Kamis, 11 November 2010

Lihat Lah



Bamanuang



Manuang bamanuang  lah sio-sio
Manuang nan kosong mambawo hibo
Manuang bamanuang  paralu juo
Jiko mangana nan kuaso

Ko indak baitu
Caliaklah nan banyak di alam nangko
Bumi jo langik nan sangaik nyato
Gunung manjulang 
Laut tabantang
Caliak …caliak… lah caliiiak….

Caliak lah nan banyak di alam nangko
Banyak manusia tapi indak do sarupo
Bamacam pohon  jo binantangnyo
Co itu pulo
Caliak …caliak… lah caliiiak….bana

Caliak lah nan banyak…..
Pandanglah yang Satu….

Pandanglah yang Satu….
Caliak lah nan banyak

Nan sabana ado
Nan diadokan

Sabananyo ndak ado
lalu diadoan
Yang sabana ado hanyo nan Satu
Ahad
Ahad
Ahad
Kul Huallahu ahad

Pandang kakuasoan-Nyo
Di alam nanko
Di diri kito 
Jaleh ado tujuan-Nyo
Manyambah kapado Yang Kuaso
Manyarah ...

Jumat, 15 Oktober 2010

Hujan belalang, kutu, katak, dan darah bukti kekuasaan Allah

Quran surah Al-A'raf  ayat 133.



Maka Kami  (Allah) kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah  sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.


Ayat di atas  dan peristiwa  yang terjadi akhir2 ini menjadikan kita makin yakin dengan kebenaran Al-Quran
dan kekuasaan Allah. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya. Allahu akbar wa lillahilham.

Minggu, 10 Oktober 2010

its me


Riwayat Hidup
                   Abdurahman. Berasal dari Nagari Batipuh Baruh, Kab. Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Lahir di Kacang Kayu Kota Padang Panjang pada tanggal 23 April 1965. Anak pertama dari empat bersaudara dari pasangan yang mulia Ayahnda  H. Rahimi dan Ibunda Hj. Syamsidar. Pada tahun 1994 menikah dengan Hj. Salmaini S, S.Pd., M.Si. guru matematika SMAN 3 Padang.
            Menyelesaikan pendidikan dasar di SDN No. 2 Batipuh Baruh tahun 1977, SMPN Batipuh tahun 1981, jurusan IPA SMAN Padang Panjang tahun 1984. Lulus S-1 dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni  IKIP Padang (sekarang Universitas Negeri Padang) pada tahun 1989. Lulus S-2 Program Studi Pendidikan Bahasa Pascasarjana IKIP Jakarta tahun 1995 (sekarang Universitas Negeri Jakarta). Pada tahun 2011 lulus S-3 pada Program Studi Pendidikan Bahasa Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta.
       Bekerja sebagai guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA Cendana Padang Panjang (1989-1990) dan di SMA Pembangunan IKIP Padang (1990-1992). Sejak tahun 1990 diangkat menjadi PNS sebagai dosen tetap di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Padang. Di samping itu membina mata kuliah Bahasa Indonesia di beberpa perguruan tinggi di antara Universitas Muhammad Yamin Solok (1990-1992), Universitas Putra Indonesia Padang 2004-2006, dan STKIP PGRI Padang (2004-sekarang). Sekretaris Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Padang tahun 1996-1999, Koordinator Mata Kuliah Ilmu Budaya Dasar UNP Padang (2000-2003), dan Koordinator Kelompok Mata Kuliah Pembelajaran pada Jurusan Bahasa  dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni UNP Padang (2003-2006). 
       
Alamat kantor: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah FBSS Universitas Negeri Padang, Kampus Air Tawar, Kota Padang, Sumatera Barat, Indonesia.

Senin, 04 Oktober 2010

ceritaku

MR FACHIR
Oleh: Abdurahman

Nama Mr Fachir menyelinap ke dalam ingatanku tatkala aku masih kelas satu SMP di desaku. Sebuah nama yang indah dan relevan dengan perawakan orangnya yang tinggi semampai. Berambut hitam lebat yang disisir dengan rapi dengan belah tepi yang tidak begitu kentara. Sosok yang berkulit putih ini terbilang tampan dengan wajah yang agak lebar, hidung yang mancung, berkumis tipis di atas bibir yang merah muda. Guru dengan setelan kemeja, celana, dan dasi yang rapi, membuat mata kami senang dan hati berdecak kagum ketika beliau masuk ke kelas kami. Guru ku ganteng, rapi, dan meyakinkan. Aku mengkhayal suatu saat juga akan berpenampilan seperti penampilan beliau menjadi seorang guru atau direktur. Mr Fachir begitulah kami panggil beliau, dan perkiraan kami usianya 40 tahun lebih kurang.

Pertemuan pertama kami dalam kelas bahasa Inggris dengan Mr Fachir begitu mengesankan, begitu juga dengan pertemuan yang kedua semuanya menyenangkan. Pada pertemuan minggu ketiga yang ada yang tidak kami duga dan tidak pernah terlintas sebelumnya. Hari itu kami sudah membuat tugas rumah, yaitu membuat beberapa latihan tentang kata tunggal dan jamak dalam bahasa Inggris. Yang ku ingat yang nomina jamak mesti pakai akhir dengan konsonan /s/ atau /es/. Untuk membuat latihan itu tidak ada kesulitan dan semua murid membuat dengan baik.

Pagi itu, Mr Fachir memeriksa latihan kami dan semua murid membuat tugas itu. Selesai itu, beliau melanjutkan dengan pelatihan melafalkan kosa kota yang sudah ditulis di depan kelas. Mr Fachir menyebutkan beberapa contoh pelafalan antara kata yang pakai /s/ dengan yang tidak pakai /s/. Mr Fachir menunjukkan dengan sehelai kertas yang didekatkan ke mulutnya. Setelah itu kami mulai mencoba secara bersama dengan pola tubian. Mr Fachir mengganti kata-kata yang akan kami lafalkan di depan kelas. Selesai kegiatan yang demikian kegiatan dilanjutkan dengan pelafan kata-kata latihan oleh murid orang per orang.

Giliran pertama jatuh pada anak perempuan yang duduk di bagian depan di sebelah kanan. Mr Fachir melafalkan kata dan kemudian anak mengikuti dengan pengimitasian ucapan guru dengan cara mengulang ucapan. Giliran diteruskan dan sampai pada anak nomor tiga masih lancar. Pada giliran anak yang keempat mulai terjadi kesalahan pengulangan. Mr Fachir mengulang lagi tetapi masih murid itu belum betul. Mr tidak puas lalu ia membentak anak itu dan aku pun kaget. Sebuah hardikkan menyambar anak itu, dan nampaknya anak itu makin cemas dan tidak terdengar lagi suaranya mengulang ucapan Mr Fachir. Dalam hatiku berbisik “Mr pemarah juga ya!”

Giliran ku masih menunggu dua orang murid lagi. Aku cemas menunggu giliran karena jujur kukatakan aku memang sedikit takut dengan wajah Mr Fachir yang memerah dan tampak dingin. Ketika anak yang sebelum aku dilatih, ia sama dengan anak yang tadi salah. Ia tidak dapat menyebutkan dengan benar. Dua kali Mr Fachir mengulang, tetapi apa boleh buat ia juga belum bisa betul. Lalu tiba jari-jari Mr Fachir yang sebelumnya mengelus kumis tipisnya melipat dan membentuk sudut dan dengan cepat menjitak kening teman sebelah dudukku itu. Aduh…ia meringis dan terbata-bata mengulang kata yang dilafalkan Mr Fachir. “Aduh… sakit itu…, keluhku dalam hati”. Kulihat temanku itu menunduk saja, ia tidak berkutik tanpa perlawanan walau badannya aga besar dari tubuh saya. Mr Fachir beranjak ke arah akua dan entah bagaimana dengan nasibku.

Giliran ku tiba, Mr Fachir memberi aba-aba dengan menunjuk ke arahku sambil berkata you. Beliau melafalkan sebuah kata dan aku mengulangi. Lalu Mr Fachir mengulangi lagi dan aku mengikuti pelafalannya. Aku tidak tahu apakah yang aku lafalkan sudah benar atau belum. Tiba-tiba dengan tenang Mr Fachir menarik tanganku dan aku ditegakkan di depan kelas lalu disuruh menulis kata yang dilafalkannya. Aku betul menuliskannya tetapi aku gagal melafalkannya dan aku disuruh berdiri di depan kelas di sebelah kiri. Tatkala aku menuju tempat itu disaat itu pula aku merasakan ujung sepatu Mr Facri bersarang di patatku dan rasanya bagai kena palu. Onde mande (Aduh mama) … sakitnya. Tidak ku kira akan begini … selama hidup baru kali ini pantat ku ditendang orang, air mataku menetes sambil meringis.

Latihan berlanjut dan beberapa anak murid yang salah mendapat pengalaman yang sama dengan aku. Maksudnya, kalau tidak dijitak, ya ditendang kakinya atau pantatnya, lalu berdiri di depan kelas bersama aku. Dan beruntung anak-anak yang bisa dan lancar dalam pelatihan itu, mereka lolos dari hadiah yang diberikan Mr Fachir. Pelatihan selesai dan anak yang berdiri kembali diberi tambahan hadiah berupa jitakan yang tidak terlalu keras dari yang sebelumnya meskipun cukup sulit untuk dilupakan. Kemudian baru kami disuruh duduk kembali. Rupanya itulah hukuman bagi anak-anak yang salah dalam berlatih di kelas Mr Fachir.

Pelajaran baru ditambahkan Mr Fachir materinya. Aku lebih banyak memperhatikan Mr Fachir menjelaskan pelajaran dibanding waktu belajar sebelumnya. Saya lihat anak-anak belajar keras dengan Mr Fachir karena takut dengan hukuman yang akan diberikan Mr Fachir. Aku sendiri juga begitu, sakit dan nyeri rasanya mendapat hadiah Mr Fachir. Meskipun demikian tidak ada pula aku benci kepada Mr Fachir karena begitulah pelajaran yang mesti kami lalui. Usai pelajaran kami istirahat dan nampaknya tidak seorang anak pun yang berani dan berminat membicarakan hukuman yang diberikan Mr Fachir.

Mr Fachir yang ku kagumi kini ku takuti. Aku tidak berani lagi menyapa beliau. Malahan ketika bertemu di jalanan, baru saja menampak puncak rambutnya kami sudah lari. Mr Fachir guru bahasa asing kami yang makin asing bagi kami dan meski demikian beliau satu semester mengajar kami. Selama satu semester itu aku dan teman-teman mendapat perlakuan yang sama. Kami diberi hukuman dari kesalahan-kesalahan yang terjadi dan tidak pernah terdengar pujian dari mulutnya untuk kami begitu juga dengan caci maki.

Ketika kami kelas dua, aku belajar dengan Bu Salma orangnya baik, bahasa Inggrisnya lancar dan beliau sering mendorong kami agar pintar berbahasa Inggris. Kelihaiannya mengajar begitu jelas ketika kami kelas dua pada umumnya kami telah menguasai tata bahasa bahasa Inggris. Bu Salma jauh berbeda dengan Mr Fachir, tidak ada kekerasan dalam hukuman terhadap murid-murid di kelasnya. Kalau ada anak yang salah biasanya Bu Salma memberikan latihan yang lebih banyak. Dan Bu Salma pun rajin mengembalikan koreksian tugas-tugas kami.

Hari-hari berlalu dan aku masih mengenang Mr Fachir di mana ia kini. Lalu aku mencari teman-teman yang sekelas ketika tahun satu. Lalu kami menanyakan Mr Fachir ke guru piket, ibu Ros namanya. Ibu Ros bercerita pada kami. Sebenarnya Mr Fachir itu orangnya baik tetapi sejak ia mendapat sakit tensi tinggi dan kolesterol, ia suka emosian, mudah tersinggung, dan tidak sabaran. Mungkin karena ia hidup sendirian di sini sedangkan keluarganya jauh di kota. Sekarang ia sudah pindah ke sekolah di mana keluarganya tinggal di kota provinsi. Dan kabarnya ia sedang dirawat di rumah sakit.

Aku sedih mendengar cerita Bu Ros dan berpikir tentang penderitaan yang dialami Mr Fachir. Dalam hati aku memaafkan Mr Fachir karena aku tahu orang yang sakit memang susah mengendalikan emosi apa lagi jauh dari keluarga. Kasihan Mr …. rupanya ia sakit. Lalu tiba-tiba, Momon menyelutuk dari belakang,

“Makanya jangan suka jahat sama murid, akhirnya tensi tinggi deh, kasihan... Dulu aku entah berapa kali dijitak plus ditendang lagi … Hee.. sadis banget tu guru! Mentang-mentang pandai karate, anak didik ditendang-ditendang, kalau semua guru begitu ah payah deh …katanya pendidik …” belum habis Momon memuntahkan umpatannya Dano mengambil kesempatan bicara.

“Ya begitu .., trus kita jangan begitu!” cegah Dano yang dulu kepalanya juga dijitak Mr Fachir. “Tidak baik mencela kejahatan dan penderitaan yang dialami orang, lagian beliau kan guru kita. Kita doakan saja semoga ia cepat disembuhkan oleh Allah SWT dan semoga ia sadar untuk mengubah cara mengajarnya”. Lalu semua terdiam dan kami setuju mengucapkan beberapa doa.

Lalu Momon bilang lagi,
“Besok kamu kalau jadi guru jangan kayak Mr.. .ya. Oke!” “Bisa dipenjara lho …kalau murid menuntut..”
“Oke teman, setuju.” sahut kami.
“Sebaiknya kita lakukan sesuatu…,” ulasku.

Lalu aku mengeluarkan sebuah buku tulis dan mengajak teman-temanku itu menulis sepucuk surat untuk Mr Fachir dalam bahasa Inggris. Isinya, kami mendoakan beliau cepat sembuh dan menceritakan pengalaman belajar dengan ibu Salma kepada beliau dan kami berharap agar Mr Fachir tidak main tangan lagi kepada anak didik di sana. Semoga cepat sembuh Mr Fachir.

Bel tanda masuk habis istirahat berbunyi, kami bergegas masuk kelas. Setelah semua anak murid duduk dengan tenang Bu Salma masuk kelas dengan senyum menghias wajahnya. Kami mendapatkan beliau seperti seorang ibu yang sangat baik pada anaknya. Seperti sapaan beliau juga kepada kami, “Anak-anak Ibu semua … ibu yakin semua pasti bisa… jangan takut kan ada ibu… ayo nanda …ayo kita berlatih … dan lainnya.” Bahasa beliau bersahabat dan amat memotivasi untuk belajar.

Bu Salma dan Mr Fachir dua sosok guru yang kontras cara mengajarnya untuk kami. Mungkin karena Bu Salma guru baru dengan cara-cara mengajar baru yang smart sedangkan Mr Fachir guru lama dengan cara yang kaku. Bagiku benar juga kata orang bijak, jauh berjalan banyak yang dilihat, lama hidup banyak yang dirasakan dan pengalaman adalah guru yang terbaik untuk masa depan.

Sekarang aku meyakinkan diri bahwa mengajar bukanlah memaksakan kehendak kepada murid dengan kata harus ini dan harus itu. Tetapi mengajar adalah membangun wawasan anak didik ke arah yang berintelektual dengan kemampuan ilmiah, amaliah, dan keimanan. Sebagai seorang yang ilmiah pertimbangan akal yang rasional mesti lebih diutamakan daripada nafsu dan emosi. Sebagai orang yang beramal memberikan contoh dan teladan yang baik dalam bentuk tindakan dan aktivitas merupakan suatu keharusan. Sebagai seorang yang beriman nilai-nilai kasih sayang dan mencintai sesama seperti mengasihi dan mencintai diri sendiri merupakan patokan yang perlu dipegang. Dengan demikian kita berharap akan tercipta anak didik yang otaknya cerdas, ototnya terampil, dan dada penuh dengan nilai-nilai kebaikan dalam membangun peradaban umat manusia yang madani.

Maka sudah selayaknya pada hari ini betapa perlunya penyeimbangan pemberdayaan kecerdasan IQ, EQ, dan ESQ dalam kehidupan guru dan murid. Mengembangkan potensi diri dengan basis kecerdasan multi dimensional dan mencari titik temu keterampilan yang sesuai dengan multi kecerdasan itu. Orang yang diyakini profesional hari ini bukanlah orang yang bisa menjawab semua persoalan, tetapi orang yang profesional adalah orang yang kompeten dan ahli menguasai satu bidang dengan baik dalam dimensi multi kecerdasan.

Jumat, 01 Oktober 2010

Puisi

Ya Allah Ya Tuhan Kami
Oleh: Abdurahman

Ya Allah
Engkau lah pencipta manusia
Dari mani yang terpacar dan sel telur
Engkau susun rangka dan jasad
Lalu Kau indahkan rupa
Kau lah yang hidupkan kami


Ya Allah
Engkau lah pemelihara manusia yang sebenarnya
Siang malam dan di setiap saat
Penjaga manusia
Tidak tidur dan tiada lalai
Pendidik manusia segala masa


Ya Allah
Engkau lah raja manusia yang sebenarnya
Mengatur fase-fase hidupnya
Dari Engkau kami ini
Kepada Engkau jua kami kembali
Engkaulah sang pewaris hakiki


Ya Allah
Engkau sesembahan manusia yang sebenarnya
Tiada tuhan selain Engkau yang maha esa
Tiada sekutu bagi-Mu
Tidak beranak dan tidak diperanakkan
Tiada yang serupa dengan Engkau


Ya Allah
Bagi-Mu segala puji,
Bagi-Mu segala syukur,
Bagi-Mu kerajaan seluruhnya
Engkau lah rabb kami


Ya Allah
Kami bersaksi
Ashaduan la illa ha ilallah waashaduanna muhammadar rasulullah
Tidak ada tuhan yang patut disembah kecuali Allah
Dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah
Ya Allah terimalah persaksian kami
Dan selamatkanlah kami dengan persaksian ini


Ya Allah
Engkau lah pelindung kami
Di dunia ini dan di akhirat nanti
Demi keperkasaaan dan kemuliaan Engkau
Kami berlindung kepada Engkau


Ya Allah
Lindungi kami dari setan terkutuk
Lindungi kami dari fitnah
Lindungi kami dari bala dan wabah
Lindungi kami dari segala kejahatan
Lindungi kami dari orang yang Engkau murkai dan orang-orang sesat
Yaitu orang-orang yang mengatakan kata-kata batil tentang Engkau
Dan yang membenci orang-orang yang iman kepada Engkau


Ya Allah lindungi kami


Ya Allah
Engkau lah keselamatan
Dari Engkau keselamatan
Kepada Engkau kembali keselamatan
Maka hidupkan kami dalam keselamatan
Dan masukkan kami ke dalam surga keselamatan (darrussalam)
Dengan rahmat-Mu ya Allah


Ya rabbi ya ilahi
Ya Allah
Ya rabbana


Kami adalah hamba Engka dan anak dari hamba Engkau
Ampuni dan Maaf kami
Kumpulkanlah kami bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat
Yaitu para rasu dan nabi, siddiqin, syuhada, dan shalihin


Ya Allah ana ‘ngabduka fagfirlana
Nas aluka imanan daiman wa yakinan shadikan
Amiin ya rabbal ‘ngalamin


Allahumma shalli ‘ngala syaidina muhammad wa ‘ngala ali Muhammad
Wa ashabihi ajmangin
Walhamdulillahi rabbal ngalamiina

Kpng br 1-6-10

Yuuk Shalat
Oleh: Abdurahman

Bila waktu shalat telah menjelang
Baiknya segera ambil air wudhuk dengan tenang
Waspada pada bisikan perintang
Yang membuat lalai untuk sembahyang


Pasang pakaian yang baik lagi rapi
Tujulah masjid tempat yang suci
Sambil berzikir dalam hati
Mintalah cahaya pada ilahi


Ya Allah berilah cahaya di hati kami
Cahaya pada lisan kami
Cahaya pada pendengaran kami
Cahaya pada pandangan kami
Cahaya pada atas dan bawah kami
Cahaya di depan dan belakang kami
Cahaya di kanan dan kiri kami


Ya Allah tambah-tambahlah cahaya kami
Dan besarkanlah cahaya kami di akhirat nanti


Pasanglah niat beribadah hanya untuk Allah
Tiada ilah selain Allah
Ke rumah Allah menyembah Allah
Selain itu hendaknya dicegah


Tegakan shalat dengan semangat
Serasa surga sudah dekat
Cemaslah hati akan lalai
Serasa neraka sedang mengintai


Mudah-mudahan khusuk melaksanakannya
Terasa berjumpa dan berbicara dengan Dia
Maka bergetarlah sanubari
Terasa kebahagiaan yang tiada terperi


Yang demikian betapalah beruntungnya.
Berjumpa dengan Allah Yang Maha Pencipta
Tuhan kita….Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Yang maha penyayang dari sekalian yang menyayang


Allahu akbar
Segala puji bagi-Nya sebanyak-banyaknya
Maha suci Allah tuhan kita semua….

Anak air, agt 10

Rabu, 29 September 2010

I Love You Teacher

I LOVE YOU MY TEACHER
Oleh: Abdurahman

Kenangan manis di SMP banyak yang tidak terlupakan, mungkin seperti kenangan-kenangan  yang lain juga. Kenangan masa remaja ketika aku di kelas satu, kenangan pada aksi temanku yang bila teringat membuatku tersenyum bercampur sedih. Kenangan itu setelah aku menjadi pendidik  lumayan baik menjadi pengalaman yang berharga dalam menghadapi tugas. Dan tidak disadari peristiwa itu telah dijadikan sebagai sarana yang bermanfaat untuk mengintropeksi kegiatan pendidikan yang ku lakukan.

Dulu di SMP, aku mempunyai seorang teman yang lebih akrab ku panggil dengan Vavo. Seorang remaja yang sedang bertumbuh dengan berperawakan tinggi, berambut keriting, dan berhidungnya mancung, dengan kulit berwarna tidak jauh beda dengan kulitku, sawo matang. Jika diperhatikan sosoknya, ternyata ia orang muda yang lumayan, maksudku nyaman dipandang mata. Temanku yang satu ini orangnya cukup perhatian meskipun seingat aku, ia tidak terlalu sering buka mulut alias pendiam.

Sekali-sekali Vavo menampakkan giginya yang putih dengan alunan kata-kata yang menggelitik dengan suara bernada sofran. Lalu kekakuan dan keheningan berganti kehangatan di antara kami, tawa canda membuncah dan suasana pun jadi hangat dan akrab. Maksudku kehadirannya di antara kami mengundang bibir merekah dengan menebarkan senyum dan tawa canda. Pokoknya, dengan Vavo suasana bisa ceria dan tanpa Vavo tidak ada tuturan canda yang menggoda. Begitu penilaianku padanya dan kukira penilaian kawanku yang lain juga sama.

Kenanganku yang mengesankan tentang Vavo bukan tentang canda tawa atau keelokkan wajahnya tetapi suatu kenangan yang pada awalnya amat lugu, tetapi kemudian menantang arus, dan penuh konflik ekspresi diri seorang remaja. Dan karena itu pula kenangan itu tetap setia padaku dan juga mungkin karena itu aku alami dalam kehidupan usia belia. Kata orang bijak hal yang kita alami dimasa kecil memang bagai menulis di atas batu dan sulit luntur dan apalagi dilupakan.

Pada waktu itu hari Senin dan aku lupa-lupa tidak ingat lagi tanggalnya. Pada jam pertama semua insan SMP-ku mengikuti kegiatan upacara bendera. Seperti Senin yang telah lewat-lewat upacara berjalan tertib dan penuh hikmad. Sudah hampir saat akhir tidak ada yang lain dalam upacara kali ini dibanding upacara sebelumnya. Lalu ada yang mengagetkan kami, pemanggilan nama temanku ,Vavo, yang terdengar lantang dari pengeras suara. Dia dipersilahkan maju ke depan oleh bapak wakil kepsek--seorang guru yang kami panggil Babe berbadan gembur dan suka senyum—, ketika itu beliau baru selesai memberikan amanat-amanat yang diselingi dengan ilustrasi-ilustrasi mendidik. Pemangilan Vavo kali ini mengundang tanya di hati, dan di antara kami tidak ada yang tahu mengapa Vavo harus maju ke depan. Aku sendiri hanya mengira-ngira, barangkali ia dapat prestasi lagi pada cabang silat karena ia memang atlit pesilat tangguh dari sekolah kami. Tapi mungkin aku salah dan mungkin hanya guru-guru yang tahu karena mereka terlihat mangut-mangut, atau Vavo sendiri juga tidak tahu karena ia terlihat bengong saja.

Anak-anak penuh perhatian mengamati Vavo dan aku pun bertanya-tanya dalam hati. Ada apa gerangan dengan Vavo? Prestasi apa yang telah dilakukannya sehingga ia dapat kesempatan maju ke depan atau sebaliknya apakah ia akan dihukum karena telah membuat kesalahan? Rasa penasaranku mengejar pradugaku pada Vavo, teman baikku itu, seperti juga praduga murid-murid peserta upacara lainnya.

Vavo menuju ke depan dan ia berdiri mengahadap ke arah kami sedangkan kepalanya agak menunduk dan tidak ada tanda-tanda ceria pada gelagatnya. Aku mengira, mungkin ia sedang berpikir apa yang akan diterimanya. Saat yang sama wakil kepala sekolah bagian kesiswaan maju ke depan, namanya Bapak Saif, seorang guru olahraga yang dulunya sangat atletis tubuhnya. Bapak Saif, mendekati alat pengeras suara lalu matanya memandang ke seluruh murid sambil kepalanya setengah berputar. Wajahnya sedikit tegang, lalu ia berkata,

“Anak-anakku semua, pada hari ini saya akan menyampaikan suatu berita kepada kalian…” Lalu ia berhenti sejenak dan kemudian melanjutkan kata-katanya seakan-akan tahu rasa penasaran kami.

“Salah satu siswa sekolah kita ini telah jatuh cinta kepada Ibu Ronla, guru bahasa Inggris kalian…” lalu semua mata murid seakan serentak menoleh kepada Vavo dan menatapnya dengan seksama.

“Vavo telah menyampaikan isi hatinya dengan selembar kertas yang berjudul, “I love you, my teacher”.

Kemudian Pak Saif melanjutkan membaca isi tulisan berbahasa Inggris itu yang intinya menyanjung-nyanjung Ibu Ronla. Mendengar penjelasan Pak Saif, Vavo tidak berkutik, dia mematung, dan menunduk entah proses apa yang terjadi pada dirinya. Murid-murid yang lain pun sangat kaget, rasanya tidak percaya anak SMP jatuh cinta pada guru dan berani menulis surat pada gurunya sendiri. Beberapa saat dengan kondisi keheranan itu, lalu terlihat pada ujung kiri anak kelas tiga mulai berisik dan tiba-tiba mereka tertawa terpingkal-pingkal dengan pandangan yang tetap lekat pada Vavo. Di bagian lain ada anak-anak yang mengejek. “Huuuu … dasar anak bandel, hukum saja Pak, biar tahu rasa dia.” Agaknya tanggapan mulai ramai dan Ibu Ronla sendiri aku amati wajahnya memerah. Mungkin beliau amat tersinggung dan marah karena dilecehkan oleh murid yang ia didik dan tidak ada sopan-santunnya.

Lalu, Pak Saif melanjutkan komentarnya dan sekaligus memberikan nasehat-nasehat agar anak-anak berbuat yang positif dan tidak bermain-main dengan kata “love” apalagi kepada guru. Setelah merasa cukup menyampaikan wejangan nasehat-nasehat, lalu ia mengatakan agar Vavo nanti ke kantor menemui ibu guru Ronla untuk meminta maaf. Lalu Pak Saif kembali ketempat dan upacara finis.

Selesai upacara, kami bubar dan kata-kata “I love you my teacher’’ terdengar di sana-sini dengan frekuensi penyebutan meningkat di kalangan anak-anak yang diiringi dengan senyum geli dan tawa canda. Vavo sendiri langsung menuju kantor guru dibelakang iring-iringan guru. Vavo tidak menoleh dan masih menunduk dan lebih penurut dibanding kuda yang dituntun.

“Vavo-vavo…” keluh ku, “Kamu benar-benar suka membuat kejutan tapi kali ini kamu menangung resiko besar. Mudah-mudahan tidak kualat” gumamku sambil menarik napas dalam.

Di dalam kantor Vavo dengan wajah sedikit pucat dan hati merasakan amat malu masih saja menunduk. Di hadapan ibu Ronla ia tidak kuat mengangkat wajahnya, kakinya terasa gemetar ditatap ibu guru yang disayanginya itu. Ibu Ronla sendiri wajahnya masih sedikit memerah menunjukkan hatinya masih marah. Vavo ingin menyampaikan sesuatu tetapi ia takut akan lebih dipermalukan lagi. Tidak habis pikir, seperti yang telah disampaikan Pak Saif, Vavo menyampaikan permintaan maafnya dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi. Vavo dimaafkan Ibu Ronla dan beliau menegaskan, perbuatan nakal jangan dilakukan lagi sebab kalau saja masih suka usil orang tua Vavo akan dipanggil ke sekolah. Vavo menggangguk dan menunjukkan wajah menyesal dan kemudian mohon permisi. Vavo dibolehkan masuk kelas dan Vavo masih menanggung malu.

Ibu Ronla memang guru yang terbaik lagi cantik di sekolah kami. Bagi kami ia memang seperti bintang terang yang disenangi dan lagi menjadi buah pembicaraan, maklum kami hidup di kampung pada daerah pertanian yang jarang melihat wanita dengan penampilan kekota-kotaan. Mungkin itu pula lah yang membuat Vavo yang lebih besar badannya dari kami berani menyelipkan kertas bertulisan “I love you, my teacher”, di dalam buku latihan untuk menyatakan rasa senangnya dan moga-moga bu Ronla juga senang pada kami.

Tetapi ternyata bagi Ibu Ronla itu suatu yang tidak bisa diterima, ia seakan-akan dilecehkan murid kampung yang disebut-sebut suka usil dan kemudian beliau memberikan kertas itu pada wakil kepsek. Dan wakasek pun memutuskan memanggil Vavo dan mengumumkan aksinya pada upacara bendera. Mungkin maksud wakasek mengumumkan aksi itu lebih bersifat didaktis agar anak-anak jera berbuat nakal.

Sebagai teman, kami kecewa dengan dengan cara yang dilakukan sekolah kepada Vavo. Kepada Vavon pun kami kecewa mengapa ia begitu lancang dan beraninya bereksperesi menyampaikan isi hatinya pada bu Ronla. Bahkan bahasa yang digunakannya adalah bahasa yang baru dipelajari dari gurunya itu. Saya sebagai teman Vavo waktu itu memang sependapat dengan Pak Saif, kenapa sih anak-anak melakukan kegiatan yang aneh-aneh. Apakah mungkin Vavo ingin terkenal karena dengan membuat yang aneh-aneh seseorang kan dapat cepat termahsyur.

Tapi mungkin kah demikian? Intuisiku merasakan penolakan dan sekarang kurasakan keyakinanku hanya 50 persen. Ataukah itu hanya gaya Vavo yang suka membuat sensasi yang membikin orang tertawa dan lalu tidak ada dalam pikirannya mau macam-macam guru. Mungkin ini eksperimennya, jika kata “I love you” dikatakan kepada guru apa yang akan terjadi dan bagaimana seorang guru mereaksinya. Ya.. mungkin lumrah dan biasa saja seperti di negeri bahasa itu berasal.

Vavo bertemu aku dan teman-teman yang lain setelah istirahat jam pelajaran di belakang sekolah yang teduh dengan pohon yang rindang. Setelah duduk dikursi panjang yang sudah mulai lekang semua pada menatap Vavo. Lalu Uya memecah keheningan yang sudah beku di antara kami.

“Vav, hebat kamu ya …jatuh cinta tidak bilang-bilang, pada ibu guru lagi.. ”, suara Uya menyelutuk.

Vavo diam saja dan aku amati bagian hitam mata Vavo yang bulat turun naik menatap kami. Aku yakin ia sedih dan heran sebab setelah dipermalukan di depan warga sekolah, sekarang disindir teman pula. Kasihan Vavo…aku rasanya perlu memberikan pembelaan.

“Udahlah Vav, jangan sedih, sabar, tidak apa-apa, lagian Ibu Ronla kan sudah memaafkanmu kan? Kamu tetap kami kok. Ayo kita minum dulu, biar segar.” Kataku sambil menarik tangannya. Yang lain juga serentak hendak berdiri.

“Tunggu…tunggu sebentar teman-teman, ada yang akan aku katakan pada kalian. Saya mau bertanya pada kalian secara sungguh-sungguh, apakah kalian memang percaya saya jatuh cinta pada Ibu Ronla? Lalu saya menulis surat cinta pada beliau?”

“Ya lah, Vav kayaknya begitu. Bukan kah kemarin lusa kita telah berbincang-bincang tentang Ibu yang hebat mengajar itu dan lagian ia baik hati katamu.” Timpal Nurud.

“O iya Vav… aku ingat, kamu mengatakan waktu itu Ibu Ronla itu cantik dan kamu suka padanya” sambung aku.

“O…, begitu ya? Lalu apakah kamu yakin aku bisa menulis surat cinta dalam bahasa Inggris?” desaknya.

“Rasanya betul deh.” Timpal Awo yang hanya diam dari tadi. “Soalnya yang lancar bahasa Inggrisnya di antara kita-kita kan kamu.” Lanjutnya.

Vavo lalu memelas, “Nah ini ni, sepertinya aku memang sudah harus menanggung derita ini sendiri, sebab sahabat-sahabatku yang sangat kenal siapa aku juga yakin itu perbuatanku. Kalau begini rupanya ya gimana lagi…apalagi dengan guru dan anak-anak yang lain. Saya sulit untuk membela diri lagian tidak ada saksi. Sekarang dengar teman-teman ya, aku suer bahwa aku kemarin hanya mengatakan senang sama Ibu Ronla pada kalian tetapi yang sebenar-benarnya aku….aku tidak pernah menulis suratnya. Apalagi membuat surat cinta, amit-amit.”

Sekarang aku curiga nih… ada yang mengusili aku… sekarang jawab siapa di antara kalian yang menulis dan menaruh tulisan itu di dalam buku latihanku?” Sekarang Vavo yang balik menuduh pada kami. Semua terdiam, memang ada yang nafasnya turun naik dengan kencang tapi kami tidak ingin menuduh dan memojokkan teman tanpa bukti. Lalu Vavo tersenyum kecil, “Kalau kalian tidak ada yang mengaku, ya tidak apa-apa, soalnya aku percaya pada kalian. Mungkin yang usil itu teman-teman di kelasku.”

Kami memegang tangan Vavo, “Terima kasih Vav kamu percaya pada kami.” Kamu sahabat kami dan kami percaya kamu dan kami akan mendukungmu, dalam masalah ini

Vavo membuat kami tersentak kaget dan kemudian seperti tak percaya, ternyata yang membuat tulisan itu bukan dirinya. Vavo memang sabar dan tidak mau menyalahkan kami dan siapa pun karena tanpa bkti. Yang ku dengar, dia mengatakan, “Saya memang kurang hati-hati dengan barang-barang saya. Saya yang salah sebab diabad fitnah meraja lela ini kita mesti waspada. Sekali lagi waspada dan saya senang berbagi dengan kalian dan sekarang ayo pergi minum!” katanya sambil menarik tanganku. Kemudian semua berdiri dan setengah berlari kami menuju kafe Pak Kuek.

Hanya kami yang tahu bahwa tulisan “I love you, my teacher” yang ditujukan pada Ibu Ronla waktu itu bukanlah karya Vavo. Demi kenyamanan dirinya seminggu setelah itu Vavo dibawa oleh pamannya ke kota dan bersekolah di sana. Kami kehilangan teman baik yang pandai menghangatkan suasana. Selamat jalan Vavo, kamu teman favoritku.

Aku angkat topi dan salut pada Vavo, betapa lapang hatinya menghadapi semua itu dan kesabaran dirinya membebaskannya dari pedihnya rasa malu. Aku tidak dapat membayangkan kalau kejadian semacam itu menimpa diriku atau murid-murid yang lain. Aku yakin tentu kejadian seperti itu dapat menimbulkan frustasi yang fatal. Di Amerika saja ada murid yang dicomooh seorang anak nakal lalu sudah tidak mau datang lagi ke sekolah dan malah mengurung diri di rumah.

Fitnah memang merupakan bahaya berat karena ia datang dari orang yang jahat yang susah dilihat. Kami hanya menduga orang yang melakukannya matanya biasanya jelalat, kalau bicara sering ngumpat, dan komat-komat. Tetapi ia selalu saja mau ikut serta dengan kegiatan kita-kita. Di depan iya-iya seperti sangat setia tetapi ketika lengah ia malah menjadi pecundang. Seakan ia tidak senang melihat orang senang tetapi malah senang melihat orang tidak senang. Ya Allah, kami berlindung kepada Mu dari semacan itu dan dari sifat semacam itu, yaitu sifat iri dan dengki.

Kini sudah puluhan tahun peristiwa itu berlalu dan ia menjadi kenangan yang telah menjadi pengalaman yang berharga dalam menghadapi anak didik. Aku berkeyakinan, seharusnyalah guru seorang yang sabar dan tidak cepat marah dan tidak tergesa-gesa menuduh terhadap anak terutama dalam berbuat nakal. Guru mesti menyelidiki dengan benar kepastian tindakan yang dilakukan siswa dan hukuman yang akan diberikan agar tidak merugikan siswa. Guru hendaklah mengarahkan dan mendidik murid dan jangan memberi malu murid apalagi dihadapan umum karena itu dapat berakibat fatal. Jika ketidakadilan terjadi di sekolah di antara sesama murid atau dengan guru maka gurulah yang dibutuhkan menjadi hakim yang adil dengan menunjukkan barang bukti dan saksi-saksi. Jadi, kehidupan berhukum sudah dapat dirasakan dalam pendidikan sekolah sejak usia remaja. Menciptakan suasana kekeluargaan di sekolah akan lebih efetif mencegah kenakalan siswa dibanding membuat jarak dengan anak didik.

Anak-anak harus waspada terhadap teman-temannya yang usil sebab dalam filem-filem sekarang keusilan malah jadi bahan tontonan dan anak yang bodoh menjadikannya tuntunan. Bahaya kan? Persaingan anak memang ada yang tidak sehat secara kejiwaan terutama anak-anak yang picik yang maunya hebat sendiri dan dapat pujian sendiri. Ekspresi diri anak membuat surat cinta itu pada dasarnya adalah wajar dan dapat dijadikan sarana belajar yang autentik, mestinya murid dibimbing dan diarahkan membuat surat yang baik dalam bahasa asing yang benar.


Minggu, 26 September 2010

Pokok Kebaikan


POKOK-POKOK KEBAJIKAN


BUKANLAH MENGHADAPKAN WAJAHMU KE ARAH TIMUR DAN KE BARAT ITU SUATU KEBAIKAN,
AKAN TETAPI SESUNGGUHNYA
KEBAIKAN ITU IALAH BERIMAN KEPADA:
ALLAH,
HARI KEMUDIAN,
MALAIKAT-MALAIKAT,
KITAB-KITAB,
NABI-NABI;
dan
MEMBERIKAN HARTA YANG DICINTAI KEPADA: KERABATNYA,
ANAK-ANAK YATIM,
ORANG-ORANG MISKIN,
MUSAFIR YANG MEMERLUKAN PERTOLONGAN,
 ORANG-ORANG YANG MEMINTA-MINTA;
dan
MEMERDEKAN HAMBA SAHAYA;
MENDIRIKAN SHALAT;
MENUNAIKAN ZAKAT;
DAN ORANG-ORANG YANG MENEPATI JANJINYA 
APABILA IA BERJANJI;
DAN ORANG-ORANG YANG SABAR
DALAM KESEMPITAN,PENDERITAAN,DALAM PEPERANGAN,
MEREKA ITULAH ORANG-ORANG YANG BENAR IMANNYA
DAN MEREKA ITULAH ORANG-ORANG YANG BERTAKWA.

               (Terjemahan Al-Qur’an Surah Al-Baqarah Ayat 177)