Senin, 04 November 2013

PESAN KEARIFAN BUDAYA DALAM KABA MINANGKABAU:


SUATU  TINJAUAN UNTUK PENELITIAN
Oleh
 Dr. Abdurahman, M.Pd.
Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang

ABSTRAK

          Tulisan ini bertujuan memaparkan fenomena cerita kaba Minangkabau yang berisi pesan kearifan budaya dan kaitannya dengan penelitian yang akan penulis lakukan. Di dalamnya diuraikan keberadaan kaba sebagai karya sastra yang berisi kearifan budaya; alasan pentingnya penelitian dilaksanakan; dan pihak-pihak akan memanfaatkan hasil penelitian. Selain itu, dijelaskan teori tentang kebudayaan, kearifan budaya, dan kaitan kearifan budaya dengan cerita kaba. Pembahasan yang ringkas ini diharapkan dapat menjadi pemicu diskusi untuk mendapatkan masukan tentang penelitian kearifan budaya dalam cerita kaba Minangkabau. 


         Key word: Kearifan Budaya, Cerita Kaba, Penelitian.

A.       Pendahuluan  
Ada banyak alasan mengapa cerita kaba layak untuk dibicarakan dan kemudian diteliti kandungan isinya. Di antara alasan itu adalah karena keberadaan cerita kaba  sebagai karya sastra klasik Minangkabau dapat dikatakan fenomenal  dengan  pesan-pesan  kehidupan  yang ada di dalamnya yang masih relevan sebagai penimbang perilaku berbudaya masa sekarang. Di samping itu, keberadaannya juga menggambarkan fenomena budaya kehidupan  masyarakat lama dengan multi peran yang bermuatan pesan-pesan kultural  sehingga merefleksikan kearifan budaya. Peran yang berisi pesan kearifan itu juga merupakan  instrumen pendidikan budaya yang dapat mempengaruhi pembentukan wujud aktualisasi realitas budaya. Selain itu, keberadaan cerita kaba yang fenomenal itu sangat berharga karena pengapresiasiannya mempengaruhi pencerahan budaya ke arah  yang konstruktif dan inovatif yang  implikasi manfaatnya dapat memupuk pembentukan karakter berbudaya.
Meskipun kaba merupakan cerita rakyat yang bersifat klasik, namun eksistensinya mampu menembus ruang waktu dalam bentang  yang cukup panjang, hingga kini diperkirakan sudah lebih satu abad sejak kaba pertama kali diterbitkan. Lamanya cerita kaba eksis  dalam  kehidupan masyarakatnya menunjukkan bahwa cerita kaba merupakan cerita yang diapresiasi dan dihargai oleh masyarakatnya. Apresiasi, penghargaan, dan pemertahanan akan cerita kaba itu oleh masyarakatnya menunjukkan kaitan yang kuat antara muatan budaya kelompok etnis yang menjadi tema-tema dalam cerita kaba dengan perannya dalam pertimbangan mengatasi problema  budaya. Dengan demikian, meskipun cerita kaba merupakan suatu yang klasik tetapi kaba mempunyai kekuatan berupa  muatan budaya  dan pesan-pesan yang diaktualkannya pada masyarakatnya.   
Alasan yang  lebih spesifik mengapa cerita kaba menarik adalah karena dari sekian banyak pesan budaya dalam kaba,  salah satunya  adalah pesan kearifan budaya. Kearifan budaya dalam kaba termuat hampir pada semua bagian kaba  karena  naskah kaba isinya berupa simbol-simbol bahasa berisi ciplakan realitas kehidupan yang disampaikan dengan ucapan, tindakan dan perilaku tokoh cerita kaba yang menggambarkan aspek kearifan budaya. Penokohan cerita kaba sengaja dihadirkan pengarang dalam kerangka mengaktualisasikan pandangan  tentang pewarisan budaya. Dengan demikian, kaba dengan lakuan tokohnya merefleksikan budaya yang melatarbelakangi  kehadiran kaba sehingga tokoh cerita seolah-olah adalah tokoh dalam kehidupan sebagaimana realitas peristiwa yang sebenarnya.
Di sisi lain, cerita kaba adakalanya bertokoh dengan nama samaran yang disulap pengarang untuk menceritakan peristiwa dan kejadian yang tidak merealitas dalam masyarakat. Dalam hal ini, pencerita kaba seakan menunjukkan kepada pemabaca bagaimana kearifan perilaku tokoh cerita yang seharusnya menurut pengarang atau budaya masyarakatnya. Pesan dari kaba menunjukkan bagaimana seharusnya kearifan budaya relevan dengan pokok-pokok budaya ideal dalam kehidupan masyarakat.  
 Sama seperti cerita rakyat lainnya, cerita kaba sebagai sastra lama bersifat  tidak menonjolkan individu yang pertama kali membuatnya atau menceritakannya (anonim). Tidak menonjolnya nama individu yang mengklaim dirinya sebagai pengarang cerita kaba menjadikan kaba  lebih diakui sebagai milik masyarakat budaya dan sekaligus dihargai  masyarakatnya. Dengan demikian, kaba telah menjadi milik masyarakat dan dalam perkembangan masyarakatnya  kaba mewakili  pandangan masyarakat dalam pandangan terhadap pesan kearifan  budaya.  Hal itu makin memberi gambaran bahwa budaya kehidupan nyata masyarakatnya dan  aspek budaya yang digambarkan dalam kaba bersejajaran dengan gambaran perilaku dan tindakan budaya dalam masayarakat pendukung cerita.
Alasan-alasan yang dikemukakan itu senada dengan yang dinyatakan  Samovar dan Porter (2001:38) bahwa setiap cerita rakyat  bercerita tentang orang-orangnya yang digunakan untuk mentransfer nilai budaya dari generasi ke generasi berikutnya. Dan setiap budaya memiliki banyak cerita yang masing-masing menekankan pesan kearifan budaya yang fundamental. Yogi (1987:18) juga berpendapat bahwa  sastra Minangkabau memuat pesan kearifan budaya yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya karena di dalamnya terkandung hikmah kompleksitas kehidupan manusia, seperti pesan kearifan adat, moral, ekonomi, sosial, pertahanan,  dan kedamaian. Dengan demikian, kaba dapat berperan sebagai penyelaras moral yang berarti  pesan kearifan  budaya dan adat yang ada dalam kaba diwariskan dan dijadikan pedoman dalam menyikapi persoalan kehidupan. Dalam hubungan itu, kaba telah difungsikan sebagai suatu media pendidikan yang bernilai dalam pelestarian adat budaya.
Sebagai ilustrasi dalam kaba “Rancak Di Labuah”  (oleh Dt. Panduka Alam, 2004) ditemukan gambaran kearifan tindakan seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya menjadi orang  yang baik. Tokoh Siti Jauhari berhasil mendidik anaknya tokoh Buyuang Geleng dan Siti Budiman menjadi anak-anak yang suka berkarya, intelek,  dan berbakti kepada orang tua. Pesan kearifan pendidikan (budaya) yang disampaikan Siti Jauhari meliputi berbagai aspek kehidupan meliputi,  bagaimana mengisi hidup  dengan bekerja, cara berumah tangga, syarat-syarat menjadi penghulu (pemimpin adat), dan berbagai ajaran etika. Dengan demikian, kaba sebagai sastra rakyat jelas merupakan karya sastra  lama  yang memuat  pesan kearifan  budaya (pendidikan)  yang berguna bagi masyarakatnya. Sehubungan dengan kearifan budaya Sastrowardoyo (1989: 18) menyatakan bahwa karya sastra merupakan penjaga pesan kearifan kehidupan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat karena di dalamnya terkandung hikmah kompleksitas kehidupan manusia mulai dari kelahiran hingga kematiannya.
B.     Penelitian Kearifan Budaya
Pesan kearifan budaya yang ada dalam naskah cerita kaba Minangkabau perlu diungkapkan dengan penelitian. Bila naskah kaba dieksplorasi hasilnya dapat digunakan untuk peningkatan kualitas hidup berbudaya masa kini.  Hal itu senada yang diungkapkan oleh Ratna (2008: 329) yang menyatakan bahwa khazanah sastra lama kaya dengan pesan kearifan yang pada dasarnya sangat diperlukan dalam rangka membina semangat kebangsaan dan kesatuan bangsa. Sehingga dengan demikian, pembangunan budaya bangsa akan terwujud  dengan dukungan landasan-landasan filosofis yang digali dari budaya asli bangsa Indonesia.
Di samping itu, kajian akan kaba ini memberikan kontribusi pada beberapa mata kuliah sastra yang ada di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, di antaranya mata kuliah: Telaah Naskah Minangkabau (BAM020), Kajian Filsafat Kebudayaan Minangkabau (BAM056), Sastra Minangkabau (IND223), Semiotika (IND049), Sastra Nusantara (IND013), Pemahaman Lintas Budaya (IND041), dan Ilmu Sosial dan Budaya Dasar  (UNP033) (UNP, 2010:57).
Dengan demikian, usaha untuk mengeksplorasi kaba dan meneliti pesan kearifan budayanya merupakan  suatu yang penting  dan mempunyai manfaat yang dapat membantu masyarakat masa depan mengapresiasi aspek budaya dalam kaba yang sudah hidup lama dalam masyarakat. Pengungkapan kembali pesan kearifan budaya kaba dapat berguna  untuk peningkatan kualitas pemahaman aspek-aspek  budaya dalam kehidupan  terutama dalam pendidikan bahasa dan sastra.
Penelitian pesan kearifan budaya dalam kaba Minangkabau dapat dipandang mempunyai keistimewaan dan keunikan karena terkait dengan filosofi dan pandangan hidup budaya Minangkabau yang khas. Kekhasan itu seperti yang diungkapkan Naim (1996) bahwa filosofi budaya Minangkabau mengandung pesan kearifan universal  dan global yang langgeng seperti terdapat dalam petatah petitih adat ”tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan. Maksudnya, esensi pesan kearifan budaya Minangkabau yang sebenarnya tetap akan lestari  karena adat Minangkabau relevan dengan sejumlah ciri yang melekat dengan pesan kearifan budaya universal, yaitu: demokratis,  terbuka, resiprokal, egaliter, sentrifugal, kompetitif, koperatif, dan mengakomodasi konflik yang semua itu pada umumnya tetap menjadi impian masyarakat madani sampai hari ini.
Pentingnya penelitian pesan kearifan budaya dalam kaba sejalan dengan penegasan Sugono (2004),  yang mengatakan bahwa pesan kearifan karya sastra lama yang memuat informasi kehidupan masa lalu perlu dihadirkan kembali dalam kehidupan masa kini. Maksud dihadirkan kembali dalam kehidupan adalah mengaktualkan berbagai pesan budayanya dalam berbagai aspek kehidupan termasuk dalam pendidikan budaya terutama dalam pendidikan bahasa dan sastra. Hal itu menjadi penting karena karya sastra lama banyak menyimpan wawasan pengetahuan masa lampau yang tidak kecil peranannya dalam menata hidup masa kini dan masa depan. Penegasan itu senada dengan pendapat Hasanuddin (2009) bahwa sastra pada zaman lampau termasuk kaba berperan sebagai suatu pelajaran pada zaman sekarang terutama isi atau kandungan nilai budi pekertinya yang disikapi secara positif.
Sejalan dengan hal itu, berkaitan dengan pengkajian pesan kearifan budaya akan makin diperlukan bagi pendidikan  budaya dan karakter bangsa yang telah diterapkan pemerintah dalam kurikulum pendidikan (Depdiknas, 2010). Dan kontribusi logis penelitian kearifan budaya dapat dihubungkan dengan kebutuhan kaum intelektual dan pendidikannya  yang membutuhkan analisis budaya. Azmi (2004) menyatakan bahwa pemahaman yang mendalam mengenai pesan-pesan budaya Minangkabau diperlukan dalam hal mendiskusikan tentang pendidikan budaya (termasuk bahasa dan sastra).   Hal itu penting karena generasi muda dilatih terus lewat pendidikan formal untuk berpikir kritis dan selalu memperbandingkan dan mempertanyakan sesuatu, terutama peran adat budaya.  Dengan demikian, jelaslah bahwa kalangan terpelajar memerlukan kajian ilmiah dalam bidang  budaya dan sastra lama sebagai ancangan budaya dan sebagai  pegangan budaya.
Berkaitan dengan muatan pesan kearifan budaya dalam cerita kaba maka untuk mendeskripsikannya  secara ilmiah kiranya perlu dilakukan  penelitian tentang hal sebagai berikut ini.   1) Latar dan motif tokoh cerita kaba yang melakukan tindakan pesan kearifan budaya, 2) Reaksi tokoh cerita kaba yang menjadi sasaran pesan kearifan budaya, 3) Jenis dan bentuk pesan kearifan budaya secara semiotis. 4) Makna bentuk-bentuk  pesan kearifan budaya  secara semiotis. 5) Relevansi pesan kearifan budaya dalam kaba dengan ajaran adat dan agama.
            Berdasarkan fokus dan sub-sub fokus penelitian di atas maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut ini. Bagaimanakah pesan kearifan budaya diungkapkan dalam kaba Minangkabau?    Berdasarkan rumusan  penelitian itu maka diharapkan hasil penelitian  dapat digunakan sebagai sumber informasi bagi masyarakat Indonesia terutama mahasiswa  dan kelompok etnis Minangkabau dalam memahami  pesan kearifan budaya yang terdapat dalam  kaba. Setelah memahami pesan kearifan  budaya itu diharapkan tumbuh penghargaan pada sastra lama terutama sastra kaba yang merupakan cerminan  terhadap perilaku hidup dalam masyarakat lokal Minangkabau. Setelah tumbuh penghargaan diharapkan berkembang kesadaran untuk menggali dan menggunakan pesan kearifan  budaya  yang ada dalam cerita rakyat dan mewariskannya untuk keperluan hidup masa datang. Selanjutnya, akan muncul reinterpretasi  terhadap pesan kearifan budaya menjadi padangan baru yang membawa kedinamisan kehidupan budaya. Dengan demikian, deskripsi dan interpretasi pesan kearifan pendidikan dan  budaya dapat berkontribusi positif dalam berbagai kegiatan hidup, baik secara formal maupun informal.
C.    Hakikat Kearifan Budaya
Sebuah ancangan penelitian tentu tidak terlepas dari teori-teori dan kajian pustaka yang mendukungnya. Untuk itu, diperlukan dasar kajian yang berkaitan dengan hakikat kebudayaan dan pesan kearifan budaya.
1.      Kebudayaan
      Dalam bahasa Indonesia konsep kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari  buddhi yang berarti ”budi”  atau ”akal” (Koentjaraningrat , 2000:9). Dengan demikian, kebudayaan dapat merujuk pada hal-hal yang berkaitan dengan persoalan budi dan akal. Budi merupakan alat batin yang merupakan paduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk. Dalam bahasa Inggris kebudayaan disebut  culture  berasal dari bahasa Latin colere yang berarti ”mengolah” atau ”mengerjakan”, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari pengertian itu dan perkembangan berikutnya, kata budaya dapat dipahami sebagai segala daya dan upaya serta tindakan manusia untuk mengolah dan mengubah alam (Koentjaraningrat, 2002). Dalam pengertian tersebut cakupan perumusan budaya  termasuk mengolah budi dan akal yang merupakan unsur batin manusia.
Dalam kajian ilmiah terutama dalam bidang antropologi konsep kebudayaan sudah didefenisikan oleh banyak pakar. Kroeber dan Kluckhohn, telah mencatat 164 definisi kebudayaan yang mereka temukan dalam literatur antropologi (Samovar dan Richard, 2001).  Dari sekian banyak definisi yang tumpang-tindih itu, diidentifikasi enam kelompok pengertian utama kebudayaan, yaitu secara deskriptif, historis, normatif, psikologis, strukturalis, dan genetik (Smith, 2001:3).    Konsep kebudayaan yang  fenomenal dan sering menjadi rujukan adalah yang dikemukakan oleh Tylor seorang antropolog yang lahir pada tahun 1871, yang menyatakan bahwa kebudayaan adalah kesatuan yang menyeluruh yang terdiri dari pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, dan semua kemampuan serta kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat (Harris dan Robert T  Moran 2006).  Peursen (1988:11) menyatakan bahwa kebudayaan meliputi segala perbuatan manusia seperti cara ia menghayati dan membuat upacara untuk kematian, kelahiran, seksualitas, makanan, sopan santun, pakaian, kesenian, ilmu pengetahuan, dan agama. Karena kebudayan merupakan perbuatan manusia maka kebudayaan tidak pernah mencapai batas dan berlangsung dalam waktu yang lama. Samovar dan Porter (2001:33) yang mengungkapkan bahwa kebudayaan dapat berarti simpanan akumulatif dari pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, pilihan waktu, peranan, relasi ruang, konsep yang luas, dan objek material atau kepemilikan yang dimiliki dan dipertahankan oleh sekelompok orang atau suatu generasi. Lebih jauh kebudayaan dapat berarti sistem pengetahuan yang dipertukarkan oleh sejumlah orang dalam sebuah kelompok yang besar yang mengikat manusia satu dengan lainnya.
Dari pengertian kebudayaan tersebut dinyatakan bahwa seluruh bidang yang dipelajari manusia sebagai anggota masyarakat adalah kebudayaan.  Hal itu juga menunjukkan bahwa cakupan bidang kajian kebudayaan amat luas sebab tidak banyak  kemampuan yang diperoleh dan dikuasai manusia tanpa melalui keanggotaannya dalam kemasyarakatan.
Koentjaraningrat (2000) menyatakan bahwa dalam kehidupan manusia, kebudayaan diwujudkan dalam tiga bentuk yaitu, ideas, activities, dan artifacts. Pertama, wujud kebudayaan ideas merupakan suatu kompleksitas dari ide-ide, gagasan, pesan kearifan, norma-norma,  peraturan-peraturan dan sebagainya. Wujud budaya ideal bersifat abstrak, tidak dapat diraba. Lokasinya ada dalam pikiran dan kalau dalam tulisan maka lokasi kebudayaan ideal ada  yang berada  dalam karangan atau buku-buku hasil karya penulis warga masyarakat bersangkutan. Berkaitan dengan budaya dalam penelitian ini tentu pesan kearifan budaya itu berada dalam cerita rakyat, yaitu kaba Minangkabau sebagai karya sastra. Dalam kebudayaan ide-ide dan gagasan-gagasan manusia banyak yang hidup dalam suatu masyarakat serta memberikan tatanan kepada masyarakat itu. Ide-ide dan gagasan secara terpadu menjadi suatu sistem yang disebut sistem budaya dan dapat disebut dengan adat atau adat-istiadat dalam bentuk jamak.
Kedua, wujud  kebudayaan activities  disebut  juga dengan sistem sosial, yaitu mengenai tindakan berpola dari manusia. Sistem sosial merupakan suatu kompleksitas aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat. Kelakuan berpola ini teraktualisasi dalam bentuk aktivitas dan interaksi manusia satu sama lain dari waktu ke waktu dalam bentuk konkret  dan bisa diobservasi. Ketiga, wujud kebudayaan artifacts atau kebudayaan fisik sebagai benda-benda hasil karya manusia. Wujud ini berupa seluruh total dari hasil fisik dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat. Sifat kebudayaan ini paling konkret berupa  benda-benda atau hal-hal yang dapat dilihat, diraba, dan sebagainya. 
Dalam penelitian ini konsep kebudayaan yang dirujuk adalah wujud kebudayaan ideal yang merupakan suatu kompleksitas dari ide-ide, gagasan, pesan kearifan, norma-norma,  peraturan-peraturan, dan sebagainya yang berada dalam kehidupan manusia  yang dapat ditemui dalam sastra kaba.
2.      Pesan Kearifan Budaya
            Pengertian pesan kearifan  budaya dapat dijelaskan  berdasarkan   kata-kata  yang menjadi dasarnya yaitu, ‘pesan’, ‘kearifan’, dan ‘budaya’. Pertama, definisi pesan ditelusuri melalui Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) yang maknanya adalah 1) perintah,  nasihat,  permintaan, amanat, yang disampaikan melalui orang lain. 2) perkataan nasihat  dan wasiat  yang disampaikan seseorang, 3) petaruh yang ada sanksinya kalau dilanggar. Jadi, dalam pesan itu ada bentuk-bentuk verbal berupa nasihat, amanat, perintah, dan wasiat.  Nasihat yang dimaksudkan adalah ajaran atau pelajaran baik berupa petunjuk, peringatan, dan teguran yang baik, sedangkan amanat  adalah pesan yang disampaikan pengarang kepada pembaca. Perintah berarti perkataan yang bertujuan menyuruh melakukan sesuatu, sedangkan wasiat  berarti  pesan terakhir yang disampaikan seseorang  yang akan pergi.   
            Kearifan merupakan kata yang dibentuk dari kata dasar ‘arif’ yang bermakna ‘bijaksana, cerdik dan pandai, berilmu’ yang menunjukkan sifat. Sedangkan kata kearifan merupakan kata benda yang bermakna ‘kebijaksanaan atau kecendekiaan’ (KBBI: 2002: 65). Dengan demikian yang dimaksud dengan kearifan dapat berupa perkataan atau tindakan, perbuatan yang menunjukkan sifat arif, yaitu bijaksana, cerdik dan pandai, serta berilmu. Rahyono (2009:7) menyatakan bahwa kearifan merupakan kecerdasan yang dimiliki sekelompok (etnis) manusia yang diperoleh melalui pengalaman hidupnya serta terwujud dalam ciri-ciri budaya yang dimilikinya. Bila dikaitkan dengan penelitian ini kearifan berarti kecerdasan dan kebijaksanaan yang dihasilkan masyarakat budaya yang direkam atau didokumentasikan  dalam cerita rakyat kaba berdasar pengalam hidup yang dilaluinya.
            Selanjutnya definisi ‘budaya’, pada bagian sebelumnya sudah dijelaskan bahwa budaya adalah  keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik sendiri manusia dengan belajar.          Berkaitan dengan definisi  kata ’pesan’, ’kearifan’ dan definisi ’budaya’, maka yang dimaksud  dengan pesan kearifan budaya adalah nasihat, petunjuk, peringatan, dan teguran yang baik yang dilakukan  seseorang  dalam bentuk  norma-norma, aturan-aturan, dan  tindakan yang menunjukkan kecerdasan dan kebijaksanaan. Bentuknya dapat berupa nasihat adat,  aturan  hidup dalam masyarakat,  amanat  tentang pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem pencaharian, dan teknologi.  Dengan demikian,  pengungkapan pesan kearifan budaya dapat terkait dengan pengungkapan tujuh aspek kebudayaan yang  dinyatakan Koendjaraningrat (2000).
            Berdasarkan uraian di atas, dalam kajian ini yang menjadi objek penelitian adalah kaba-kaba yang tertulis dan analisis pesan kearifan budaya yang dimaksudkan adalah deskripsi dan interpretasi pesan kearifan kehidupan dalam teks kaba yang dapat berupa dialog, monolog, wacana, paragraf, kalimat, dan kata yang tertulis dan yang tersirat dalam teks kaba tertulis.  

Sabtu, 27 Juli 2013

PERTOLONGAN


Indeks  Terjemahan Ayat Al-Quran yang memakai kata “Pertolongan”
  1. 1:5 Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

  2. 2:45 Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,

  3. 2:153 Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

  4. 2:177 Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

  5. 2:214 Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

  6. 3:28 Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).

  7. 3:111 Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat mudarat kepada kamu, selain dari gangguan-gangguan celaan saja, dan jika mereka berperang dengan kamu, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah). Kemudian mereka tidak mendapat pertolongan.

  8. 3:160 Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.

  9. 6:34 Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorang pun yang dapat merubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu.

  10. 7:128 Musa berkata kepada kaumnya: "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa".

  11. 7:192 Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.

  12. 8:9 (Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut".

  13. 8:26 Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.

  14. 8:62 Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mu'min,

  15. 8:72 Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

  16. 8:74 Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.

  17. 9:48 Sesungguhnya dari dahulu pun mereka telah mencari-cari kekacauan dan mereka mengatur pelbagai macam tipu daya untuk (merusakkan) mu, hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah), dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya.

  18. 11:88 Syu'aib berkata: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku daripada-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.

  19. 11:113 Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.

  20. 12:18 Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya`qub berkata: "Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan."

  21. 12:110 Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami daripada orang-orang yang berdosa.

  22. 16:53 Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.

  23. 16:127 Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.

  24. 17:33 Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barang siapa dibunuh secara dzalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.

  25. 18:39 Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu "MAA SYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH" (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan,

  26. 18:44 Di sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Hak. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan.

  27. 21:39 Andaikata orang-orang kafir itu mengetahui, waktu (di mana) mereka itu tidak mampu mengelakkan api neraka dari muka mereka dan (tidak pula) dari punggung mereka, sedang mereka (tidak pula) mendapat pertolongan, (tentulah mereka tiada meminta disegerakan).

  28. 21:112 (Muhammad) berkata: "Ya Tuhanku, berilah keputusan dengan adil. Dan Tuhan kami ialah Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu katakan".  

  29. 23:65 Janganlah kamu memekik minta tolong pada hari ini. Sesungguhnya kamu tiada akan mendapat pertolongan dari Kami.

  30. 28:15 Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israel) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir'aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: "Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).

  31. 28:18 Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya), maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongan kemarin berteriak meminta pertolongan kepadanya. Musa berkata kepadanya: "Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata (kesesatannya)".

  32. 29:10 Dan di antara manusia ada orang yang berkata: "Kami beriman kepada Allah", maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai adzab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: "Sesungguhnya kami adalah besertamu." Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia?

  33. 30:5 karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

  34. 36:74 Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan.

  35. 37:172 (yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan.

  36. 39:8 Dan apabila manusia itu ditimpa kemudaratan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudaratan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: "Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka".

  37. 41:16 Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksaan akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan.

  38. 44:41 yaitu hari yang seorang karib tidak dapat memberi manfaat kepada karibnya sedikitpun, dan mereka tidak akan mendapat pertolongan,

  39. 46:17 Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya: "Cis bagi kamu keduanya, apakah kamu (keduanya) memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan, "Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar". Lalu dia berkata: "Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang yang dahulu belaka".

  40. 48:3 dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).

  41. 51:45 Maka mereka sekali-kali tidak dapat bangun dan tidak pula mendapat pertolongan,

  42. 58:22 Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat) -Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.  

  43. 59:12 Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama mereka, dan sesungguhnya jika mereka diperangi; niscaya mereka tiada akan menolongnya; sesungguhnya jika mereka menolongnya niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan.

  44. 61:13 Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.

  45. 110:1 Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.

Kamis, 28 Februari 2013

MENGAPA SAYA MELANJUTKAN PENDIDIKAN


PADA PROGRAM PENDIDIKAN BAHASA?
 
Alhamdulillah pada tahun akademik 2006-2007  saya lulus mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa program S-3 pada Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta. Pada hari Senin, tanggal 4 September 2006 perkulihan semester satu dimulai. Satu dari lima mata kuliah yang diikuti adalah Orientasi Baru dalam Pedagogik, yang diampu oleh Prof. Dr. W.P. Napitupulu. Dalam perkulihan itu saya diminta untuk menuliskan: mengapa saya mengambil program S3 bidang Pendidikan Bahasa?
Inilah jawaban saya waktu itu. 
Bagi saya  menjalani jenjang pendidikan baik secara formal (SD sampai Master) maupun informal dalam kehidupan  sama halnya dengan mendaki dan menikmati jenjang-jenjang kualitas kehidupan. Dari  jenjang dasar ke jenjang berikutnya saya merasakan sumbangan pendidikan itu pada diri saya, keluarga, dan kini untuk peserta didik yang saya asuh. Dengan pendidikan yang lebih baik partisipasi dan sumbangan hidup kita untuk membangun bangsa dan negara lebih berarti dari yang sebelumnya.
Di sisi lain, saya juga merasakan  betapa para guru dan pembina pendidikan itu sangat berjasa  membuang selubung kebodohan saya. Mereka bagai cahaya yang menerangi yang mengusir gelapnya wawasan dalam hidup ini. Saya menyadari dengan pendidikan, cakrawala berpikir makin luas dan mendalam, potensi diri dilejitkan, visi dan misi hidup menjadi terarah, dan terlebih lagi saya menyadari bahwa makin diikuti pendidikan  terasa apa yang dikuasai dan dipahami sekarang belum apa-apanya dihamparan samudra ilmu pengetahuan yang luas.  Dengan pendidikan, saya menjadi arif bahwa “di atas langit masih ada langit” atau di atas tingkatan masih ada tingkatan   dan saya ingin yang di bawah naik ketingkat yang tinggi dan yang tinggi mengayomi dan membimbing pencerahan pendidikan tersebut. Lebih dari itu,  buah dari pendidikan telah mencerahkan jati diri saya secara individual, sosial, dan transedental dengan muara kekaguman saya betapa agungnya pencipta semua ini dan betapa mulianya orang menenuntun kearah itu (pendidik). Sehubungan dengan itu, saya setuju dengan Kattsoff (2004) yang mengatakan, “ kebebasan akali hanya terjadi melalui pendidikan”.
Dengan kenyataan di atas, saya sebagai pendidik menyadari dengan sepenuh kesadaran dan pengalaman  akan  penting dan perlunya peningkatan kualitas pendidikan bagi diri saya, seseorang, keluarga, atau bangsa-bangsa. Hanya dengan meningkatkan kualitas pendidikan, kebodohan, kemiskinan, dan krisis multi dimensi yang melanda kehidupan  dapat diatasi. Dengan pendidikan martabat dan keadaban bisa dibina, ilmu dan teknologi dapat dikembangkan dengan pesat sehingga dengan semua itu kita dapat mensejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini. Dan dengan pendidikan itu juga kehidupan yang damai bisa diciptakan dan keinginan destruktif manusia dengan segala dorongan peneyebabnya dapat dicegah.  Sebaliknya jika tidak begitu, kita tentu seperti mengikuti permainan hidup dengan mata tertutup sedangkan yang diarahkan juga matanya tertutup dan ironisnya  semua pemain sama mengatakan dirinyalah yang benar. Pendidikan menurut saya akan membuka selubung kebodohan dan kepicikan  dengan pemberdayaan individu untuk menata hidup bersama dan untuk perdamaian dunia (world peace).
Sejalan dengan itu, pentingnya pendidikan dan ilmu bagi saya selaras dengan semboyan-semboyan  pendidikan yang sudah sejak dulu diciptakan untuk memotivasi mempelajari ilmu. Ungkapan “pendidikan seumur hidup” (long life education) dari Barat, dan “tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahad” dari ajaran agama, serta “alam terkembang jadi guru” dari ajaran adat, merupakan  ungkapan penyadaran bagi saya betapa pentingnya pendidikan dan penambahan ilmu untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Tambahan lagi ahli hikmah pun berkata, “ jika engkau ingin sukses di dunia tuntutlah ilmu,  jika engkau hendak suskses  di akhirat tuntutlah ilmu, dan jika ingin sukses kedua-duanya tentulah dengan ilmu”. Tuhan memuliakan manusia dari makhluk lain dan diantara sesamanya dengan ilmu. Malaikat disuruh memberi penghormatan kepada Adam karena Adam sudah diajari (dididik) dengan ilmu oleh Tuhan. Selanjutnya, keredahan martabat manusia dari makhluk-Nya yang lain dan sesama manusia karena mengabaikan ilmu. Dan saya yakin dengan janji Tuhan bahwa Dia akan meninggikan derajat orang-orang berilmu beberapa derajat. Dengan semboyan dan prinsip  itu, saya tidak ingin menjadi orang yang hanya ikut-ikutan  mengatakannya tanpa mempraktikkannya.
Jika kita menengok perkembangan yang terjadi dan kemajuan yang dicapai negara-negara di sekeliling kita, kita sungguh malu dengan kenyataan pendidikan di negara tercinta ini. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain untuk dapat mengejar mereka selain membangun sektor pendidikan dengan kesungguhan perjuangan, kesabaran, dan keikhlasan. Dalam hal ini, konsolidasi kemampuan semua pihak sangat diperlukan dan sudah saatnya pendidikan didorong dan dilakukan secara bersama dan holistik. Dalam hal ini, saya sangat beruntung karena orang-orang yang mencintai dan yang saya cintai, ibu dan ayah, istri dan adik-adik selalu mendorong saya. Begitu juga dengan pimpinan dan teman-teman sejawat di Universitas Negeri Padang. Dan teristimewa dorongan dosen Pascasarjana dan sahabat-sahabat  ketika sama S2  di Universitas Negeri Jakarta. Dengan pemikiran dan dorongan itu saya bertekad melanjutkan studi saya ke program S3 yang merupakan tahapan pendidikan formal yang belum saya ikuti.  
Pilihan saya kuliah pada Program Pendidikan Bahasa merupakan pilihan yang didasarkan pada bidang studi yang saya tekuni sejak tingkat sarjana. Saya adalah tamatan Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Padang tahun 1989. Kemudian melanjutkan ke S2 IKIP Jakarta tahun 1992 dan tamat tahun 1995. Dengan pilihan pendidikan bahasa, secara akademis saya konsisten mempelajari  bidang pendidikan bahasa. Dengan demikian saya tentu tidak merambah hutan baru dalam pendidikan saya dan saya harap ini persemaian yang sudah siap menumbuhkan benih ilmu pengetahuan bahasa. Pada saat ini, spesialisasi ilmu dan profesionalisme merupakan tuntutan yang mendasar untuk terjadinya perbaikan dan disadari tidak mungkin semua ilmu bisa dikuasai dan apalagi berpindah-pindah dari satu bidang kebidang lainnya tentu akan memberatkan diri sendiri.
Saya masuk jurusan bahasa bukan karena saya sudah berbakat dalam bidang bahasa.  Malah sebaliknya, saya mempunyai harapan  menjadi seorang yang mampu melakukan kebaikan dengan menggunakan bahasa yang baik. Sejak kecil saya sudah kagum pada kemampuan berbahasa penjual obat keliling yang berpidato di pasar. Saya ingin menggunakan bahasa seperti orator  dengan kutbah-kutbah yang menetramkan jiwa yang gersang atau membakar semangat yang tertatih-tatih dalam deraan kehidupan. Saya salut dengan penulis yang telah menulis berbagai naskah yang menyebabkan ilmu menjadi dapat dipelajari dan tidak hilang ditelan masa. Dan tidak jarang saya lihat pertengkaran dua pihak yang saling menghujat, bertengkar, dan malah berperang akhirnya selesai dimeja perundingan yang ternyata menggunakan kepiawaian orang menggunakan bahasa. Bahasa adalah kekuatan (power) dan  sekaligus wadah dari Tuhan yang memberikan kesempatan bagi kita untuk saling menentukan siapa yang terbaik kemanusiaannya di dunia ini.
Bahasalah yang menunjukkan suatu bangsa, bahasa yang teratur menunjukkan bangsa yang teratur bahasa yang berbelit menunjukan pikiran yang berbelit-belit. Bagaimana dengan bahasa Indonesia (BI), yang telah  berumur 78 tahun, akankah bahasa ini akan menunjukan bangsa kita dalam kejayaannya atau akan menunjukan kesemrautan bangsa. Bahasa Indonesia kita harapkan menjadi kunci gudang ilmu di samping bahasa dunia lainya. Oleh karena itu, pembenahan, pengembangan dan pembinaan BI adalah suatu yang harus dilakukan dari waktu ke waktu. Saya adalah salah seorang yang sudah harus bertanggung jawab terhadap  tugas tersebut dan tidak mungkin tugas itu terlaksana dengan baik tanpa peningkatan pendidikan.
Di samping itu, penyadaran peran bangsa untuk menggunakan bahasa sebaik-baiknya mesti ditingkatkan dalam bentuk aktualisasi keterampilan berbahasa dan aktulisasi pendayaan penggunaan bahasa dalam segala aspek kehidupan untuk menciptakan bangsa yang aktif, produktif, kreatif, dan inovatif. Kenyataan hari ini memang masih jauh dari yang diharapkan. Agaknya benar yang dikatakan orang “bencana besar yang melanda dunia hari ini adalah "orang tidak mau membaca setelah diajari membaca, orang tidak mau menulis setelah tahu cara menulis” dan seterusnya. Untuk membangun semua itu,  saya mendalami pendidikan di Program S3  Pendidikan Bahasa.











Pesan Ane Ahira

----------------------------------
Anne Ahira Newsletter
Think & Succeed!
Jumlah Pembaca:  500,000+
----------------------------------

"Senyum yang hangat adalah bahasa
universal sebuah kebaikan" - William
Arthur Ward
Dear Abdurahman yang murah senyum,
Tersenyumlah, setiap kali Anda
membuka mata di pagi hari.
Tersenyumlah untuk hari baru, harapan
baru dan berkah baru.
Meskipun Anda sedang punya masalah,
Anda selalu punya sejuta alasan untuk
tersenyum. Karena jika Anda hitung,
berkah Tuhan pasti lebih banyak
daripada masalah yang datang kepada
Anda.
Abdurahman tersenyumlah, karena kemana pun
Anda pergi, atau apapun bahasa yang
diucapkan orang, setiap orang di
semua budaya dan negara ini mengerti
dan merespon untuk sebuah bahasa
universal:  senyum... :-)
Senyum menciptakan koneksi dengan
orang yang asing sekali pun, yang
tidak berbicara dalam bahasa kita.
Senyum juga menular. Begitu Anda
tersenyum pada orang lain, ia akan
tersenyum balik kepada Anda.
Abdurahman tersenyumlah, karena senyum Anda
akan merangsang munculnya
hormon-hormon seratonin, dopamine dan
hormon-hormon lainnya yang memberikan
rasa senang dan bahagia kepada Anda.
Senyum Anda juga dapat memperkebal
sistem imun tubuh, mengurangi stress,
menurunkan tekanan darah dan
meningkatkan citra positif Anda.
Abdurahman tersenyumlah, senyum manis Anda
yang akan dikenang orang lain dan
menghibur orang-orang yang Anda
kasihi.
Abdurahman tersenyumlah, karena senyum itu
pun mudah dan gratis :-)


PT. Asian Brain IMC
Jl. Bojong Sereh No.668 Banjaran, Bandung 40376 - INDONESIA
Phone: (022) 5944-999, (022) 5945-999, (022) 5946-999
Fax: (022) 5947-999

Senin, 10 Desember 2012

Terjemahan Surah An-Nahal 125-128


Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan 
bantahlah mereka dengan cara yang baik.
 
Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya 
dan 
Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk 
 (125).
 
Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama 
dengan
 siksaan yang ditimpakan kepadamu.
 Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik 
bagi orang-orang yang sabar 
(126).
 
Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah 
dan 
janganlah kamu bersedih hati 
terhadap (kekafiran) mereka 
dan 
janganlah kamu bersempit dada terhadap 
apa yang mereka tipu dayakan 
(127). 
 
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa 
dan 
orang-orang yang berbuat kebaikan(128).