengan cara
bersastra. Masyarakat Minangkabau melalui
cerita klasik telah mewariskan
nilai budayanya. Cerita rakyat yang disebut dengan kaba disampaikan dengan kegiatan yang disebut bercerita. Secara
umum kaba merupakan cerita rakyat berbahasa Minangkabau
dalam bentuk fiksi yang disampaikan dalam bentuk prosa liris (Ahmad, 1979:27). Sebagai cerita
rakyat kaba telah dituturkan dan diwariskan secara turun-temurun dari dahulu
hingga sekarang. Penceritaan kaba
berfungsi sebagai alat pendidikan budaya dalam rangka mewariskan kearifan
nilai-nilai budaya tentang kehidupan di samping sebagai hiburan yang menyenangkan.
Pada tiga dekade terakhir ini intensitas
penceritaan cerita rakyat kaba tidak seintensif pada masa sebelumnya karena
peminat cerita kaba yang sudah menurun.
Hal itu juga terjadi karena terkait dengan
keberadaan cerita kaba yang khas tradisi Minangkabau dengan medium bahasa
daerah yang sudah tidak familiar dengan kaum muda. Di samping itu, kenyataan
bahwa seni tradisi cenderung di kesampingkan karena menariknya seni modern
semakin melesukan peminat cerita klasik. Dengan makin berkurangnya minat dan
apresiasi generasi muda pada sastra kaba telah pula menjadikan mereka makin jauh dari
nilai-nilai budaya Minangkabau.
Keadaan ini
tentu tidak bisa dibiarkan terus-menerus karena suatu saat pewarisan
nilai-nilai melalui cerita kaba
Minangkabau itu tidak dikenal lagi. Dengan demikian, berarti nilai-nilai
berharga yang ada dalam sastra rakyat itu tidak dapat dikembangkan untuk
dimanfaatkan bagi kehidupan mendatang Bakar dkk (1984:3). Sejatinya, keberadaan cerita kaba sebagai produk budaya Minangkabau merupakan objek yang sarat
dengan pesan kearifan nilai-nilai budaya. Nilai-nilai budaya dalam kaba merefleksikan berbagai kearifan
nilai-nilai kehidupan dari aspek sosial,
ekonomi, adat, dan budaya yang bersumber dari kenyataan hidup. Hal itu seperti
yang diungkapkan oleh Samovar dan Porter (2001:38) yang mengatakan bahwa setiap
cerita rakyat bercerita tentang
orang-orangnya yang digunakan untuk mentransfer nilai budaya dari generasi ke
generasi berikutnya. Dan setiap budaya memiliki banyak cerita yang
masing-masing menekankan sebuah nilai yang fundamental.
Berdasarkan alasan di atas maka usaha
untuk mengeksplorasi cerita klasik kaba
dan meneliti kearifan nilai-nilai budaya yang direfleksikannya merupakan suatu yang urgen dan mempunyai manfaat yang
dapat membantu masyarakat dalam mengapresiasi kembali nilai budaya yang sudah
hidup lama dalam masyarakat.
Pengungkapan kearifan nilai-nilai budaya kaba
dapat berguna untuk peningkatan kualitas
pemahaman nilai-nilai budaya. Penelitian
nilai-nilai budaya Minangkabau dalam kaba dapat dipadang mempunyai keunikan
karena terkait dengan filosofi dan pandangan hidup budaya Minangkabau yang
khas. Kekhasan itu seperti yang diungkapkan
Naim (1996) bahwa filosofi adat budaya Minangkabau mengandung
nilai-nilai universal dan global yang
langgeng seperti terdapat dalam pepatah petitih adat ”tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan.
Berhubung
cakupan dan pengungkapan nilai budaya sangat umum, maka dalam tulisan ini
nilai-nilai budaya yang akan diacu merupakan nilai-nilai budaya
Minangkabau yang tumbuh dan berkembang
dalam masyarakat berdasarkan adat-istiadat, kebiasaan, perbuatan manusia atau
tokoh yang secara sadar ditaati dan memberikan harapan membawa kebahagiaan
(Djamaris, 1994:17). Nilai-nilai budaya yang dibahas secara garis besar
difokuskan pada masalah kearifan nilai budaya dalam hakikat hidup. Untuk mengungkapkan nilai-nilai budaya dalam cerita, Ratna
(2008) mengemukakan sepuluh pendekatan dan tujuh metode yang dapat digunakan
dalam penelitian sastra. Dalam penelitian yang telah dilakukan penulis
menggunakan pendekatan semiotik sebagai alat pengungkap kearifan nilai-nilai
budaya yang dianalisis dari teks kaba dan dinterpretasi secara semiotis.
Tujuannya adalah mendeskripsikan dan menginterpretasi kearifan nilai-nilai budaya Minangkabau dari cerita klasik sesuai
dengan kajian semiotik. Hasil yang diharapkan adalah sebuah deskripsi,
interpretasi, dan pembahasan nilai-nilai budaya tentang hakikat hidup yang
bersumber dari kaba yang dapat memberikan informasi mengenai nilai-nilai budaya
Minangkabau.
Hasil pembahasan ini dapat
digunakan sebagai sumber informasi bagi masyarakat Indonesia terutama kelompok
etnis Minangkabau dalam memahami
nilai-nilai budaya yang terdapat dalam
kaba Minangkabau. Deskripsi
dan interpretasi nilai-nilai adat budaya dapat berkontribusi positif dalam
berbagai kegiatan hidup, baik secara formal maupun informal. Secara
teoretis kajian ini dapat memperkaya
teori-teori tentang nilai-nilai budaya khususnya budaya Minangkabau dan dapat
dipakai oleh berbagai kalangan terutama kalangan akademis dan peneliti sebagai
sumber dalam kajian budaya. Secara praktis dan akademis hasil penelitian dapat
dijadikan sumber materi pembelajaran dalam pendidikan bahasa dan sastra daerah.
B.
Hakikat Kearifan Nilai-nilai Budaya Minangkabau dan
Dinamikanya
Dalam bahasa Indonesia ‘kearifan’ merupakan kata yang dibentuk
dari kata dasar ‘arif’ yang bermakna ‘bijaksana, cerdik dan pandai, berilmu’
yang menunjukkan sifat. Sedangkan kata kearifan
merupakan kata benda yang bermakna ‘kebijaksanaan atau kecendekiaan’ (KBBI:
2002: 65). Dengan demikian yang dimaksud dengan kearifan dapat berupa perkataan
atau tindakan, perbuatan yang menunjukkan sifat arif, yaitu bijaksana, cerdik,
pandai, berilmu serta cendikia. Rahyono (2009:7) menyatakan bahwa kearifan
merupakan kecerdasan yang dimiliki sekelompok (etnis) manusia yang diperoleh
melalui pengalaman hidupnya serta terwujud dalam ciri-ciri budaya yang
dimilikinya. Bila dikaitkan dengan penelitian ini kearifan berarti kecerdasan
dan kebijaksanaan yang dihasilkan masyarakat budaya yang direkam atau
didokumentasikan dalam cerita rakyat
kaba berdasar pengalaman hidup yang dilaluinya.
Selanjutnya, dalam bahasa Indonesia konsep budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi
yang berarti ”budi” atau ”akal”(Koentjaraningrat:2000:9). Dalam bahasa Inggris kebudayaan disebut culture berasal dari bahasa Latin colere yang berarti ”mengolah” atau
”mengerjakan”, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari pengertian itu dan
perkembangan berikutnya kata budaya dapat dipahami sebagai segala daya dan
upaya serta tindakan manusia untuk mengolah dan mengubah alam (Koentjaraningrat:2002:182). Dalam hal ini pengertian
budaya termasuk mengolah budi yang merupakan unsur batin manusia.
Dalam kajian ilmiah terutama dalam bidang antropologi
konsep kebudayaan sudah didefenisikan oleh banyak pakar dalam pembahasan ilmiah
dari berbagai disiplin ilmu. Sampai tahun 1952, Kroeber dan Kluckhohn, telah
mencatat 164 definisi kebudayaan yang mereka temukan dalam literatur
antropologi (Smith:2001:2). Konsep kebudayaan
dikemukakan oleh Tylor seorang antropolog yang lahir pada tahun 1871, yang
menyatakan bahwa kebudayaan adalah kesatuan yang menyeluruh yang terdiri dari
pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, dan semua
kemampuan serta kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat (Harris dan
Robert, 2006:56). Dari
pengertian kebudayaan tersebut dinyatakan bahwa seluruh bidang yang dipelajari
manusia sebagai anggota masyarakat adalah kebudayaan. Selanjutnya Peursen (1988:11) yang menyatakan bahwa kebudayaan meliputi segala
perbuatan manusia seperti cara ia menghayati dan membuat upacara untuk
kematian, kelahiran, seksualitas, makanan, sopan santun, pakaian, kesenian, ilmu
pengetahuan, dan agama. Karena kebudayan merupakan perbuatan manusia maka
kebudayaan tidak pernah mencapai batas dan berlangsung dalam waktu yang lama.
Hal itu juga menunjukkan bahwa kebudayaan merupakan hasil proses dinamis dan
fleksibel karena berhubungan dengan manusia. Artinya, kebudayaan mempunyai
sifat mengalami perubahan.
Berdasarkan
beberapa pendapat dan definisi kebudayaan di atas maka definisi kebudayaan pada
prinsipnya juga sesuai dengan yang dikemukakan Koentjaraningrat, bahwa
kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia
dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik sendiri manusia dengan
belajar. Definisi kebudayaan ini sejauh ini
dapat digunakan sebagai landasan teori dan pegangan dalam penelitian ini karena
bersifat universal dan menyeluruh dengan arti relevan dengan definisi-defisi
yang sudah dikemukakan sebelumnya.
Kebudayaan
memiliki dimensi yang sangat universal dan bahkan sekompleks kehidupan manusia
itu sendiri. Atas dasar itu maka dalam kajian ilmiah kebudayaan dikelompokkan
dalam satuan yang lebih spesifik. Sebagai dasar untuk kepentingan kajian
ilmiah, kebudayaan dikelompokkan ke dalam tujuh unsur secara universal, yaitu:
(1) sistem religi dan upacara keagamaan,
(2) sistem dan organisasi kemasyarakatan, (3) sistem pengetahuan, (4) bahasa, (5) kesenian,
(6) sistem mata pencaharian hidup, dan (7)
sistem teknologi dan peralatan (Koentjaraningrat, 2002:187). Koentjaraningrat
(2002:186) menyatakan bahwa dalam kehidupan manusia, kebudayaan diwujudkan
dalam tiga bentuk yaitu, ideas,
activities, dan artifacts.
Pertama, wujud kebudayaan ideas
merupakan suatu kompleksitas dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai,
norma-norma, peraturan-peraturan dan
sebagainya. Wujud budaya ideal bersifat abstrak, tidak dapat diraba. Lokasinya
ada dalam pikiran dan kalau dalam tulisan maka lokasi kebudayaan ideal ada yang berada
dalam karangan atau buku-buku hasil karya penulis warga masyarakat
bersangkutan. Kedua, wujud kebudayaan activities disebut
juga dengan sistem sosial, yaitu mengenai tindakan berpola dari manusia.
Sistem sosial merupakan suatu kompleksitas aktivitas kelakuan berpola dari
manusia dalam masyarakat. Kelakuan berpola ini teraktualisasi dalam bentuk
aktivitas dan interaksi manusia satu sama lain dari waktu ke waktu dalam bentuk
konkret dan bisa diobservasi. Ketiga,
wujud kebudayaan artifacts atau
kebudayaan fisik sebagai benda-benda hasil karya manusia. Wujud ini berupa
seluruh total dari hasil fisik dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua
manusia dalam masyarakat. Sifat kebudayaan ini paling konkret berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat dilihat,
diraba, dan sebagainya.
Dalam
penelitian ini konsep kebudayaan yang dirujuk adalah wujud kebudayaan ideal
yang merupakan suatu kompleksitas dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai,
norma-norma, peraturan-peraturan, dan sebagainya yang berada dalam kehidupan
manusia yang dapat ditemui dalam sastra kaba. Sehubungan dengan konsep budaya
itu, Al-Faruqi (1989:7)
menyatakan bahwa konsep kebudayaan berkaitan dengan
kesadaran akan nilai-nilai dalam kesemestaan, yang pada tingkat terendah
mengandung makna suatu kesadaran intuitif dari identitas nilai dan urutan
tingkat yang sesungguhnya dari setiap nilai, serta kewajiban untuk mengejar dan
mewujudkan nilai-nilai itu.
Selanjutnya, nilai budaya dalam
kajian budaya dapat dipahami dalam hubungannya dengan kajian nilai-nilai secara
umum. Fraenkel (1977) menyatakan bahwa
sebuah nilai adalah suatu ide atau konsep tentang sesuatu yang di pandang
penting oleh seseorang dalam hidup.
Nilai adalah ide-ide atau gagasan yang mencakup tentang apa yang benar, baik, dan indah yang mendasari pola-pola
budaya dan memandu masyarakat dalam menanggapi unsur jasmaniah dan lingkungan
sosial. Dengan demikian nilai-nilai tidak terlepas dari budaya dan
masing-masing budaya mempunyai nilai yang diunggulkan dalam masyarakat budaya yang dikenal dengan
nilai budaya. Nilai-nilai budaya dari yang utama sampai yang relatif, biasanya tersusun sesuai dengan
apa yang amat penting dan tergantung kepada budaya suatu masyarakat. Seperti
dijelaskan Lestari (2008:2) dalam penelitiannya di Institut Pertanian Bogor
melaporkan bahwa dalam budaya kerja peningkatan kinerja ditentukan oleh nilai-nilai perekat yang dapat mempersatukan
pandangan anggota. Nilai-nilai utama yang sangat diharapkan adalah objektif, sinergis, berkeadilan,
kebenaran, mandiri, kreatif, kasih sayang, rendah hati, harmonis, aspiratif,
menghargai, korporatif, konsistensi, dinamis, adaptif, produktif, rasional,
teliti, partisipatif, integritas, kepedulian, kepatuhan, peka, melayani,
memberi, keteladanan, akurat, dan efektif. Nilai-nilai itu dipandang penting
untuk kesuksesan sebuah organisasi.
Dalam temuan itu terlihat bahwa dalam kemajuan suatu organisasi nilai
objektif, sinergis, keadilan, kebenaran,
dan mandiri adalah nilai-nilai yang utama disamping nilai-nilai utama lainnya. Nilai-nilai
yang menonjol dalam kehidupan suatu masyarakat atau organisasi dapat menjadi
identitas budaya masyarakat tersebut.
Berdasarkan uraian aspek budaya dan nilai di atas, maka
yang dimaksud dengan pesan kearifan nilai budaya ialah konsepsi, ide-ide, gagasan, norma-norma, dan bentuk-bentuk nasihat lainnya (tersirat
dan tersurat) yang sifatnya memberikan pengajaran kepada masyarakat dalam
kebaikan yang mempengaruhi pilihan terhadap cara, tujuan tindakan, dan dipandang
penting dalam hidup. Pesan kearifan
budaya juga mencakup ide-ide atau
gagasan yang menuntun untuk menentukan
tentang apa yang benar, baik, dan
indah yang mendasari pola-pola budaya dan memandu masyarakat dalam menanggapi
unsur jasmaniah, batiniah, dan
lingkungan sosial.
Dalam
penelitian ini pesan kearifan nilai budaya
adalah ide-ide atau konsepsi yang menonjol dalam kaba Minangkabau yang menjadi
identitas budaya masyarakatnya sehingga pesan kearifan itu menjadi identitas bersama. Pesan kearifan budaya itu berupa konsepsi-konsepsi mengenai apa
yang dianggap berharga dan penting dalam
kehidupan sehingga dapat berfungsi sebagai pedoman dan ertimbanga yang memberi
arahan dan orientasi dalam kehidupan nyata yang selaras dengan yang ada dalam
karya sastra kaba. Pesan kearifan nilai budaya dapat berupa ide-ide, gagasan,
norma-norma, dan bentuk-bentuk lainnya
yang ada dalam kehidupan manusia, yang ditemukan dalam kaba yang berhubungan
dengan masalah dasar dalam kehidupan manusia.
Secara umum,
kearifan nilai-nilai budaya masyarakat Minangkabau dicitrakan dengan adagium ”adat bersendi syarak, syarak
bersendi kitabullah” yang merupakan
landasan filosofis kelompok etnis Minangkabau dalam menjalani kehidupan. Adat
secara umum merujuk pada aturan hidup sehari-hari sedangkan syarak
adalah ajaran agama Islam yang menjadi pondasi adat yang bersumber dari
Al-Quran dan hadis Nabi Muhammad Saw. Tuntunan agama Islam dan nilai-nilai adat
telah menjadi pedoman dan pegangan sebagai sebuah kearifan budaya dalam kehidupan
masyarakat Minangkabau sejak beberapa abad yang lalu. Amir (2007:6) mengatakan
bahwa adat atau budaya itu telah
mengarahkan kelompok etnis Minangkabau dalam peningkatan budi pekerti untuk
membentuk masyarakat yang berbudi luhur. Keberadaan adat budaya yang dinamis
itu mampu beradaptasi dengan nilai-nilai
agama sehingga menciptakan masyarakat yang tercerahkan dan berkearifan dalam
masalah kebudayaan.
Koran Kompas
(2010) memberitakan bahwa tokoh-tokoh
asal Minangkabau tampil ke tingkat
nasional dan internasional tidak terlepas dari dukungan kebudayaannya
karena dalam adat Minangkabau diungkapkan bahwa kebesaran dan ketinggian
kedudukan yang dicapai seseorang tidak hanya karena usaha dirinya sendiri,
tetapi sebenarnya terjadi karena diusahakan dan diharapkan oleh orang-orang
yang mendukungnya, yaitu masyarakat pendukung budayanya. Di dalam konsep kearifan
alam pikiran adat Minangkabau, seseorang menjadi tinggi karena ditinggikan dan
menjadi besar karena dibesarkan oleh masyarakatnya.
Meskipun demikian,
nilai-nilai budaya Minangkabau yang dahulunya dipakai dan diamalkan secara
teguh oleh masyarakatnya, hingga zaman sekarang
telah banyak mengalami perubahan. Adanya peristiwa-peristiwa sosial politik,
pengaruh modernisasi, serta dampak globalisasi yang langsung atau tidak langsung, telah membawa wajah baru dalam
penampilan nilai budaya masyarakat (Amir: 2007:viii). Di sisi lain,
keberadaan masyarakat kelompok etnis
Minangkabau yang merupakan bagian dari masyarakat Indonesia sudah semakin banyak
berinteraksi dengan masyarakat dunia dan
efek dari pergaulan global itu pada saat sekarang mereka tidak
terhindarkan telah menyerap berbagai nilai budaya dari bursa budaya dunia.
Indikasi
perubahan itu seperti yang diungkapkan Syarifuddin dalam Agustina (2003) bahwa pada waktu dahulu budaya atau adat
Minangkabau semarak karena masing-masing komponen masyarakat sangat peduli pada
pemahaman, pengamalan, dan pembelaan terhadap nilai-nilai agama dan budaya
Minangkabau. Namun, sekarang masyarakat Minangkabau mengalami kegoncangan
budaya yang menyeret orang untuk mencari jalan hidupnya sendiri-sendiri karena
pewarisan nilai budaya dan kontrol sosial budaya yang lemah (Sairin, 2003:54). Diakui oleh beberapa pakar bahwa kontrol orang tua terhadap pemahaman
nilai budaya anak semakin lemah, pembentukan karakter melalui keluarga semakin
disaingi oleh sajian teknologi, ditambah lagi karena anak merasa lebih hebat
dalam tenologi daripada orang tua (Elfindri, 2010:141). Dampak dari hal itu terekam dalam realitas kehidupan pada
era globalisasi sekarang. Terhadap nilai-nilai adat dan budaya tidak semua
masyarakat budaya mengaktualkan apa yang menjadi nilai-nilai yang terkandung
dalam petatah-petitih adat Minangkabau
(Naim,2003:42).
Krisis kearifan
budaya itu terindikasi dari terjadinya krisis identitas, krisis kepercayaan
diri, kehilangan pengangan pada masyarakat yang tidak terkecuali oleh generasi
mudanya (Sairin, 2003:vii). Hal yang demikian dipertegas oleh Naim
(2003:39) yang menyatakan bahwa
permasalahan besar yang dihadapi masyarakat Minangkabau adalah hilangnya yang
paling berharga dari dirinya sendiri, yaitu jati diri. Jati diri yang
dimaksudkan adalah nilai-nilai budaya Minangkabau yang menjadi kearifan dan
tujuan adat Minangkabau. Amir (2007:6) mengatakan
bahwa pesimisme terhadap pewarisan dan pengamalan nilai-nilai budaya
Minangkabau sesungguhnya sudah ada sejak abad ke-19 yang lampau dan berlanjut
hingga sekarang. Kenyataan seperti itu tidak hanya merupakan masalah lokal
masyarakat Minangkabau tetapi sudah menjadi masalah nasional masyarakat
Indonesia. Pranadji
(2004: 332) menyatakan bahwa keterpurukan bangsa Indonesia
bukan disebabkan tidak adanya nilai-nilai budaya baik yang dikenal, melainkan
tidak aktualnya nilai-nilai itu dalam
kehidupan sehari-hari. Sejalan dengan itu, empat dekade yang lalu, Lubis (1977
mensinyalir bahwa dominasi nilai
destruktif dibanding nilai kontruktif pada masyarakat kita sangat mencemaskan
dan akan membawa keterpurukan bangsa dalam krisis multi dimensi.
Berdasarkan uraian di atas, maka pesan
kearifan budaya yang ada dalam naskah cerita kaba Minangkabau perlu diungkapkan
dan dieksplorasi sehingga hasilnya dapat digunakan untuk peningkatan kualitas
hidup berbudaya masa kini. Hal itu
senada yang diungkapkan oleh Ratna (2008: 329) yang menyatakan bahwa khazanah
sastra lama kaya dengan pesan kearifan yang pada dasarnya sangat diperlukan
dalam rangka membina semangat kebangsaan dan kesatuan bangsa. Sehingga dengan
demikian, pembangunan budaya bangsa akan terwujud dengan dukungan landasan-landasan filosofis
yang digali dari budaya asli bangsa Indonesia.
C.
Refleksi Kearifan Nilai Budaya Minangkabau dalam Cerita
Kaba
Pada bagian ini diuraikan
kearifan nilai budaya hakikat hidup dalam pandangan masyarakat Minangkabau yang
tergambar dalam cerita kaba.
a.
Refleksi
Kearifan Nilai Budaya Ketakwaan
Pada umumnya, dalam cerita kaba
lama dan baru hidup diyakini sebagai takdir Allah dan dalam menjalani kehidupan seseorang
harus bertawakal kepada-Nya. Refleksi
itu menunjukkan bahwa tokoh cerita kaba mengamalkan nilai-nilai budaya
ketakwaan yang bersumber pada pandangan hidup berdasarkan agama Islam.
Dari
kaba yang dianalisis ternyata kaba lama dan kaba baru menggambarkan bahwa hidup
dan mati manusia merupakan kehendak dari
Tuhan Maha Pencipta alam semesta, yaitu
Allah yang maha pencipta. Dalam kaba lama dan kaba baru yang dijadikan sumber
data ditunjukkan gambaran tentang hidup sebagai kehendak Allah. Puti Linduang Bulan dalam cerita Magek Manandin
dinyatakan hamil sebagai kehendak dari Allah dan anak yang dikandung diyakini
dan disebut sebagai pemberian Allah kepada dia dan suaminya. Data itu adalah tanda
semiotis berupa indeks yang objeknya takdir Allah dan interpretannya adalah
adanya kehidupan manusia sebagai makhluk merupakan kehendak dari Allah Yang
Maha Kuasa yang menjadikan makhluk manusia.
Selanjutnya, dalam cerita itu dinyatakan bahwa ada empat hal yang
menjadi ketentuan Allah yang manusia tidak dapat mengingkarinya, yaitu tentang
hidup, mati, urusan nyawa, dan urusan rezeki.
Signifikasinya menunjukkan suatu keyakinan bahwa tokoh-tokoh cerita kaba
memandang hidup dengan segala
eksitensinya, ajal atau mati, urusan nyawa, dan rezeki luas sempitnya sudah merupakan ketentuan yang
sudah digariskan oleh Allah dalam ilmu-Nya. Kearifan nilai budaya yang
ditegaskan adalah bahwa Tuhan berkehendak mutlak terhadap makhluk-Nya, yaitu
menghidupkan dan mematikan, dan memberikan rezeki-Nya sesuai dengan ilmu-Nya. Seorang
hamba yang benar dalam kearifan nilai
budaya tentu bertakwa kepada-Nya.
b.
Refleksi
Kearifan Nilai Budaya Berusaha dan Berdoa
Dalam menjalani hidup manusia diharuskan berusaha dan berdoa
untuk mendapatkan hidup yang lebih baik. Tokoh-tokoh cerita yang berusaha dan
berdoa pada umumnya menjadi tokoh yang berhasil sedangkan tokoh yang tidak mau
berusaha menjadi tokoh cerita yang gagal.
Setelah dianalisis secara semiotis, dalam hamper
semua cerita kaba yang diteliti digambarkan bahwa setiap tokoh protagonis
berusaha dengan sekuat tenaga dan di
samping itu berdoa kepada Allah dalam memecahkan persoalan yang dihadapi
dalam hidup. Dalam cerita kaba Cindua
Mato ditemukan tokoh Bundo Kanduang berusaha sebagai seorang ibu mendidik
anaknya tokoh Dang Tuanku dan Cindua
Mato dari kecil hingga dewasa. Di akhir cerita digambarkan kemenangan Cindua
Mato dalam berjuang sebagai hasil dari
buah usaha Bundo Kanduang. Dalam cerita kaba Tapian Larangan ditemukan tokoh
Mambang Sutan berusaha mencari jalan
keluar atas fitnah terhadap dirinya dan menuntut kembali tunangannya yang
diambil tokoh Mantiko Rajo. Dengan berusaha
melalui jalur hukum adat dan bermusyawarah dengan berbagai pihak, ia
kembali mendapatkan tunangannya dan menyadarkan semua pihak yang keliru. Dalam
kaba Magek Manandin ditemukan
kegigihan Magek Manandin berusaha mendapat kembali tunangannya Subang Bagelang
dengan perjuangan yang menggentarkan dan mati-matian. Dalam kaba Sabai Nan Aluih ditemukan tokoh Sabai Nan Aluih berusaha menuntut balas
kepada tokoh Rajo Nan Panjang atas kematian ayahnya. Dalam kaba Rancak Dilabuah ditemukan tokoh Siti
Jauhari berusaha mendidik tokoh Rancak Di Labuah menjadi seorang intelektual
sehingga berhasil menjadi penghulu. Begitu juga dengan tokoh Sutan Lanjungan,
tokoh Buyuang Karuik, dan tokoh Haji Karim dalam kaba Bujang Pajudi. Semua
tokoh cerita adalah sosok yang berusaha
dalam kegiatan hidup yang baik sehingga
merasakan kebahagiaan dalam hidupnya.
Selain berusaha dengan tindakan
nyata, tokoh-tokoh kaba dalam mengisi hidup juga melakukan kegiatan berdoa
kepada Allah untuk kesuksesan hidupnya. Mereka berdoa dikala lapang dan sempit,
dikala menghadapi masalah atau disaat sejahtera. Pada saat tokoh Cindua Mato
menang perang dengan tokoh Tiang Bungkuak, tokoh Bundo Kanduang bersyukur
kepada Allah dan bersalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Ketika tokoh Cindua Mato
menghadapi perperangan, tokoh Bundo Kanduang dan seluruh perangkat kerajaan
mendoakan Cindua Mato, begitu juga sebaliknya Cindua Mato meminta doa kepada
Bundo Kanduang dan Dang Tuanku. Mereka saling mendoakan dalam kebaikan.
Dari refleksi data tentang hidup
berusaha dan berdoa dapat dinyatakan bahwa cerita klasik menegaskan bahwa
kearifan nilai budaya berusaha dan berdoa merupakan kearifan yang penting dalam
hidup. Dinamika hidup manusia susah dan senang harus diisi dengan kesenangan
pada mau berusaha dan berdoa sebagai kearifan nilai budaya yang telah
dipesankan oleh pengarang cerita kaba Minangkabau.
c.
Refleksi
Kearifan Nilai Budaya Menuntut Ilmu
Dalam
cerita kaba lama dan baru ditemukan tokoh-tokoh kaba yang dalam hidup
mengutamakan menuntut ilmu untuk melakukan suatu pekerjaan dalam kehidupan.
Berdasarkan paparan data ditemukan bahwa usaha menuntut ilmu untuk melakukan
suatu pekerjaan dan menjalani hidup merupakan hal yang diutamakan dalam cerita
kaba. Dalam kaba Cindua Mato digambarkan Dang Tuanku belajar kepada Bundo
Kanduang dengan tekun dan sabar. Meskipun ibunya memanggilnya di tengah malam
disaat ia tidur namun ia tetap memenuhi panggilan ibunya untuk belajar ilmu.
Dalam kaba Sutan Lanjungan
digambarkan kegigihan tokoh Sutan Lanjungan menuntut ilmu kepada tokoh Datuk Timbangan di perantauan pada
malam hari karena pada siang hari ia berdagang mencari harta untuk kesejateraan
dirinya dan keluarganya di kampung. Menuntut ilmu dan mencari harta merupakan
dua tujuan utama Sutan Lanjungan dalam merantau. Selanjutnya, dalam kaba Rancak Dilabuah digambarkan kegigihan
Siti Jauhari mendidik dua anaknya tentang berbagai ilmu adat-istiadat sehingga
anaknya menjadi terangkat kelas sosialnya.
Sebaliknya Rancak Dilabuah dan Siti Budiman menunjukkan sikap yang
terbuka, menerima, dan sangat antusias dalam menuntut dan mengamalkan ajaran
ilmu yang diperoleh dari ibunya.
Begitu juga ketika Si Buyuang Karuik
akan pergi dengan Jaksa Lembang Alam ke Palembang, ia menemui Sutan Pasisia dan
Sari Anum yang sudah dianggap sebagai orang tuanya. Kepada mereka berdua
Buyuang Karuik meminta nasehat atau ilmu agar sukses hidup di rantau orang. Sebagai orang yang telah berpengalaman hidup
di rantau sebagai pedagang nasi, ia
menyampaikan rahasia kesuksesannya kepada Buyung Karuik, yaitu agar hidup lurus
dan benar, hemat dengan menabung, hendaklah berdagang dan jangan selamanya
menjadi orang gajian, dan selalu meningkatkan taraf hidup.
Dari
sepuluh cerita kaba yang diteliti, sembilan kaba menggambarkan pentingnya
menuntut ilmu dalam hidup. Satu cerita kaba dengan tokoh antagonis Bujang Juki
yang mencela orang yang tidak mau menuntut ilmu
sehingga tokoh Bujang Juki yang
tidak berilmu itu menjadi orang yang menyusahkan banyak orang dalam kehidupan.
Akhir dari kehidupannya ia membunuh tokoh Siti Baheram dan karena itu ia
diadili dan mendapat hukuman gantung.
Dengan demikian, kaba Siti Baheram
juga menggambarkan pentingnya pendidikan
dan menuntut ilmu dan menggambar akibat buruk tidak berpendidikan, yaitu
menjadi penyakit masyarakat. Jadi, kebodohan dan keterbelakangan sudah
dirasakan sebagai musuh dari kehidupan itu sendiri yang harus dihilangkan
dengan pendidikan.
Dalam
hal ini kaba menyampaikan pesan bahwa
tokoh-tokoh kaba yang tidak mendapat atau tidak menghiraukan pendidikan
mendapatkan hidup yang sengsara sedangkan tokoh-tokoh yang mencintai ilmu dan
beramal dalam hidup menjadi tokoh yang sukses dan bahagia. Refleksi yang
demikian menunjukkan bahwa cerita kaba memesankan kearifan nilai budaya
menuntut ilmu dalam kehidupan yang penting dalam peningkatan kebermanfaatan dan
kualitas hidup.
d.
Refleksi
Kearifan Nilai Budaya Bermusyawarah dan Bertindak Cepat
Pada
umumnya, cerita kaba menggambarkan tokoh-tokoh yang bermusyawarah dan bertindak cepat dalam menghadapi dan menyelesaikan
persoalan hidup. Tokoh yang penuh perhitungan dan bermusyawarah selamat
sedangkan tokoh yang tidak mempunyai pertimbangan mendapat bahaya. Pada
umumnya, dalam kaba yang diteliti digambarkan tokoh-tokoh protagonis yang cepat
bertindak dalam menghapai persoalan hidup. Dalam hal bertindak itu ada dua
model yang diperlihatkan oleh cerita kaba, yaitu orang atau tokoh-tokoh yang
penuh perhitungan dan bermusyawarah dan tokoh yang emosional dan tidak
bermusyawarah. Tokoh yang penuh
perhitungan dan bermusyawarah dapat mengatasi persoalan hidup dengan baik dan
selamat atau bahagia. Sebaliknya tokoh yang emosional dan tidak bermusyawah
mendapat tantangan yang semakin membahayakan dirinya. Ternyata dalam kaba
tindakan emosional dan tanpa perhitungan itu
juga dilakukan oleh tokoh-tokoh yang sebelumnya digambarkan bijaksana,
mempunyai ilmu, dan tahu dengan kiat-kiat menyelesaikan hidup, seperti Rajo Bandiang, Haji Karim, Angku Kapalo, dan Rajo Kuaso. Agaknya ini sebuah
kritikan terhadap ditinggalkannya kearifan nilai musyawarah dalam kehidupan dan
tindakan emosional itu berbahaya bagi siapa pun dan menyebabkan jalan
hidup mereka menderita.
Tokoh-tokoh dalam kaba yang
bertindak dengan cepat, cerdas, dan penuh perhitungan, serta bermusyawarah
adalah tokoh Bundo Kandung dan tokoh Cindua Mato dalam kaba Cindua Mato. Tokoh
Siti Jauhari dalam menghadapi anaknya yang menentangnya dalam hal konsep hidup.
Tokoh Mambang Sutan menghadapi tokoh Mantiko Rajo dan Mangkuto Rajo sehingga
Mantiko Rajo yang berseberangan dengannya menjadi sahabat setianya.
Tindakan-tindakan yang dilakukan dengan penuh perhitungan dan kearifan nilai bermusyawarah
itu telah menghasilkan jalan keluar yang mengagumkan dari problema hidup mereka sehingga mereka
menjadi tokoh-tokohnya orang terhormat dan bahagia dalam gambaran kaba.
e.
Refleksi
Kearifan Nilai Budaya Hidup Bermanfaat
Hidup
yang ideal adalah hidup dengan berilmu, berusaha, dan bermanfaat bagi orang
lain. Hidup yang tercela adalah hidup dengan senang-senang dan tidak bermanfaat
dan bahkan menyusahkan orang lain. Dalam cerita kaba digambarkan bahwa
tokoh-tokoh yang telah sukses mencari harta dan ilmu baik di kampung atau
dirantau memberikan kontribusi terhadap kehidupan keluarga berupa
mensejahterakan keluarga, meningkatkan status sosial, dan menjadi pemimpin
dalam masyarakat. Gambaran itu lebih
nyata pada kaba baru dibandingkan dengan kaba lama. Pada kaba lama hal itu tidak menonjol karena
pada umumnya tokoh cerita adalah kaum bangsawan yang sudah kaya dan berstatus
sosial tinggi dalam masyarakat. Kontribusi mereka hanya sebatas mempertahan
kedudukan, kehormatan, dan menuntut balas pada pihak yang mencoba menganggu
keluarga. Sebaliknya, pada kaba baru tokoh-tokohnya berasal dari orang biasa dengan status sosial rendah sehingga kontribusi
anggota keluarga yang telah mapan dirantau sangat menentukan peningkatan
kualitas keluarga yang ditinggalnya yang masih miskin.
Keberhasilan
hidup tokoh cerita kaba terkait dengan prinsip-prinsip hidup yang bersumber
dari petatah-petitih adat Minangkabau dan ajaran agama Islam. Artinya, hidup
dilalui dengan landasan filosofis adat dan agama. Dalam kaba yang dibahas
ditemukan bahwa tokoh-tokoh cerita yang digambarkan sukses dalam hidupnya baik
dalam berjuang maupun berdagang di rantau karena mereka memegang teguh
prinsip-prinsip atau pandangan hidup yang bersumber dari ajaran agama Islam dan
ajaran adat Minagkabau.
D. Kesimpulan
Berdasarkan temuan-temuan yang dikemukakan dapat disimpulkan bahwa refleksi
kearifan nilai-nilai budaya hakikat hidup kelompok etnis Minangkabau digambarkan dalam cerita sebagai takdir Allah
yang harus dijalani dengan bertawakal, berusaha, dan berdoa, mencari ilmu,
mencari harta demi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat kelak, dan
bermanfaat bagi orang lain. Kebahagian hidup tergantung pada pilihan hidup dan
pilihan dalam berusaha. Orang-orang yang berusaha dengan baik, beriman,
berilmu, dan beramal dalam hidupnya akan
mendapatkan kebahagiaan, sedangkan orang yang tidak berusaha ke arah yang baik
dan tidak berilmu akan mendapat hidup yang sempit dan cenderung menyusahkan
orang lain.
Berdasarkan kesimpulan penelitian, disarankan bahwa refleksi
kearifan nilai-nilai budaya yang diungkapkan dari cerita kaba perlu diteliti lebih lanjut untuk dapat
memperjelas aspek-aspek yang belum terungkap sehingga ke depan terdapat
gambaran budaya yang lebih kompleks
dari sastra lama. Kepada pemerintah
disarankan, berhubung keberadaan kaba itu amat minim, maka aksi nyata yang
dipandang penting adalah memperbanyak kembali kaba-kaba yang sarat
dengan kearifan nilai-nilai budaya yang sudah disebut di atas dan analisisnya
untuk bahan pengajaran di sekolah, di perguruan tinggi, serta untuk dibaca
masyarakat melalui koleksi
perpustakaan di wilayah budaya
Minangkabau. Tindakan ini amat perlu
untuk membentengi gelombang budaya global yang tidak konstruktif bagi kehidupan
lokal dan nasional dengan lebih dahulu mengenal budaya lokal.
Daftar Rujukan
Al-Faruqi, Ismail R. Islam
dan Kebudayaan. Jakarta: Penerbit Mizan, 1989.
Amir. Adat Minangkabau Pola dan
Tujuan Hidup Orang Minangkabau. Jakarta: Mutiara
Sumber Widya, 2007.
Azmi. “Pelestarian Adat dan Budaya Minangkabau” dalam Minangkabau
yang Gelisah. Bandung: CV Lubuk Agung, 2003.
Langganan:
Postingan (Atom)

